nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bingung Akhir Pekan Liburan ke Mana, Kunjungi Museum Multatuli Yuk

Rasyid Ridho , Jurnalis · Sabtu 02 Maret 2019 14:40 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 03 02 406 2024925 bingung-akhir-pekan-liburan-ke-mana-kunjungi-museum-multatuli-yuk-cL4ZAZcjFi.jpg Museum Multatuli di Lebak (Foto:Rasyid/Sindo)

MUSEUM Multatuli di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten menjadi museum yang mengabarkan pergerakan antikolonial pertama di Indonesia. Museum ini cocok untuk tujuan berlibur akhir pekan kalian..

Museum Multatuli berdiri sebagai wahana pembelajaran sejarah bagi masyarakat, sarana rekreasi sejarah yang mudah aksesnya, dekat ibukota dan pastinya gratis.

Di Museum Multatuli ada 34 artefak asli maupun replika Eduard Douwes Dekker ditampilkan, di dalam museum memiliki tujuh ruang pamer. Setiap ruangan mewakili periode di dalam sejarah kolonialisme.

 

Ruang pertama merangkap sebagai lobi dengan hiasan wajah Multatuli terbuat dari kepingan kaca serta kalimat kutipan Multatuli yang tenar: “Tugas Seorang Manusia Adalah Menjadi Manusia”.

B aca Juga:

Intip Penampilan Luna Maya Pakai Swimsuit yang Bikin Gagal Fokus

Beredar Undangan After Party Pernikahan Syahrini dan Reino Barack, Seperti Apa?

Ruang kedua mengisahkan masa awal kedatangan penjelajah Eropa ke Nusantara. Ketiga, tentang periode tanam paksa dengan fokus budidaya kopi. Keempat, ruang Multatuli dan pengaruhnya kepada para tokoh gerakan kemerdekaan.

Kelima, menceritakan gerakan perlawanan rakyat Banten dan kemudian gerakan pembebasan Indonesia dari penjajah Belanda.

Keenam, terdiri dari rangkaian kronologis peristiwa penting di Lebak dan era purbakala. Ketujuh, terdiri dari foto mereka yang pernah lahir, menetap serta terinspirasi dari Lebak.

Beberapa barang asli yang dipamerkan dibungkus dalam kotak kaca, seperti novel Max Havelaar edisi pertama dalam bahasa Prancis, peta Lebak terbitan pertama, biografi Eduard Douwes Dekker, hingga buku zaman Kerajaan Belanda.

Di dalamnya pun memperlihatkan tentang potensi Lebak, kisah tentang suku Baduy, hingga kisah tentang tambang emas Cikotok yang terbesar pertama di Indonesia.

Di area luar museum juga dipajang patung perunggu Eduard Douwes Dekker karya Dolorosa Sinaga yang menjadi spot foto selfie favorit wisatawan.

 

Kepala Seksi Cagar Budaya dan Permuseuman Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak Ubaidillah Muktar mengatakan, pada akhir pekan museum Multatuli dibuka dari pukul 09.00 sampai 16.00 WIB.

"Pada akhir pekan tetap buka dari pagi sampai sore, dan untuk wisatawan yang akan masuk ke Museum Multatuli tidak dipungut biaya atau gratis," kata Ubai saat berbincang dengan SINDOnews.com

Menurutnya, akses dari Ibu Kota Jakarta menuju museum Multatuli sangatlah mudah dengan menggunakan moda transportasi KRL jurusan Tanah Abang-Rangkasbitung hanya memakan waktu sekitar 1 Jam, kemudian turun di stasiun Rangkasbitung

Setibanya di Stasiun Rangkasbitung, kita bisa menggunakan transportasi ojek pangkalan yang selalu menawarkan jasanya ketika keluar dari stasiun, atau juga bisa menggunakan jasa angkutan umum dengan tujuan alun-alun Rangkasbitung

Meskipun dikenal sebagai daerah tertinggal, saat ini di Lebak sudah ada jasa ojek online dan bisa menjadi pilihan Anda menuju mesum Multatuli di Jl. Alun-Alun Timur No. 8 Rangkasbitung, Kabupaten Lebak.  "Mudah banget(aksesnya), dari Stasiun bisa Naik ojeg, angkot. Atau jalan kaki sekitar 1.3 kilometer," ujarnya.

Cucu proklamator RI Mohammad Hatta, Gustika Jusuf Kalla pun memuji Museum Multatuli. Dia menilai bangunan Museum Multatuli di Lebak lebih bagus dan terawat dibandingkan di negara Belanda.

"Museum multatuli di Indonesia lebih bagus dibanding Multatuli di Belanda. Di sini lebih besar ada perpustakaan dan terlihat lebih terawat," ujar Gustika saat menghadiri acara Setahun Musem beberapa waktu lalu.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini