nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Obati Obesitas dengan Operasi Bariatrik, Apakah Itu?

Wisnu Kurniawan , Jurnalis · Kamis 14 Maret 2019 18:45 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 03 14 481 2030065 obati-obesitas-dengan-operasi-bariatrik-apakah-itu-MMTWOBwNDp.jpg Obati Obesitas dengan operasi bariatrik (Foto:Ist)

GAYA hidup tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik memicu timbulnya berbagai masalah kesehatan dan gangguan metabolik seperti obesitas. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan sebanyak 21,8 persen penduduk dewasa di Indonesia yang berusia di atas 18 tahun mengalami obesitas. Angka ini mengalami peningkatan bila dibanding tahun 2013. Sejumlah penelitian telah mengungkapkan obesitas berkaitan dengan penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes, stroke, serangan jantung, dan penyakit kardiovaskular.

Melihat data yang ada, tentu diperlukan penanganan yang tepat dan menyeluruh dalam mencegah obesitas. Salah satu penyebab obesitas adalah makan berlebih. Oleh karenanya banyak yang mencoba melakukan diet agar berat badan menurun. Tetapi tidak semuanya berhasil melakukan cara tersebut.

Seiring perkembangan teknologi, saat ini, sudah terdapat metode Bariatrik. Metode ini dapat memperpanjang usia seseorang, sebab obesitas dikatakan dapat menurunkan angka harapan hidup seseorang. Menurut Dr.dr. Peter Ian Limas, Sp. B-KBD, seseorang dikatakan obesitas apabila Indeks Massa Tubuh (IMT) di atas normal.

Baca Juga:

5 TKI Cantik Ini Bikin Pria Nyesel Gak Buru-Buru Nikahin

Pria Ini Nyaris Meninggal saat Bersihkan Telinga Pakai Cotton Bud, Kenapa?

“Apabila IMT seseorang di atas 37,5 dan 32,5 dengan diabetes atau hipertensi, maka dia bisa melakukan Bariatrik untuk menurunkan berat badan,” ujar dr.Peter saat ditemui Okezone dalam acara konferensi pers ‘Bariatrik, Komitmen Untuk Hidup Sehat Sepanjang Usia’, Kamis (14/3/2019) di Jakarta.

Hasil gambar untuk bariatrik

Untuk melakukan operasi Bariatrik dilakukan serangkaian pemeriksaan, seperti memeriksa kerongkongan apakah dalam keadaan baik atau tidak. Setelah itu, pasien bertemu dokter jantung, dokter penyakit dalam, dan dokter gizi untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Hal ini bertujuan untuk melihat penyakit lain yang mungkin diderita pasien.

Setelah pemeriksaan selesai dilakukan, tahap selanjutnya adalah pasien diminta untuk diet dalam jangka waktu 10 hari karena diet berpengaruh bagi kelancaran operasi. Operasi dilakukan di bawah liver dekat hati. Jika liver terlihat besar seperti bantal, maka dokter perlu berhati-hati dalam melakukan operasi. Tetapi jika bentuk liver bagus, maka proses operasi akan lancar dan berhasil.

“Untuk diet biasanya hanya minum susu, dan kalori 800-1000 setengah dari apa yang dimakan, seperti puasa. Jika pasien terlihat berbohong saat diet, itu akan kelihatan dari bentuk livernya,” pungkas dr.Peter.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini