nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Intervensi Stunting dari Pembatasan Pernikahan Dini, Ampuhkah?

Dewi Kania, Jurnalis · Sabtu 02 Maret 2019 13:28 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 03 02 481 2024857 intervensi-stunting-dari-pembatasan-pernikahan-dini-ampuhkah-VRBxUDSeu3.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

MASALAH stunting memang masih menjadi pekerjaan Rumah pemerintah yang belum usai. Saat ini, masih banyak anak-anak Indonesia mengalami stunting.

Karenanya, dalam kunjungan kerjanya ke Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Puan Maharani mengatakan, sejak dini stunting diintervensi dengan perbaikan gizi. Penguatannya pada momen 1.000 Hari Pertama Kehidupan, yang harus dilakukan kaum ibu.

"Masalah stunting ini bukan pasca, tapi sebelumnya. 1.000 HPK ini penting. Intervensinya lewat Kementerian Kesehatan, bagaimana edukasi pola hidup sehat para ibu kita lakukan," ucap Menko Puan, di sela Peringatan Hari Gizi Nasional 2019 di Alun-Alun Klaten, Jawa Tengah.

Baca Juga: 6 Gaya Rambut Fenomenal Syahrini, Nomor 5 yang Bikin Reino Barack Kepincut?

Pada momen 1.000 HPK, lanjut Menko Puan, merupakan periode sensitif yang menentukan kualitas hidup di masa yang akan datang. Karena akibat kegagalan asupan gizi yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini, akan bersifat permanen dan tidak bisa dikoreksi. Banyak contohnya, seperti stunting, kecerdasan tidak optimal, dan lain sebagainya.

Oleh karenanya, sambung Menko Puan, melalui program intervensi, pemerintah memastikan agar pada periode tersebut. Mulai dari calon ibu, ibu hamil, dan bayi harus mendapatkan seluruh kebutuhan gizi agar hasilnya sempurna.

Data stunting berdasarkan Riskesdas 2018 dengan proporsi status gizi sangat pendek dan pendek pada balita Indonesia, berada di angka 30,8%. Kebanyakan, status gizi sangat pendek dan pendek ini menimbulkan masalah stunting, yakni masalah gizi kronis dengan indikasi tinggi badan tidak optimal.

Baca Juga: Momen Ariel Noah Liburan, Foto Terakhir Bikin Perempuan Cenat Cenut

Dia menuturkan, pemerintah sudah lama mengintervensi stunting sampai jumlah prevalensinya menurun. Targetnya bahkan dilakukan di semua wilayah. "Kita sudah intervensi stunting dengan dana desa. Targetnya tidak cuma di Klaten, tapi di wilayah lain," tambahnya.

Masalah gizi, sebut Menko Puan, pada hakikatnya adalah masalah kesehatan masyarakat dan penyebabnya multifaktor. Masyarakat mesti diedukasi mengenai makanan bergizi yang wajib dikonsumsi setiap hari.

Masyarakat harus tahu bahwa makanan bergizi tidak harus mahal. Masyarakat harus sadar gizi karena jadi landasan membangun keluarga sehat, cerdas dan produkif," tuturnya.

Selain gizi, pembatasan pernikahan dini juga harus dilakukan oleh generasi remaja. Sebabnya, kaum remaja yang belum siap menikah, kemudian hamil bisa melahirkan anak stunting.

Pernikahan dini, tegas Menko Puan, dilarang untuk anak perempuan. Kalau mau menikah, harus siap secara jasmani dan rohani. Karena itu, kalangan anak remaja wajib diberikan edukasi. Penting juga dirinya menjaga menyatakan keinginannya untuk tidak menikah dini.

"Baiknya pernikahan dini tidak terjadi dan menjaga pola hidup mereka sebagai generasi bangsa denan baik dan benar, menyelesaikan pendidikannya dan barulah siap menikah," tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini