nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bukan Ngeteh, Dulu Tradisi Masyarakat Lereng Lawu Karanganyar Itu Ngopi

Agregasi Solopos, Jurnalis · Kamis 28 Februari 2019 17:45 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 02 28 298 2023987 bukan-ngeteh-dulu-tradisi-masyarakat-lereng-lawu-karanganyar-itu-ngopi-jYiXKtdvS8.jpg Tradisi ngopi masyarakat Lereng Lawu (Foto:Ilustrasi/Ist)

INGATAN Rahadi Bayu Pamungkas, 21, menerawang jauh kembali saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Masih lekat dalam ingatan pemilik kedai kopi Pendopo Ngopi yang berada di. Jl Kemuning, Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar ini bagaimana kultur kopi begitu lekat dengan leluhurnya.

“Dulu daerah Kemuning ini selain teh juga banyak penduduk menanam kopi jenis robusta. Kakek saya dulu punya pekarangan rumah yang ditanami kopi juga. Sekarang sudah enggak ada lagi. Beberapa kebun kopi juga diganti tanaman karet,” tutur Bayu, sapaan akrabnya.

Semasa Bayu belia, masyarakat di lereng Gunung Lawu terbiasa menikmati secangkir kopi dari kebun sendiri. Biji kopi yang sudah masak disangrai dengan wajan kreweng berbahan tanah liat. Kakek Bayu punya kebiasaan menyangrai biji kopi bersama kelapa, beras, dan kacang. Sehingga cita rasa Robusta yang cenderung pahit makin kaya dengan bumbu gurih.

“Zaman dulu minum kopi hasil sangrai ditumbuk dan ditubruk begitu saja. Minumnya ditemani ngemil kacang. Terus biasanya sambil menggigit gula merah. Buat mengurangi rasa pahit Robusta,” jelasnya.

Seiring masifnya peredaran kopi dalam kemasan instan, tradisi minum kopi tradisional tersebut perlahan jamak ditinggalkan. Bayu yang kerap kangen kebiasaan masa kecilnya menikmati secangkir kopi bersama mendiang kakeknya pun tergerak mengembalikan kebiasaan minum kopi berkualitas.

Sebagai anak muda kaki Gunung Lawu, jebolan sekolah perhotelan dan kapal pesiar ini sempat menjajal pengalaman menjadi bartender di hotel. Kemudian sewaktu main ke tempat sepupunya di Wonosobo yang kebetulan punya usaha kedai kopi, ia belajar meramu secangkir kopi.

Baca Juga:

6 Gaya Rambut Fenomenal Syahrini, Nomor 5 yang Bikin Reino Barack Kepincut?

Intip Gaya Pedangdut Cupi Cupita si Goyang Basah, Seksinya Kebangetan!

Selama kurang lebih dua bulan pada 2016 lalu, ia mempelajari bisnis kedai kopi termasuk meracik kahwa menjadi aneka minuman. Ia juga bergabung dengan komunitas Karanganyar Coffee Coffee Society yang terdiri atas pemilik kedai, barista alias peracik kopi, dan penikmat kopi.

Selepas itu, Bayu mantab membuka kedainya mandiri. Menempati lokasi di ruang tamu rumahnya, ia menjual kopi seduhan manual. Biji kopi Arabikanya berasal dari kopi Temanggung, Aceh, Wonosobo, Pemalang, Mandhailing, dan Papua. Sementara kopi Robustanya berasal dari Kemuning.

Selama tiga bulan awal berjualan, ia sempat menerapkan sistem bayar suka-suka untuk strategi marketing sekaligus mengetes kemampuan pasar. Beruntung, sebagian pengunjung kedainya yang sudah teredukasi mengapresiasi kopi. Beberapa di antaranya membayar di atas Rp10.000. Strategi itu hingga kini ia pertahankan sebagai promo setiap malam Jumat.

“Apresiasi pengunjung sudah cukup bagus kalau zaman sekarang. Mereka sudah bisa membedakan mana kopi saset. Kalau warga sekitar sini banyak yang perlu pengenalan secara perlahan dan mendalam,” tuturnya.

Edukasi kopi buat penikmat kopi lawas menurut Bayu saat ini mulai dikenalkan metode pengolahan kopi itu tidak melulu giling langsung tubruk saja, melainkan banyak metode lainnya. Karakteristik kopi juga sangat beragam, tidak melulu pahit, tapi juga ada yang manis-asam karena kultur leluhurnya cuma mengajarkan cita rasa kopi hanya pahit.

Secara terpisah, pegiat komunitas Karanganyar Coffee Society sekaligus perintis kedai kopi di Bumi Intanpari, Dofi Meihantoro, mengakui apresiasi kopi di wilayahnya meningkat pesat beberapa tahun terakhir.

“Karanganyar terutama di lereng gunung itu dulu budayanya ngopi, bukan ngeteh,” tutur Dofi, saat ditemui di kedainya Dof Coffee di Jl. Raya Solo-Tawangmangu Km. 11, Papahan, Tasikmadu, Karangayar.

Dofi yang merintis kedainya mandiri pada 2014 menyebut wujud apresiasi tersebut bisa dilihat lewat jamaknya warung dan kedai kopi di Bumi Intanpari. Selain itu, dalam medio setahun terakhir digelar tiga kali festival kopi. “Dulu awal buka, saya masih pemain tunggal. Sekarang sudah ada 14 kedai yang terdaftar, 40% di antaranya di Tawangmangu,” katanya.

Menurut barista yang telah memegang sertifikasi kompetensi sejak 2017 ini, awal membuka kedai kopi masih jamak ditemui orang yang belajar menikmati kopi giling. Ia pernah menemui ada orang datang memesan segelas espresso lantaran kepincut harganya paling murah senilai Rp10.000.

Beberapa di antaranya pun kaget saat mendapati mereka disuguhi kopi hitam dengan gelas takaran mini. Dari situ ia mulai mengedukasi jenis-jenis minuman kopi karena takut pelanggan tidak doyan.

 

Lambat laun ia juga mengenalkan jenis kopi hitam cukup beragam dan teknik sekaligus alat seduhnya juga bermacam-macam. Seiring banyaknya referensi, kini bermunculan penikmat kopi yang terbiasa menongkrong di kedainya sembari membawa pulang biji sangraiannya.

“Awal buka dulu banyak ‘pendekar’ kopi yang minta gramasi, suhu, rasio untuk kejar selera mereka. Makin ke sini mereka ngerti karakter tiap kedai lain-lain. Banyak juga yang belajar. Dari situ orang mulai paham bedanya kopi gunting [saset] dengan kopi giling,” jelas Dofi.

Apresiasi kopi di Bumi Intanpari perlahan juga naik daun, dikatakan Dofi, tak lepas dari terpilihnya kopi Arabika Karanganyar sebagai Juara Harapan II di Lomba Kopi Khas Jawa Tengah 2018 di Jakarta, Mei 2018 lalu (detail kopi selanjutnya lihat grafis).

Dofi bersama rekan komunitasnya mendampingi petani di Jenawi, Karanganyar. Terdapat lahan seluas 2,5 hektare di ketinggian 1.200 mdpl-1.400 mdpl yang ditanami kopi. Ia mulai mengenalkan proses mulai pembibitam, penyiapan lahan, penanaman, sampai pasca panen.

Dengan proses sesuai standar, tanaman kopi yang kini sudah berumur 3,5 tahun yang ia kelola bersama petani di Jenawi kini tingginya mencapai 1,5 meter. Selain itu, harga jualnya juga merangkak naik seiring popularitasnya selepas diadu di kompetisi tahun lalu.

“Untuk harga Arabika Karanganyar kini harga perkilonya sudah tembus Rp125.000/kg. Dulu padahal cuma Rp20.000/kg. Permintaan juga tinggi sekali saat ini padahal kapasitas produksi masih terbatas. Kami juga ingin mengembangkan di daerah lain,” ujar Dofi.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini