Anak Perempuan Rela Jual Keperawanan, Pengajaran Daya Juangnya Kurang

Tiara Putri, Jurnalis · Selasa 26 Februari 2019 20:45 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 26 196 2023171 anak-perempuan-rela-jual-keperawanan-pengajaran-daya-juangnya-kurang-qmX8fXHzAc.jpg Fenomena remaja jual keperawanan (Foto:Ilustrasi/Ist)


SOSOK perempuan bernama Fela tengah menjadi perbincangan terutama di media sosial. Beredar kabar jika dirinya rela menjual keperawanannya dengan harga Rp19 miliar. Harta yang paling berharga bagi perempuan itu dilelang di sebuah situs asing Cinderella Escort.

Fela mengatakan, dirinya melakukan hal tersebut karena menginginkan kehidupan yang lebih layak. Ia ingin membelikan rumah bagi kedua orangtuanya. Selain itu, ada prinsip yang dipegangnya yaitu daripada memberikan keperawanan kepada pria yang dicintai lalu bisa ditinggal pergi, lebih baik menjualnya dan mendapatkan uang banyak.

Hal yang terjadi pada Fela tentu membuat banyak orang mengelus dada. Terlebih para orangtua yang memiliki anak perempuan. Tak menutup kemungkinan mereka khawatir anaknya terjerumus dengan hal seperti itu. Akan tetapi, sebenarnya tindakan seorang perempuan yang rela menjual keperawanannya bukan hanya sekadar masalah ekonomi. Keputusan itu dapat berkaitan pula dengan pola asuh orang tua.

“Saya melihat banyak sekali anak perempuan yang rela ‘menjual’ tubuhnya untuk mendapatkan uang. Saya ambil contoh kalau saya pergi ke Sulawesi Utara, di sana di suatu desa ada anak-anak remaja perempuan yang setiap hari Jumat sore setelah pulang sekolah pergi ke Kota Manado. Di kota tersebut anak-anak itu menjadi pekerja seks komersial, menjual tubuhnya kepada semua om-om, nanti hari Minggu sore balik lagi,” ungkap psikolog anak dan remaja, Novita Tandry, M.Psych saat dihubungi Okezone melalui sambungan telepon, Selasa (26/2/2019).

Dirinya mengatakan, pekerjaan tersebut dilakukan oleh anak-anak perempuan hanya demi bisa belanja barang-barang fashion yang dibutuhkan seperti kosmetik, pakaian, dan kebutuhan perempuan lainnya. Terlebih sekarang ini anak-anak perempuan sangat konsumtif. Mereka berusaha membeli segala macam yang menjadi tren di media sosial.

“Anak-anak itu, yang masih remaja, ‘kan masih sedang dalam proses pencarian jati diri. Mereka enggak tahu mana yang benar, mana yang tidak. Padahal yang ditampilkan di media sosial mungkin bisa saja fake, tapi bagi anak-anak itu real,” ujar Novita.

Di sisi lain, keputusan anak perempuan untuk menjual keperawanan maupun tubuhnya bisa saja karena tidak mendapatkan nilai-nilai positif kehidupan yang ditanamkan dengan baik sejak kecil oleh orangtua. Tidak ada pendampingan dan pengasuhan dengan baik membuat nilai-nilai positif tersebut tidak terserap oleh otak anak.

“Mereka hanya tahu kalau mau jadi terkenal harus punya barang tertentu yang kekinian supaya dianggap dalam lingkungan dan status sosial. Uangnya darimana? Ya dengan cara apapun. Hal ini juga berkaitan dengan pengajaran daya juang oleh orangtua,” terang Novita.

Anak-anak yang sejak kecil terbiasa dilayani seperti dipakaikan sepatu, disuapi, dan tidak merapikan tempat tidur yang berantakan membuat mereka tidak belajar mengenai daya juang. “Memang hal-hal itu terlihatnya sederhana, tapi dampaknya bisa membuat mereka memilih cara instan untuk mendapatkan banyak uang demi memenuhi keinginannya seperti menjual tubuh,” pungkas Novita.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini