nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cerita Raden Sirait Raih Penghargaan karena Memadukan Kain Tradisional Dalam Fashion Kekinian

Tiara Putri, Jurnalis · Jum'at 01 Maret 2019 12:26 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 01 194 2024408 cerita-raden-sirait-raih-penghargaan-karena-memadukan-kain-tradisional-dalam-fashion-kekinian-2taBymbFob.jpg Raden Sirait Desainer Indonesia (Foto: Tiara/Okezone)

NAMA Raden Sirait mungkin belum terlalu familiar di kalangan pencinta mode. Tapi karyanya bisa jadi telah dikenakan banyak orang. Ya, dirinya memiliki brand bernama LUIRE yang memproduksi busana muslim dan pakaian wanita.

Ada ciri khas dari setiap produk yang dikeluarkannya. Raden selalu menambah unsur Indonesia di desain produk yang ia buat. Jadi, produknya tidak hanya menggunakan bahan kain yang biasa dipilih untuk pakaian-pakaian internasional melainkan juga kain tradisional seperti batik, tenun ikat, dan songket.

"Dengan adanya ciri Indonesia penjualannya jadi bagus sekali, sangat menakjubkan. Selain itu, permintaan produk batik sekarang ini sedang meningkat. Tapi produknya yang tidak monoton," ujar Raden saat ditemui Okezone dalam acara konferensi pers '29th Anniversary SOGO Department Store, Kamis, 28 Februari 2019 di Jakarta.

 BACA JUGA : Es Krim Rasa Permen Susu Kelinci ala Generasi 90-an Hebohkan Dunia Maya

Dalam acara tersebut, Raden menerima anugerah SOGO Kreatif Awards. Koleksi yang dikeluarkannya dianggap terus berinovasi, baik dari segi desain maupun bisnis, sehingga dapat berkembang dan menciptakan produk - produk baru dengan sentuhan budaya Tanah Air. Kreativitas itu turut berpengaruh terhadap peningkatan penjualan dan pendapatan.

 

"Jadi saya akan gunakan 1/4, 1/2, atau 3/4 bahan dari batik sedangkan yang lainnya bahan biasa. Hal ini yang disukai customer dan dari Lebaran tahun kemarin sudah kelihatan produk batik saya semakin populer," tutur Raden.

Menurut pria asal Sumatera itu, ia membuat produk dengan desain yang tidak ribet sehingga proses produksinya juga lebih mudah. Meskipun desainnya sederhana, namun ketika produk itu dikenakan oleh customer tetap terlihat cantik.

"Mereka juga jadi memakainya gampang sekali. Contohnya yang tadinya saya menggunakan tiga kancing jadi satu kancing. Itu yang kemudian membuat customer senang lalu pada beli," ungkap Raden.

Sejak menekuni dunia mode dari tahun 1995, brand miliknya terus mengalami kemajuan. Produknya paling tidak sudah dijual di 15 cabang store perusahaan ritel. Selain itu, mengikuti perkembangan zaman, Raden juga mulai berjualan secara online dengan memasukkan produknya ke situs e-commerce.

"Tentu tantangan keduanya berbeda. Kalau offline store stok harus dikelola dengan baik, mengecek mana yang laku, man yang tidak dan harus benar-benar mengenali kesukaan customer karena mereka bisa langsung memegang, mencoba, dan memilih produk. Kalau misalnya online karena customer tidak bisa melihat langsung, maka foto produk yang dijual harus bagus," jelas Raden.

 

Tantangan lainnya adalah di offline store dirinya harus rajin memutar produk ke berbagai cabang store. Sebab bisa jadi di cabang store A tidak laku tapi di cabang store B malah laku. Sedangkan kalau online Raden harus siap apabila customer meminta return karena merasa tidak puas dengan produk yang dibeli.

"Kalau di offline store jarang sekali yang return karena 'kan pasti customer memilih yang mereka suka. Itu sih tantangannya," tambah Raden.

Dirinya mengatakan jika pendapatan yang ia terima sejauh ini masih lebih tinggi dari penjualan di offline store. Meskipun industri ritel sempat dikatakan mengalami penurunan karena harus berhadapan dengan e-commerce.

"Memang benar, kita tidak bisa menutup mata dengan hal tersebut. Tapi buat saya, pendapatan masih lebih banyak dari offline store. Namun 'kan kita tidak tahu kedepannya bagaimana karena adanya perkembangan, jadi coba dimaksimalkan saja dua-duanya," pungkas Raden.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini