nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perempuan Makhluk yang Rumit dan Sulit Dimengerti, Benarkah?

Helmi Ade Saputra, Jurnalis · Jum'at 01 Maret 2019 18:30 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 03 01 196 2024526 perempuan-makhluk-yang-rumit-dan-sulit-dimengerti-benarkah-Pukc6RJL6N.jpg Mengenal karakter perempuan (Foto: Thegreatcoursedaily)

Banyak orang menganggap bahwa perempuan adalah makhluk yang rumit dan sulit dimengerti. Sehingga, sulit memahami isi hatinya dan apa yang dia inginkan. Benarkah demikian?

Perempuan seperti baling-baling kipas

“Tidak,” tegas Tiara Sari, penulis asal Pariaman-Padang ini. Perempuan 26 tahun ini baru menerbitkan buku kumpulan cerpen yang bertemakan perempuan, yaitu Perempuan-Perempuan Perawat Kenangan. Dalam bukunya, ia akan mengajak orang-orang untuk lebih mengenali perempuan. Jika selama ini kamu mengenal perempuan dari nama, wajah, suara, atau kebiasaan-kebiasaannya, artinya kamu belum mengenal perempuan.

“Perempuan seperti baling-baling kipas. Jangan menghitungnya saat ia tengah berputar cepat. Tapi tunggulah saat baling-baling itu berhenti. Nah, dengan adanya buku ini, saya ingin orang-orang bisa melihat lebih dalam sosok perempuan. Karena buku ini berisi perihal yang tak tercatat dari perempuan yang sering luput, sehingga dianggap rumit, ” katanya.

Cara komunikasi yang berbeda

Naomi Ernawati Lestari, M.Psi, psikolog dari Klinik LightHOUSE Indonesia, menjelaskan, anggapan bahwa perempuan adalah mahkluk yang rumit dan sulit dimengerti, mungkin karena yang melihat dari sisi laki-laki.

“Menurut penelitian Paul Costa, Robert McCrae, dan Antonio Terracciano yang melibatkan 23.000 laki-laki dan perempuan dari 26 budaya, termasuk di Hong Kong, Amerika, India, dan Rusia.

Perempuan menyebutkan diri mereka sendiri sebagai orang yang lebih hangat, lebih ramah, namun lebih cemas dan sensitif terhadap perasaan mereka daripada laki-laki. Sementara laki-laki menyebutkan bahwa mereka lebih asertif dan terbuka pada ide baru,” urainya.

Penelitian lain yang dilakukan oleh McCrae dan teman-temannya, menemukan hasil yang mirip dari 12.000 orang dari 55 budaya yang berbeda. Kalau sebelumnya mereka diminta untuk rating diri mereka sendiri, kali ini mereka diminta untuk me-rating laki-laki atau perempuan yang mereka tahu dengan jelas. “Hasilnya tidak jauh berbeda dengan yang di atas,” kata Naomi.

Perempuan

Sebuah penelitian tahun 2013 mengenai perbedaan temperamen laki-laki dan perempuan dari 357 pasang anak kembar. Laki-laki digambarkan sebagai lebih aktif daripada perempuan. Sementara perempuan digambarkan lebih pemalu dan memiliki kontrol terhadap perhatian dan perilaku mereka.

Perbedaan emosi, cara pandang, penyelesaian masalah, dari perempuan dan laki-laki menyebabkan laki-laki memandang perempuan lebih rumit karena mereka lebih banyak mempergunakan sisi emosional mereka dibandingkan sisi rasional.

Sementara, kata Naomi, laki-laki lebih melihat sisi rasional, sehingga emosional dikesampingkan. Hal inilah yang membuat perempuan mempunyai lebih banyak pertimbangan sehingga laki-laki merasa perempuan lebih rumit.

“Anggapan tersebut mungkin muncul karena seringkali pria sulit mengerti apa yang sebenarnya diinginkan perempuan. Banyak akhirnya masalah dan kesalahpahaman timbul di antara laki-laki dan perempuan karena perbedaan cara berkomunikasi,” katanya.

Laki-laki berkomunikasi dengan cara yang spesifik. Mereka melihat sesuatunya lebih harafiah daripada perempuan karena mereka berkomunikasi dari kepalanya, menggunakan pikiran dan logika. Perempuan bisa berkomunikasi seperti ini juga, tapi mereka mengembangkan cara berkomunikasi lainnya, yang menggunakan emosi dan perasaan untuk mengekspresikan pengalaman mereka.

“Jadilah karena cara berkomunikasinya berbeda, sering terjadi salah paham dan akhirnya perempuan dianggap rumit. Mengapa? Karena mereka seringkali tidak mengomunikasikan apa yang sebenarnya ingin mereka katakan dan berharap pria langsung mampu menangkap apa yang mereka maksud.” Jelas Naomi

Angkat masalah sosial perempuan

Senada dengan penjelasan di atas, Tiara menyebut bahwa buku kumpulan cerita pendeknya juga mengungkap tentang sisi emosional yang dimiliki perempuan — khususnya bagaimana memperlakukan kenangan — tapi urung ditunjukkan karena perempuan “pandai” menjaga perilakunya.

“Sebenarnya ide dari buku ini berasal dari keresahan saya sebagai perempuan. Lalu akhirnya saya salurkan jadi cerita pendek. Begitu banyak realita yang dihadapi perempuan, tapi jarang yang bisa melihat dari sudut pandangnya. Ya, cerpen-cerpen ini bermulai dari sana,” tambah Tiara.

Menanggapi hali itu, Naomi berkata, “ Yang perlu diluruskan agar anggapan bahwa perempuan itu rumit adalah ingatlah bahwa pada dasarnya struktur otak dan cara berkomunikasi perempuan itu berbeda dengan laki-laki. Agar komunikasinya bisa efektif dan dapat menyampaikan maksud yang diinginkan dengan jelas perlu komunikasi yang efektif.”

Perempuan

Untuk laki-laki, tambah Naomi, coba pahami apa yang tersirat dari kata-kata yang diutarakan oleh perempuan. Belajar untuk tidak melihat segala sesuatu secara harafiah saja, tapi lihat apa yang tersirat. Hal ini bisa dilakukan kalau emosi kita sudah terhubung sehingga semakin lama kemampuan kita memahami lebih baik.

“Hal yang sulit adalah karena pria diajarkan untuk menarik emosinya dan tidak terlalu memperlihatkannya. Sehingga memahami emosi orang lain akan sulit bagi mereka. Padahal perempuan itu berkomunikasi melalui emosi,” papar Naomi

Ketika kita bisa belajar arti sebenarnya dari apa yang dikatakan, kita bisa mulai percakapan yang lebih berarti. “Sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dan frustasi dalam mengahadapi perempuan,” jelas Naomi.

“Jadi, sesungguhnya, perempuan itu sederhana, sangat sederhana. Asal kamu mampu mengenal hatinya, kamu akan tahu bahwa keinginan-keinginannya tidak pernah rumit. Kamu bisa melihat di dalam cerpen “Ruth”. Cerpen ini bercerita tentang seorang perempuan yang melakukan perjalanan dengan putrinya demi mengulang sebuah kenangan. Kamu akan menyaksikan betapa seorang perempuan begitu cerdas dalam memperlakukan kenangan,” kata perempuan yang kini tinggal di Depok- Jawa Barat.

Terpenting, semua isi dari cerpen ini memotret realitas kehidupan. Kamu tidak hanya disajikan sebuah cerita yang isinya diperankan tokoh perempuan, tapi juga mengangkat masalah sosial di sini. Akan ada nilai-nilai yang akan mengubah pemikiran kamu begitu selesai menutup buku ini. Ditambah kamu akan dibuat terlena bahkan merana dengan gaya penceritaan serta pilihan kata penulis yang memikat.

Lebih dalam, kata Tiara Sari, lewat buku ini kamu akan tahu betapa setiap perempuan akan menjadi rumah yang akan membuatmu merasa sempurna — hanya bila kamu betul-betul mengenalnya.

“Sudahkah kamu mengenal perempuan? Mengenal hatinya, bukan wajahnya. Jika kamu ingin memulai, kamu bisa memulainya dari Perempuan-Perempuan Perawat Kenangan ini” pungkasnya.  

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini