nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Status Bencana Berdampak Besar Terhadap Jumlah Kunjungan Turis

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Rabu 27 Februari 2019 20:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 02 27 406 2023639 status-bencana-berdampak-besar-terhadap-jumlah-kunjungan-turis-J0tciTvHZp.jpg Travel warning pengaruhi jumlah kunjungan wisatawan (Foto:Ilustrasi/Ist)

INDONESIA  merupakan salah satu negara di dunia yang dikarunia daya tarik alam terindah di dunia. Bahkan, beberapa waktu lalu, situs pemandu perjalanan yang menjadi rekomendasi para traveler dunia khsususnya dari Eropa, memasukkan Indonesia dalam daftar negara terindah di dunia, tepatnya berada di peringkat 6.

Namun, di balik keindahan alam tersebut, posisi Indonesia di peta dunia yang berada di di daerah ‘cincin api’ (ring of fire) menjadi negara yang rentan terkena bencana alam, hingga muncul istilah ‘super market bencana’. Hampir setiap tahun mengalami bencana alam gempa bumi, erupsi maupun tsunami yang kerap kali berdampak pada pariwisata.

Oleh karena itu, program mitigasi bencana dalam meminimalisir dampak pada pariwisata menjadi salah satu program strategis yang tengah digencarkan oleh Kementeri Pariwisata.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, bencana kapan saja bisa terjadi, tidak bisa diprediksi dan relatif tidak bisa dihindari. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana mengatasinya dan bagaimana meminimalisir risiko yang ditimbulkan.

“Kemenpar sudah membuat tim Mitigation Plan dengan menggunakan standar dunia dari UNWTO,” kata Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya dalam diskusi dan sosisalisasi mitigasi bencana bertema ‘Be aware, Beprepare Before Traveling’, di A One Hotel, Jakarta Pusat, Rabu (27/2/2019).

Dalam paparannya, pria asal Banyuwangi itu menjelaskan, disaster atau bencana dampaknya sangat besar bagi dunia pariwisata. Mulai dari bencana alam erupsi, gempa bumi, hingga tsunami yang terjadi dalam dua tahun berturut-turut belakangan ini telah mengganggu target pariwisata nasional.

“Bencana alam membawa impact sangat besar pada pariwisata. Sebagai ilustrasi peristiwa erupsi Gunung Agung Bali pada 2017 memberi dampak hilangnya potensi kunjungan 1 juta wisman dengan pengeluaran sebesar 1 miliar dollar AS karena pengeluaran rata-rata wisman sekitar 1.000 dollar AS per orang perkunjungan,” tutup Arief Yahya.

Lalu, bagaimana seharusnya mitigasi bencana dalam pariwisata? Dalam menangani bencana, baik itu terorisme atau bencana alam yang dapat terjadi kapan saja, Kemenpar telah mempunyai SOP untuk penanganannya yang terbagai dalam tiga tahapan, Tanggap Darurat, Tahap Rehabilitasi (Pemulihan), dan berlanjut pada Tahap Normalisasi (Recovery).

Pada masa tanggap darurat, menurut Arief Yahya, merupakan masa yang sangat rawan terhadap pemberitaan maupun informasi yang salah (hoax) karena kesalahan tersebut membuat trauma bagi wisatawan atau terjadi pembatalan (cancellation).

“Begitu muncul bencana, media gencar memberitakan kemudian diikuti travel advisory dari negara-negara sumber wisman. Bila pemberitaan bencana tersebut cepat dan akurat akan mengurangi dampak negatif pada pariwisata,” ungkap Arief Yahya seraya mengatakan, di sini peran media sangat menentukan terhadap proses penangan wisatawan.

Menpar Arief Yahya menjelaskan, hal yang paling berpengaruh terhadap kunjungan wisman ke wilayah rawan bencana adalah status bencana di daerah tersebut, mulai dari status waspada, siaga, awas, hingga status darurat.

“Begitu pemda menetapkan daerah statusnya ‘darurat’ apa yang terjadi? Di seluruh dunia menerbitkan travel warning atau travel advisor tidak boleh berkunjung ke daerah itu,” tutupnya.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini