nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Di Tangan Andreas Bimo, Karung Goni Jadi Tas dan Dompet

Tiara Putri, Jurnalis · Rabu 27 Februari 2019 03:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 02 26 612 2023164 di-tangan-andreas-bimo-karung-goni-jadi-tas-dan-dompet-5TFo5O2HUT.jpg Andreas Bimo pengrajin karung goni (Foto:Tiara/Okezone)

BERAWAL dari kegemarannya berjalan-jalan ke pasar tradisional, Andreas Bimo Wijaseno merintis usaha menjadi pengrajin dari karung goni. Dirinya mengubah karung yang biasa digunakan sebagai wadah untuk mengangkut barang menjadi aksesoris seperti tas, dompet, topi, hingga sepatu. Hasil kerajinan itu pun mendapatkan antusias yang cukup baik dari masyarakat.

Kepada Okezone, pria yang akrab dipanggil Bimo itu menceritakan perjalanan bisnisnya yang diberi nama Gunagoni.

“Waktu itu saya jalan-jalan di pasar tradisional, lihat ada tumpukan karung goni bekas di sebuah toko grosir makanan. Lalu saya tanya karungnya dipakai atau tidak, kata pemilik toko tidak, dibuang begitu saja. Tapi dari situ enggak langsung dibuat, karung goninya sempat didiamkan lama di rumah,” tuturnya saat dihubungi lewat sambungan telepon, Selasa (26/2/2019).

Barulah kira-kira lima tahun lalu ayah dua anak itu mulai memproduksi kerajinan dari karung goni. Barang pertama yang dia buat hanyalah kantung yang diberi tali. Bimo mengaku dirinya mendapatkan ide karena pengalaman pribadi.

 

“Waktu saya masuk kuliah sekitar tahun 1992-1993, ‘kan ada ospek tuh suruh bikin tas dari karung goni. Ide awalnya dari situ, dari tas ospek,” terang Bimo.

Sama seperti pengusaha pada umumnya, pria kelahiran 6 Februari 1974 itu sempat tertatih-tatih mengembangkan bisnisnya. “Mulanya tidak ada yang tertarik, saya jual tas di pameran tidak laku, jadi cuma ikut-ikutan jualan saja. Mulai berkembang karena ada teman yang tas goninya rusak terus minta saya betulkan. Saya jajal terus bisa dan mulai diketahui orang dari cerita mulut ke mulut,” ucap Bimo.

Selain itu, ketekunannya mengikuti pameran karena diajak teman membuat barang kerajinannya mulai dilirik para pembeli. Bahkan Bimo juga menaruh produknya di Mirota Batik dan berjualan melalui marketplace. “Dari situ mulai ramai,” imbuhnya.

Meski begitu, Bimo mengatakan bila dia tidak memiliki target tertentu untuk membuat barang kerajinan dari karung goni. Dirinya baru membuat jika timbul keinginan, bila tidak, maka produksinya terhenti sementara. Terlebih, dia hanya dibantu oleh keluarga yaitu istri dan kedua anaknya.

“Kami bagi-bagi tugas. Anak saya yang besar mencuci karung goni karena kotor ‘kan, lalu saya menjahit, istri saya memasang kacing dan aksesoris. Anak saya yang kecil membuat label produk,” tutur Bimo.

Berbicara mengenai menjahit, pria berusia 45 tahun itu ternyata memiliki hobi mengoleksi mesin jahit. Dirinya senang dengan mesin jahit kuno. Kemudian mesin jahit itulah yang digunakan untuk memproduksi barang kerajinan dari karung goni.

Baca Juga:

Dikabarkan Menikah Besok, Intip Lagi Kulineran Manja Inces Syahrini

Dugem dengan Kekasih Vanessa Angel, Pose Nomor 5 Anya Geraldine Bikin Pria Lemas!

“Tapi kalau sekarang mulai pakai mesin jahit yang dinamonya lebih besar. Sebab karung goni ‘kan tebal, jadi kalau pakai mesin jahit yang biasa agak sulit,” ucap Bimo.

Sejauh ini, dikatakan olehnya ia telah membuat ratusan barang kerajinan dari karung goni. Untuk data pastinya, pria asal Yogyakarta itu mengaku tidak tahu karena tidak pernah mencatat. Tapi yang pasti, satu barang kerajinan dijual dengan kisaran harga Rp150 ribu – Rp300 ribu.

 

Untuk model, menurut Bimo, kebanyakan masyarakat menyukai barang-barang kerajinan yang bentuknya sederhana. “Saya juga heran, makin simpel orang malah makin suka. Selain itu, dulu pernah coba terima custom, tapi kok lama-lama repot, jadi sudah tidak lagi,” tambahnya.

Ada satu prinsip yang dipegang oleh Bimo. Dirinya ingin membuat barang kerajinan dari karung goni tapi tidak menyebabkan sampah baru. Dengan demikian dia membuat barang dengan model zero waste. “Dulu memang awalnya saya pakai pola mengikuti yang umum. Tapi ternyata banyak sekali sampah dari hasil potongan pola. Jadi saya sekarang memaksimalkan model barang dari potongan yang ada,” ungkapnya.

Bagi Anda yang tertarik untuk membeli, Anda bisa membelinya secara online. Kunjungi saja akun Instagram @gunagoni bila ingin melihat model kerajinan yang dijual. “Saya tidak membuka toko di rumah, tapi kalau mau datang melihat-lihat juga boleh. Namun tidak ada etalase khusus,” pungkas Bimo.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini