BPJS Kesehatan Rilis Sampel Data, Begini Kata Sri Mulyani

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Senin 25 Februari 2019 14:24 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 25 481 2022502 bpjs-kesehatan-rilis-sampel-data-begini-kata-sri-mulyani-4VTgUsH11f.jpeg BPJS luncurkan data sampel yang permudah akses bagi masyarakat (Foto: Dimas/Okezone)

Demi meningkatkan kualitas pelayanan dalam menunjang kesejahteraan hidup masyarakat Indoensia, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan terus menyusun berbagai kebijakan, salah satunya program JKN-KIS.

Dengan adanya program JKN-KIS ini, BPJS Kesehatan berupaya memudahkan pengelolaan data dengan menyediakan data sampel yang bisa mewakili seluruh data kepersertaan maupun pelayanan kesehatan. Data inilah yang kemudian dapat digunakan oleh para peneliti dan akademisi untuk membantu memengaruhi kebijakan pemerintah.

“Kami melihat data yang kami miliki adalah aset yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan penelitian dan pengambilan kebijakan yang kredibel berbasis bukti (evidence based policy) dalam penyelenggaraan Program JKN-KIS,” tutur Fachmi Idris, Direktur Utama BPJS Kesehatan, dalam acara Peluncuran Data Sampel BPJS Kesehatan: Penggunaan Big Data dalam Pengembangan Evidence Based Policy JKN, di Jakarta Utara, Senin (25/2/2019).

Sri Mulyani

Lebih lanjut, Fachmi menjelaskan, pengelolaan data sampel sebagai pertimbangan pengambilan kebijakan dalam program jaminan kesehatan bukanlah hal baru di dunia. Misalnya, sebagai penyelenggara jaminan kesehatan Korea Selatan, National Health Insurance Service (NHIS) memiliki NHIS-National Sample Cohort, yang merupakan database data sampel 2% dari total populasi Korea Selatan.

“NHIS-NSC menjadi sumber data sampel yang digunakan untuk mendukung penelitian dan pengambilan kebijakan kesehatan di Korea Selatan, baik oleh akademisi, peneliti, maupun pemerintah,” ungkap Fachmi.

Begitu pula di Taiwan. National Health Insurance Research Database (NHIRD) menjadi sumber data yang powerful bagi pengambil kebijakan dan penelitian kesehatan. NHIRD akan memberikan data set dalam 3 bentuk, yaitu data sampel yang mencakup 2 juta subjek yang dide-identifikasi, dataset penyakit, dan data populasi lengkap.

“Data sampel BPJS Kesehatan merupakan perwakilan dari basis data kepesertaan dan jaminan pelayanan kesehatan sepanjang tahun 2015 dan 2016 yang diambil dengan menggunakan metodologi pengambilan sampel yang melibatkan banyak pihak, termasuk akademisi,” tegas Fachmi.

“Pembentukan data sampel ini dimaksudkan untuk mempermudah akses dan analisis data oleh publik dan dapat dipergunakan dalam proses analisis untuk menghasilkan suatu rekomendasi kebijakan,” timpalnya.

Sri Mulyani

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengapresiasi keputusan BPJS Kesehatan dalam mentransparansi data-data yang mereka miliki. Terlebih di era revolusi industri 4.0.

“Data itu sekarang menjadi sebuah tambang baru. Kenapa? Sekarang kalau ditanya siapa yang paling kaya, sekarang pasti ada kaitannya dengan data dan teknologi,” papar Menteri Sri Mulyani.

Lebih lanjut, Sri menjelaskan, kemampuan suatu negara untuk menganalisa data yang kita miliki adalah suatu nilai tambah baru. Begitupun sebaliknya, jika data sudah tersedia tapi tidak diolah atau dionalisa lebih lanjut, maka akan sia-sia pula.

Contoh paling nyata yang bisa kita lihat secara terang-terangan, adalah munculnya perusahaan-perusahaan unicorn yang masih terbilang baru, tapi sudah banyak mendapat investor. Hal ini membuktikan bahwa semakin hari, semakin banyak orang yang ingin mengetahui suatu data dan mengincar valuasi aset.

“Ini adalah program yang merupakan fondasi untuk Indonesia maju ke depan. BPJS harus mulai membuka diri, agar semua stakeholders tertarik untuk ‘membaca’, dan semoga semua program ini sebagai salah satu inisiatif transparansi yang baik,” tutup Sri Mulyani.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini