nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cerita ODHA tentang Gejala Awal Penyakit yang Dialaminya

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 11 Maret 2019 16:30 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 03 11 481 2028453 cerita-pengidap-hiv-tentang-gejala-awal-penyakit-yang-dialaminya-5frsYPQlN9.jpg Ilustrasi (Foto: Timesnownews)

Mengidap penyakit HIV tidak berarti hidup Anda selesai. Banyak ODHA yang sampai sekarang masih beraktivitas dan bahkan tetap bisa memiliki kualitas hidup yang baik.

Kuncinya ada di kedisiplinan mengonsumsi obat anti-retroviral (ARV) dan tidak memperburuk kondisi penyakit dengan melakukan kegiatan yang meningkatkan risiko penyebaran virus. Selain itu, Anda juga harus memiliki lingkungan sosial yang supportif.

Bicara mengenai ODHA, belum lama ini seorang netizen dengan akun Twitter @betweensureal membagikan cerita bagaimana dirinya bisa mengidap penyakit HIV. Padahal, Anda semua mesti tahu, untuk menceritakan apa yang dirasakan pasien HIV perlu kebesaran hati dan kekuatan diri yang luar biasa. Siapa yang mau "aib"-nya diketahui orang lain?

Tapi, netizen ini dengan keikhlasan hati dan keberanian diri yang besar mau membagikan pengalaman pertama kalinya didiagnosa positif HIV. Seperti apa kisahnya?

Sebelumnya Okezone menghubungi orang yang bersangkutan dan sesuai kesepakatan, nama asli narasumber dirahasikan demi menjaga privasi pasien. Untuk seterusnya, pasien disebut BD.

Pengidap HIV

Dalam cuitannya yang dibagikan pada 4 Maret 2019, BD menjelaskan kalau gejala yang dia derita sudah terjadi sejak setahun yang lalu.

Dalam cuitan pertamanya, BD menegaskan kalau Anda jangan pernah malas untuk membaca apapun tentang medical things meskipun Anda merasa sehat wal afiat. Dia juga menyarankan untuk memperbanyak asupan hal positif, perkaya informasi mengenai gejala penyakit apapun dan jenis obat-obatannya.

BD memulai kisah dengan menjelaskan despresi dalam dirinya yang menjadi alasan kenapa dia terjerumus pada hal negatif. Masalah dengan teman, keluarga, dan kampus yang berbarengan membuat dirinya drop. Tak punya arah dan ini yang membuat dia down. Kondisi semakin parah karena BD tidak punya tempat mengadu. "Gue jauh dari Tuhan," tulisnya.

Pria berusia 22 tahun ini melanjutkan, kondisi makin parah karena dia tipe orang yang mudah ikut arus pergaulan. Jadi, saat down, BD malah melampiaskan stresnya ke rokok dan minuman beralkohol. Padahal sebelumnya dia mengaku tidak pernah melakukan hal tersebut.

Nah, suatu malam, semuanya meledak! Ya, BD mengaku semua emosinya keluar. Tapi, sayangnya dia tidak bisa menjelaskan kondisi ini lebih rinci dengan alasan kesehatan mentalnya. Tidak bisa dipungkiri, BD mengaku, apa yang dia lakukan kala down dulu, membuatnya trauma di masa sekarang dan mengupas masa lalu berarti membuka kembali luka lama. Sakit.

"Gue ngelakuin sesuatu yang intinya bisa menyebabkan HIV. Kalau sebelumnya gue bilang nggak seks bebas dan narkoba, yes I am. Tapi, bukan berarti gue nggak pernah nyoba, ya," katanya.

Dia menganggap kegiatan berisiko HIV itu bukan sebuah kebutuhan, makanya dia merasa tubuhnya sehat dan terbebas dari virus HIV. Sekali pun melakukannya, BD mengaku selalu main aman.

Karena kondisi itu, dia mulai mengurangi ketemu temen, keluar, dan melakukan aktivitas lainnya yang melibatkan banyak orang. Dia juga mengaku mengurangi alkohol dan hal-hal lainnya. Sampai akhirnya pas BD beli baju, ukuran L menjadi sangat besar. Padahal sebelumnya itu adalah ukuran baju biasanya.

Tubuh kurus mendadak

Perubahan tubuh menjadi tanda awal. Ini disadari banyak orang mulai dari orangtua hingga temen-temen BD. Banyak temannya yang kemudian mempertanyakan kenapa tubuhnya sangat kurus. Ya, dari yang dulunya beli baju ukuran L, sekarang BD beli baju ukuran XS.

Untuk menjawab pertanyaan teman-teman, BD berlindung dengan pernyataan; masalah impaksi gigi bungsu. Kondisi tersebut membuat dia sulit makan. Pernyataan ini semakin kuat ketika dia konsultasi ke dokter gigi dan bedah mulut.

Tubuh BD makin kurus. Ibunya mulai curiga kalau dia menggunakan narkoba. Untuk memastikan BD tidak menggunakan narkoba, dia melakukan rangkaian tes, kecuali HIV. "Salah gue juga dulu nggak sekalian tes HIV," keluhnya. Hasil tes normal! Tubuh BD bebas dari zat adiktif dan penyakit lain. BD pun menyatakan kalau ibunya tenang.

Tapi, Anda perlu tahu, berat badan BD di 2017 masih 76-78 kg, tapi sebelum dia tes dan dia sempat menimbang, berat badannya hanya 47 kg! "Gue shock banget, karena gue nggak mau nimbang berat badan setelah dapat banyak ribuan pertanyaan kenaoa gue kurus. Itu bikin gue stres parah," katanya.

Muncul jerawat darah di tubuh

Setelah masalah impaksi gigi bungsu, kini muncul jerawat darah di tubuh. BD menjelaskan, tubuhnya ditumbuhi jerawat air yang saat dipecahin, isinya ternyata darah dan setelah itu menjadi hitam. Jumlahnya banyak dan menyebar di seluruh tubuh.

Tidak hanya itu, tenggorokan BD mulai sakit, bahkan dia sulit sekali menelan air liurnya sendiri. "Sakit banget nggak ketulungan. Buat nelen air liur aja sakit. Akhirnya ke dokter bedah mulut," sambungnya.

Dokter bedah mulut, ungkap BD, mendiagnosa tenggorokan BD mengalami gangguan sistemik. Kondisi itu tidak diketahui sama sekali oleh BD, dia tak tahu gangguan apa itu. Setelah didiagnosa, BD diberikan obat antibiotik.

BD menjelaskan ada perubahan ke arah sembuh memang. Tenggorokannya tidak lagi begitu sakit. Tapi, sayangnya sebulan setelah kondisi "sembuh" penyakitnya kambuh lagi. BD mengaku, di masa-masa seperti ini dia masih ngerokok, gaya hidup masih bodo amat, mandi jarang, dan banyak hal lainnya.

Ketombean parah dan rambut mulai rontok

Sampai muncul gejala yang akhirnya membuat BD sadar kalau dirinya sedang mengalami kondisi penyakit serius. Kondisi itu adalah dirinya mengalami ketombean parah dan rambutnya mudah rontok!

Kondisi ini sampe bikin tukang cukur langganannya kaget. "Sampai barber tempat gue potong rambut heran kenapa bisa kayak gini ketombeannya," ungkap BD. Sampai akhirnya dia 'Googling' dan menarik kesimpulan; Am I Positive?

BD memberanikan diri untuk tes HIV di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta. Anda mesti tahu, kondisi ini dia alami di tahun terakhir kuliah. Ya, BD sedang skripsian dan dia harus menghadapi masalah seberat ini. Lalu, apa hasil tesnya? "Reaktif," kata BD. Status positif HIV diterima BD pada 27 Februari 2019.

Menjadi catatan miris lainnya, dia mengaku kalau sedang solat duduk di antara dua sujud, dia sering merasa sakit karena tulang kakinya kena lantai. Bahkan, BD sudah tidak mampu menutup pintu rumah saking lemasnya.

Sementara itu, BD menyarankan untuk harus lebih peduli dengan perubahan yang terjadi pada tubuh.

"Ada satu pesan yang mau gue bilang, gejala-gejala yang gue alami belum tentu dialami pasien lain dan ada gejala lain yang dialami pasien positif HIV. Satu lagi pesan gue, jangan sampe telat tau, gue ini termasuk telat tau kalo gue HIV karena gue udah sampe kurus banget," paparnya.

BD juga menambahkan, jangan pernah takut dan malas untuk tes HIV sekali pun Anda merasa tubuh Anda sehat dan terbebas dari faktor risiko HIV.

"Yuk tes HIV. Mau Lo pernah berhubungan badan atau nggak, mau lo pernah pake jarum suntik atau nggak, mau lo pake jilbab atau nggak, jangan takut buat tes HIV karena pandangan buruk sosial terhadap penyakit ini," ujar BD.

"Insha Allah tim medisnya baik-baik dan nggak akan nge-judge lo. Sebab, emang sudah menjadi tugas mereka. Gue bisa bilang, tes HIV adalah salah satu bentuk sayang lo sama diri lo sendiri!" tambahnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini