nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jangan Terkecoh, Tampilan Makanan Cepat Saji Kini Semakin Sehat

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 05 Maret 2019 04:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 03 04 298 2025733 jangan-terkecoh-tampilan-makanan-cepat-saji-kini-semakin-sehat-CG7zQ5Lvaj.jpg Tampilan makanan cepat saji semakin sehat (Foto: Nypost)

Berhenti menipu diri sendiri. Anda pasti sudah paham betul bahwa makanan cepat saji cenderung tidak sehat untuk dikonsumsi. Ya, meski belakangan tampilannya menjadi terlihat lebih menyehatkan, ditambah lagi dengan munculnya berbagai menu makanan sehat seperti salad dan olahan buah apel, makanan ini tetap saja tidak diunjurkan bagi mereka yang ingin memiliki berat badan ideal.

Sebuah analisis terbaru menyebutkan bahwa selama 30 tahun terakhir, kualitas 10 perusahaan makanan cepat saji paling populer seperti McDonald's dan Burger King, semakin memburuk. Terlebih saat mereka mulai mempromosikan menu-menu diet yang diklaim rendah kalori, natrium, dan porsinya telah disesuaikan.

Penemuan ini pertama kali diterbitkan dalam Journal of Academy of Nutrition and Dietetics, dan merupakan kabar buruk bagi lebih dari 37% orang dewasa yang diketahui rutin menyantap makanan cepat saji. Bayangkan saja, 1 porsi makanan cepat saji dan makanan pendamping mengandung sekitar 767 kalori. Jumlah tersebut hampir menyentuh 40% dari kalori yang dibutuhkan oleh tubuh setiap harinya yakni, 2000 kalori.

makanan cepat saji

Kabar buruknya, kandungan kalori itu belum termasuk soda yang dapat menambah asupan kalori secara drastis, sekaligus meningkatkan risiko penyakit jantung.

Tidak hanya itu, makanan penutup juga dianggap sebagai salah satu jenis makanan terburuk karena kandungan kalorinya meningkatkan hingga 62 kalori per dekade. Peningkatan jumlah kalori juga dialami makanan pembuka yang menggelembung hingga 30 kalori per dekade.

Para peneliti juga mengatakan bahwa ukuran atau porsi makanan cepat saji terus meningkat sekitar 13 gram untuk hidangan utama, dan 24 gram untuk makanan penutup.

Di samping itu, kasus obesitas pun juga semakin memprihatinkan dengan peningkatan yang sangat signifikan. Hampir seperempat atau 22% orang di dunia diprediksi akan mengalami obesitas pada tahun 2045. Menurut hasil penelitian sebuah perusahaan kesehatan asal Denmark, Novo Nordisk, angka ini naik 14% dari tahun 2017.

Tentu saja tren diet keto yang tengah berkembang di tengah masyarakat, membuat sebagian orang semakin percaya diri untuk mengonsumsi sayap ayam dan hidangan yang diolah melalui proses penggorengan lainnya. Padahal, obesitas menjadi salah satu penyakit kronis yang juga menjadi penyebab utama kematian di Amerika Serikat.

Selidik punya selidik, bukan hanya perusahaan makanan cepat saji saja yang menjual ilusi kesehatan, sebuah penelitian yang diterbitkan awal bulan ini menemukan bahwa ketika daftar menu ditulis dengan tangan, pengunjung merasa bahwa makanan tersebut lebih sehat. Padahal, makanan itu juga mengandung jumlah kalori yang sama dengan menu yang tidak ditulis dengan tangan. Demikian dilansir Okezone dari New York Post, Senin (4/3/2019).

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini