nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

30% Pernah Alami Kekerasan, Perempuan Indonesia Diharapkan Berani Angkat Suara

Dewi Kania, Jurnalis · Selasa 05 Maret 2019 20:35 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 03 05 196 2026217 30-pernah-alami-kekerasan-perempuan-indonesia-diharapkan-berani-angkat-suara-u0FpHUNKL7.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

JARGON bahwa perempuan seharusnya menjadi sosok yang dilindungi nampaknya masih jauh panggang dari api. Masih banyak perempuan mendapatkan tindakan kekerasan, yang jelas merugikan dirinya.

Meski eranya sudah maju, tapi perempuan malah banyak yang jadi korban tindakan kekerasan. Tak hanya dalam lingkup keluarga, di tempat kerja atau ruang publik pun masih kerap terjadi.

Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tahun 2018 disebutkan bahwa lebih dari 7.000 perempuan di Indonesia mengalami tindakan kekerasan. Bahkan 1 dari 3 perempuan selalu mengalami kekerasan dalam kurun waktunya.

Baca Juga: Momen Ariel Noah Liburan, Foto Terakhir Bikin Perempuan Cenat-Cenut

"Di tahun 2018 tindakan kekerasan paling banyak adalah kekerasan seksual, kekerasan rumah tangga, ranah umum, permasalahan pekerjaan imigran Indonesia di luar negeri, sampai pelecehan seksual. Artinya hak asasi perempuan belum terpenuhi," kata Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan KPPPA Prof Vennetia Danes ditemui di sela acara Rakornas PPPA 2019 di kawasan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (5/3/2019).

Menurut Prof Vennetia, kasus hubungan sedarah alias incest (inses) jumlahnya pun mengalami peningkatan namun, butuh penanganan khusus supaya angka korban tidak bertambah.

Dia menambahkan, kaum perempuan paling tidak diedukasi untuk berani lapor jika mengalami tindakan kekerasan. Siapa pun harus lebih peduli demi memenuhi hak asasi perempuan.

Baca Juga: 6 Daftar Turis Terburuk di Dunia, Nomor 1 Tidak Heran

"Masyarakat harus lebih peduli, jadi enggak cuma pemerintah. Kita akan kaget kalau jumlah kekerasan ini tinggi. Fenomena seperti gunung es, jadi kalau mengalami tindakan kekerasan lebih berani melaporkan ke kami," tuturnya.

Langkah tersebut, menurut Vennetia, sangat dinilai efektif memberantas tindakan kekerasan pada perempuan. Selanjutnya, pemerintah juga akan membantu mengatur strategi penanganan atau menghilangkan rasa trauma kepada para korbannya.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini