nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Berkaca dari Kasus Fela Melelang Keperawanan, Pola Asuh Orangtua Harus Bagaimana?

Tiara Putri, Jurnalis · Rabu 27 Februari 2019 22:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 02 27 196 2023667 berkaca-dari-kasus-fela-melelang-keperawanan-pola-asuh-orangtua-harus-bagaimana-8wa3gLFtXj.jpg Bagaimana pola asuh yang tepat terhadap kasus ini? (Foto: Huffingtonpost)

KASUS Fela, gadis asal Indonesia yang rela melelang keperawanannya di sebuah situs bukanlah yang pertama kali. Jauh sebelum gadis itu mendapatkan 19 miliar atas keputusannya yang membuat terperangah, sudah banyak perempuan yang lain berlaku demikian. Kebanyakan beralasan faktor ekonomi membuat mereka nekat melakukan hal tersebut.

Akan tetapi, tidak semua perempuan yang ‘menjual’ tubuhnya berasal dari ekonomi bawah. Ada yang melakukannya karena memiliki banyak kebutuhan tapi uang yang ada hanya sedikit sehingga tak mampu memenuhinya. Hal ini diungkapkan oleh psikolog Meity Arianty, STP., M.Psi.

 BACA JUGA : Terdapat Lebih dari 7000 Penyakit Langka, Waspadai Ciri-cirinya

“Biasanya orang-orang memang akan beranggapan perempuan yang menjual dirinya berasal dari keluarga miskin, padahal sebenarnya tidak juga. Contohnya banyak artis atau remaja yang berasal dari keluarga ekonominya mapan atau mampu tetap melakukan (menjual tubuh). Biasanya perempuan yang melakukan hal tersebut karena kebutuhan hidup,” ujarnya saat dihubungi Okezone melalui pesan singkat, Rabu (27/2/2019).

Menurut Meity yang mengacu pada beberapa penelitian, banyak perempuan yang memutuskan untuk menjual tubuh dan menjadi pekerja seks komersial dengan keadaan sadar dan rasional. Mereka rata-rata memiliki tujuan finansial untuk usaha, keluarga, serta kebutuhan hidup seperti sandang, pangan, dan papan.

 

Lantas, bagaimana dengan orangtua perempuan tersebut? Apakah mereka tidak mengetahui keputusan anaknya atau bahkan malah mengizinkan anaknya untuk bertingkah laku demikian?

“Satu hal yang pasti, saya percaya setiap orangtua tidak ada yang mau anaknya menjadi pekerja seks komersial atau menjual tubuhnya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, terutama dengan himpitan ekonomi, hal ini dapat menjadi alternatif bagi sebagian orang untuk bertahan hidup atau mendapatkan keinginannya dengan cara mudah. Malah terkadang ada kasus dimana bukan hanya perempuan itu sendiri yang memutuskan untuk melakukan tindakan tertentu, tapi mereka malah diantar atau dijual oleh orangtua maupun suami,” terang Meity.

Oleh karenanya, Meity menyarankan agar orangtua harus membekali anak dengan pendidikan agama dan moral yang kuat. Kedua pendidikan itu dapat menjadi kontrol dan benteng bagi anak perempuan agar tidak melakukan hal-hal di luar norma yang berlaku. Selain itu, penekanannya adalah orangtua harus menjalin kedekatan dengan anak-anaknya.

 BACA JUGA : Terdapat Lebih dari 7000 Penyakit Langka, Waspadai Ciri-cirinya

“Caranya dengan berkomunikasi, memberikan pemahaman dan rambu-rambu dalam pergaulan, tentang bagaimana harus menjalani kehidupan. Orangtua juga perlu mengajarkan anak bagaimana cara mengontrol diri agar anak-anak tersebut memiliki benteng, pondasi, atau dasar yang kuat dalam menghadapi kehidupan,” pungkas Meity.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini