nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ada Gempa Hari Ini, Sutopo: Mitigasi di Daerah Pariwisata Masih Minim

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 28 Februari 2019 09:04 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 02 28 406 2023829 ada-gempa-hari-ini-sutopo-mitigasi-di-daerah-pariwisata-masih-minim-JcHMxWgf9m.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PAGI INI gempa bumi tektonik dengan magnitudo 5,6 mengguncang Pasaman, Sumatera Barat, sekitar pukul 06:27 WIB. Menurut BMKG, episentrum gempa terletak pada koordinat 1,4 Lintang Selatan (LS) dan 101,55 Bujur Timur (BT) atau 38 km arah timur laut Pasaman pada kedalaman 10 km.

Bencana alam yang melanda Indonesia dalam beberapa tahun terakhir memang mendapat kritikan. Banyak yang mempertanyakan respons pemerintah, menyangkut kurangnya sistem peringatan serta menyangkut tata ruang di kawasan pesisir pantai, yang notabenenya merupakan daerah wisata.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Pusat Data, Informasi, Dan Hubungan Masyarakat BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengungkapkan bahwa sistem peringatan dan tata ruang di Indonesia memang perlu diperbaiki. Padahal, tren pariwisata di Indonesia diprediksi akan terus meningkat.

Baca Juga: Mengenal Kakak Kandung Reino Barack yang Menikah dengan Sutradara Gareth Evans


“Pariwisata menjadi sumber devisa terbesar di Indonesia, kemudian jumlah wisatawan meningkat drastis. Maka harus dibarengi dengan langkah-langkah mitigasi yang tepat,” ujar Sutopo.

Sutopo mengatakan, bagi daerah yang sudah terlanjur memiliki bangunan dan tata ruang yang rentan terkena bencana bisa memulai dengan membuat rambu-rambu evakuasi.

Caranya, bisa bekerja sama dengan para pengembang dan pelaku wisata. Pada saat seperti inilah, inisiatif masyarakat diperlukan. Sutopo kemudian mencontohkan Bali yang dinilai telah memenuhi beberapa kriteria terkait mitigasi bencana.

“Di Bali, gedung-gedung dan hotel yang ada di daerah rawan tsunami dapat sertifikasi dari BPBD Bali. Sertifikasinya menyangkut apakah tempat tersebut termasuk aman atau tidak untuk ditempati,” jelas dia.

Sementara dari fasilitas tambahan lainnya, Sutopo mengatakan bahwa setiap gedung harus sudah memiliki rambu-rambut evakuasi, tempat berlindung temporer (shelter), dan SDM atau pegawai hotelnya pun harus sudah paham mitigasi bencana.

Baca Juga: 6 Gaya Rambut Fenomenal Syahrini, Nomor 5 yang Bikin Reino Barack Kepincut?

Semuanya harus diperhatikan dan dikembangkan biar bisa memandu para wisatawan yang ada disana. Bisa juga membangun sirine-sirine tsunami yang berbasis komunitas.

Perlu diketahui, sirine tsunami sepanjang pantai di Indonesia hanya ada 52 unit sirine yang dibangun BMKG. Kemudian ada sekitar 300 sirine tsunami yang dibangun pemerintah daerah.

“Kalau para pelaku pengembang wisatawan juga membangun sirine-sirine tsunami berbasis komunitas yang biayanya hanya memakan biaya Rp50-Rp100 juta tentu akan sangat bermanfaat. Sirine itu nantinya akan meneruskan informasi dari BMKG, sehingga nantinya tinggal pencet sirine untuk meningkatkan kewaspadaan wisatawan,” jelas Sutopo.

Selain itu, hotel-hotel yang dikembangkan di garis pantai rawan tsunami hendaknya juga di desain kuat terhadap gempa, dan bagian atasnya harus dirancang untuk dijadikan tempat berlindung sementara (shelter).

“Prinsip evakuasi tsunami bukan lari sejauh-jauhnya tapi lari lah setinggi-tingginya. Oleh karena itu urusan bencana adalah urusan bersama, pemerintah, dunia usaha dan masyarakat,” tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini