nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

40 per 100 Ribu Orang di Indonesia Berisiko Kanker Paru, Kenali Gejalanya

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 28 Februari 2019 17:16 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 02 28 481 2024073 40-per-100-ribu-orang-di-indonesia-berisiko-kanker-paru-kenali-gejalanya-G0Yd6zBDPA.jpg Ilustrasi (Foto: Yourhealth)

Kanker paru semakin mengancam dunia. Data terbaru Globocan 2018 menunjukkan ada 2 juta kasus baru kanker paru di seluruh dunia, dengan kematian mencapai 1,8 juta. Di Indonesia, diperkirakan 40 per 100.000 orang berisiko kanker paru, terutama pria berusia di atas 40 tahun dan perokok aktif.

Mengingat kematian kanker paru sangat tinggi, maka upaya menemukan terapi yang bisa meningkatkan harapan hidup pasien terus dilakukan. Selain tentu upaya pencegahan dengan kampanye anti rokok dan pola gaya hidup sehat.

Data-data di Rumah Sakit Persahabatan, seperti dijelaskan Dr. Sita Andarini SpP(K), Ph.D, dari Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menyebutkan jumlah pasien kanker paru ada kecenderungan meningkat.

 Baca Juga: Rokok Kretek dan Filter, Mana yang Lebih Berbahaya?

“Sepanjang tahun 2010, data dari Poliklinik Onkologi Paru RS Persahabatan tercatat kasus baru hampir 1.500 per tahun, atau sekitar 6 orang per hari. Dan sampai 2018 angkanya terus meningkat, baik pada laki-laki maupun perempuan,” tutur Dr. Sita Andarini, di bilangan Jakarta Pusat, Kamis (28/2/2019).

 

Sita mengatakan, kanker paru menyebabkan 27% kematian yang disebabkan oleh kanker, atau menjadi penyebab ke-5 dari seluruh penyebab kematian di seluruh dunia, dan saat ini naik menjadi peringkat ke-5.

Pada pria, kanker paru menjadi kanker yang paling sering ditemukan setelah kanker prostat dan pada wanita, menduduki peringkat kedua setelah kanker payudara. Namun baik pada wanita maupun pria, kanker paru adalah penyebab kematian nomor satu karena kanker.

“Faktor risiko utama kanker paru adalah rokok. Perokok memiliki risiko kanker paru 13,6 kali lipat lebih besar dibandingkan orang yang tidak merokok. Pada perokok pasif risiko lebih besar 4 kali lipat dibandingkan orang yang tidak pernah terpapar asap rokok,” ungkapnya.

 Baca Juga: Waspada, Pernikahan Sedarah Bisa Sebabkan Penyakit Langka

Definisi kanker paru sendiri menurut Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) adalah kanker yang berasal dari epitel bronkus.

“Jadi bukan penyebaran dari sel kanker di organ lain,” jelas dr. Sita.

Gejala kanker paru yang umum adalah batuk berdarah, suara serak, nyeri dada, dan berat badan turun. Diagnosis kanker paru dibedakan menjadi kanker paru jenis karsinoma sel kecil dan karsinoma bukan sel kecil. Selain itu ada lagi adenokarsinoma. Pembagian jenis kanker paru ini untuk menentukan jenis terapinya.

Diagnosis kanker paru dilakukan dengan serangkaian pemeriksaan fisik maupun laboratorium. Misalnya pemeriksaan dahak, pemeriksaan kelenjar, brokoskopi, dan biopsi paru.

Kanker paru juga dibagi menjadi stadium 1-4. Stadium 1-2A masih bisa diterapi dengan pembedahan, namun untuk stadium 3A ke atas, maka terapinya lebih ke terapi paliatif. Sampai saat ini terapi utama kanker paru adalah pembedahan, kemoterapi, radioterapi dan imunoterapi.

“Kanker yang sudah menyebar ke organ lain, tidak mungkin dibedah sehingga pengobatannya biasanya dengan kemoterapi, atau terapi target,” tutup dr. Sita.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini