nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Segar, Minuman dari Sirup Bunga Kecombrang

Demon Fajri, Jurnalis · Rabu 06 Maret 2019 17:15 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 03 06 298 2026666 segar-minuman-dari-sirup-bunga-kecombrang-I0uvtnHdU7.jpg Minuman dari bunga kecombrang (Foto:Ilustrasi/Ist)

KECOMBRANG atau honje bukanlah bumbu masak baru. Tumbuhan sejenis rempah ini tidak hanya dapat dijadikan lauk makanan, bumbu dapur dan obat tradisonal. Namun, kecombrang dengan nama latin Etlingera Elatior yang tumbuhan berbentuk bunga ini bisa dimanfaatkan sebagai sari minuman dan sirup segar dan menyehatnya.

Di Provinsi Bengkulu, kecombrang disebut unji. Bahan sayuran sebagai rebusan lalapan atau bumbu rempah serta penambah nafsu makan ini memiliki rasa dan aroma yang unik. Tumbuhan ini terlihat seperti pohon pisang-pisangan dengan daun yang memanjang.

Batangnya kokoh bisa tumbuh hingga tinggi 5 meter. Tumbuhan yang memiliki bunga ini mengeluarkan aroma segar dan rasa khas yang harum tumbuh subur di kawasan taman nasional kerinci sebalat (TNKS) dan areal pemukiman penduduk di Bengkulu. Di Kabupaten Rejang Lebong, misalnya.

Wilayah ini dikelilingi perbukitan, menyimpan berbagai kekayaan alam hayati. Termasuk, unji. Bunga yang memiliki bentuk memanjang dengan ukuran cukup besar ini dimanfaatkan ''emak-emak'' untuk diolah sebagai sari minuman yang memiliki nilai ekonomis.

Baca Juga:

Jokowi Beri Putri Denada Buah Naga Kuning, Harganya Fantastis!

6 Daftar Turis Terburuk di Dunia, Nomor 1 Tidak Heran

Emak-emak di desa Pal VIII Kecamatan Bermani Ulu Raya Kabupaten Rejang Lebong, persisnya. Mereka tergabung dalam Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL) Maju Bersama. Sari kecombrang olahan dari tangan terampil emak-emak itu dijual seharga Rp5 ribu per 200 milli.

Olahan sari minuman segar dari bunga dengan rasa asam mirip jeruk lemon, pedas jahe dan aroma harum serai ini diambil dari kawasan objek wisata, Hutan Mahoni, Damar dan Pinus (MaDaPi). Mereka memanfaatkan kecombrang atau 'ginger troch' ini sebagai bahan baku utama untuk sari minuman.

 

Proses pembuatan sari minuman kecombrang pun tergolong mudah. Di mana emak-emak di desa Pal VIII memetik bunga yang masih kincup dan berwarna merah muda atau tunas muda kecombrang. Tunas muda itu diolah sedemikian rupa serta diracik sehingga menghasilkan sari minuman segar dan menyehatnya.

''Setengah kilo tunas muda unji dapat menghasilkan empat gelas sari kecombrang atau setara dengan satu liter,'' kata Ketua Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL) Maju Bersama, desa Pal VIII Kecamatan Ulu Raya Kabupaten Rejang Lebong, Rita Wati, Selasa 5 Maret 2019.

Olahan sari minuman dari bahan baku unji itu, kata Rita, sudah digeluti emak-emak di desa setempat sejak enam bulan terakhir. Namun, olahan sari kecombrang tersebut belum di produksi secara massal. Meskipun demikian, sari kecombrang sudah beredar di daerah desa setempat dengan harga terjangkau.

''Olahan sari kecombrang yang kami buat sudah bisa langsung di minum. Sari kecombrang yang kami olah belum di produksi massal. Baru sebatas desa. Olahan sari kecombang hanya mampu bertahan selama empat hari. Setelah empat hari sudah kadaluarsa,'' jelas Rita.

 

Tumbuhan rempah cegah kanker serviks

Selain memiliki nilai ekonomis. Unji memiliki manfaat bagi kesehatan. Kanker serviks, contohnya. Konon, kecombrang mampu membantu melawan sel kanker secara alami. Berdasarkan penelitian, di dalam unji terdapat kandungan seperti saponin, terpenoid, flavonoid dan anti oksidan.

Sehingga, unji atau olahan unji seperti sari minuman dapat membantu mengatasi masalah kesehatan. Termasuk membantu mengatasi sel kanker. Selain membantu mengatasi sel kanker. Unji juga memiliki khasiat obat tradisional.

 

Seperti, obat batuk, penyubur rambut, demam tinggi, obat luka, bahan sayuran sebagai rebusan lalapan atau bumbu rempah serta penambah nafsu makan. Obat tradisional itu masih digunakan masyarakat di desa Pal VIII Kecamatan Ulu Raya.

''Banyak sekali manfaat dan khasiat dari unji bagi kesehatan, termasuk mencegah kanker serviks. Unji juga menjadi obat tradisonal yang masih digunakan masyarakat ketika batuk, demam tinggi serta lainnya,'' jelas Rita.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini