nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Waspada, Ini Bahaya Ibu Hamil Terkena Penyakit DBD

Nur Anisa Putri, Jurnalis · Selasa 12 Maret 2019 05:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 11 481 2028611 waspada-ini-bahaya-ibu-hamil-terkena-penyakit-dbd-bgTUgXqqcd.jpg Cegah penyakit demam berdarah selama kehamilan (Foto: Babycenter)

Baru-baru ini masyarakat dihebohkan dengan berita meninggalnya seorang ibu hamil yang sedang mengandung 7 bulan, bernama Asnat Landu Tana, asal Kampung Marada pada Sabtu (9/3/2019). Dikabarkan korban meninggal dunia akibat diserang penyakit deman berdarah dengue (DBD).

Penyakit demam berdarah patut diwaspadai, karena nyamuk Aedes aegypti yang membawa penyakit demam berdarah ini memiliki kemampuan terbang sejauh 100 meter sehingga proses penularannya berlangsung sangat cepat. Seperti yang kita ketahui, penyakit DBD dapat menyerang manusia di segala umur termasuk kepada ibu-ibu hamil. Melansir Breakdengue, Selasa (12/3/2019), mari kita simak ulasan mengenai bahaya demam berdarah dengue terhadap kehamilan.

Diperkirakan setiap tahun, 390 juta orang terinfeksi dengue dan 96 juta mengalami gejala klinis. Hasil penelitian dan ulasan memberikan bukti lebih lanjut tentang hubungan antara virus dengue simptomatik dan dampaknya terhadap kehamilan.

Menurut beberapa hasil penelitian melaporkan, wanita yang mengalami infeksi dengue selama kehamilan bisa mengalami kerugian seperti bayi lahir mati, keguguran, kelahiran prematur, dan berat badan lahir rendah. Para peneliti mengatakan wanita dengan infeksi dengue selama kehamilan adalah tiga setengah kali lebih mungkin untuk mengalami keguguran dibandingkan dengan mereka yang tidak.

ibu hamil

Selain itu, risiko lahir mati diperkirakan mencapai tujuh kali lebih tinggi untuk seorang wanita dengan infeksi dengue dibandingkan dengan mereka yang tidak. Meskipun meta-analisis untuk lahir mati tidak dapat dilakukan karena hasil itu diselidiki hanya dalam satu studi, para peneliti menghitung risiko relatif kasar menjadi 6,7 pada wanita dengan gejala demam berdarah dibandingkan dengan wanita tanpa demam berdarah. Kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah adalah dampak negatif yang paling umum.

“Sebagian besar kasus demam berdarah tidak menunjukkan adanya proses penyembuhan sendiri, justru berkembang menjadi penyakit yang lebih parah. Infeksi tanpa gejala klinis tampaknya tidak berbahaya bagi janin, tetapi perlu diketahui bahwa demam berdarah klinis selama kehamilan tampaknya meningkatkan frekuensi lahir mati, prematur, dan berat badan lahir rendah, ” jelas Mrs. Paixão, Kepala studi London School of Hygiene & Tropical Medicine.

Menurut medscape, Demam berdarah selama kehamilan harus dibedakan dengan hati-hati dari preeklampsia. Tanda dan gejala yang tumpang tindih, termasuk trombositopenia, kebocoran kapiler, gangguan fungsi hati, asites, dan penurunan produksi urine dapat menjadi tantangan klinis. Wanita hamil dengan demam berdarah merespons terapi cairan, istirahat, dan antipiretik yang biasa. Namun sudah ada 3 kasus kematian ibu hamil karena demam berdarah pada trimester ketiga yang telah dilaporkan.

Kesadaran akan bahayanya demam berdarah pada kehamilan harus diselingi juga dengan pencegahan dini dan perawatan yang tepat. Jika ibu mendapat infeksi pada periode peripartum, bayi baru lahir harus dievaluasi untuk demam berdarah dengan jumlah trombosit serial dan studi serologis.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini