nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

China Berhasil Kembangkan Gen 'Manusia Super' Anti HIV/AIDS

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Senin 25 Februari 2019 17:31 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 25 481 2022572 china-berhasil-kembangkan-gen-manusia-super-anti-hiv-aids-tEYBB7mU58.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Para ilmuwan China kembali memicu kontroversi di seluruh dunia setelah proyek rahasia mereka terkuak oleh media. Tahun lalu, negara dengan jumlah populasi terbesar di dunia, berhasil melahirkan bayi kembari hasil rekayasa genetik bernama Lulu dan Nana.

Gen kedua bayi mungil nan menggemaskan ini dimodifikasi di sebuah laboratorium canggih sehingga keduanya akan kebal terhadap beragam penyakit berbahaya, terutama HIV yang merupakan virus penyebab penyakit AIDS.

Namun sayang, eksperimen paling mutakhir ini diklaim memiliki efek samping yang tidak diprediksi sebelumnya yakni, meningkatnya memori dan kemampuan kognitif.

 Baca Juga: Suka Nyuruh-Nyuruh, 6 Zodiak Ini Terkenal Bossy dan Menyebalkan

Penelitian menunjukkan bahwa menghilangkan gen CCR5 pada tikus telah terbukti membuat mereka jauh lebih 'maju' secara intelektual. Alcino J. Silva, seorang neurobiolog di UCLA, menjelaskan kepada MIT Technology Review, "Jawabannya mungkin saja benar, itu memang memengaruhi otak mereka. Interpretasi paling sederhana adalah mutas ini mungkin akan berdampak pada fungsi kognitif pada si kembar".

 

Terlepas dari pernyataan tersebut, para ahli juga menegaskan, diperlukan penelitian bertahun-tahun untuk membuktikan dan melihat perkembangan otak si kembar yang telah ditingkatkan.

 Baca Juga: 280 Anak di Banten Positif Kanker, Gejala Awal Mimisan dan Gusi Berdarah

Tapi, jika eksperimen ini dilakukan, banyak orang mengkhawatir bahwa nantinya banyak negara-negara yang bersaing untuk menciptakan manusia super dengan tingkat potensi kognitif yang tidak wajar.

"Mungkinkah pada satu titik di masa depan, kita dapat meningkatkan IQ di atas rata-rata populasi? Aku tidak akan menjadi ilmuwan jika berkata 'tidak'. Uji coba yang dilakukan pada tikus laboratorium sudah menunjukkan kemajuan," beber Dr. Silva.

"Tapi tikus bukan manusia. Kami hanya tidak tahu apa konsekuensinya jika hal ini diterapkan pada manusia. Kami belum siap untuk itu," tutupnya. Demikian dilansir dari Daily Star, Senin (25/2/2019).

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini