Definisi Keperawanan di Berbagai Negara dan Budaya

Amanda Rahmadianti Syafira, Jurnalis · Sabtu 16 Maret 2019 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2019 03 15 196 2030587 definisi-keperawanan-di-berbagai-negara-dan-budaya-i4iqT7VFEf.jpg Ilustrasi (Foto: Hercampus)

Biasanya seseorang yang dikatakan masih perawan adalah yang memiliki selaput dara utuh. Selaput dara adalah selaput tipis yang menutupi lubang vagina seorang gadis dan biasanya akan robek pada hubungan seksual pertama.

Jadi, jika seorang gadis mengalami pendarahan setelah hubungan seksual, diasumsikan bahwa dia masih perawan dan juga tidak adanya pendarahan ditafsirkan sebagai tanda bahwa dia memiliki pengalaman seksual sebelumnya.

Meskipun makna biologis dari keperawanan adalah seseorang yang tidak pernah melakukan hubungan seksual. Namun di beberapa belahan dunia lain, keperawanan memiliki konsepnya masing-masing, simak ulasannya dilansir dari berbagai sumber:

Seks pranikah dipengarugi budaya

Seks pranikah di negara tertentu adalah hal biasa karena dipengaruhi oleh aspek budaya dan sosial. Kedua jenis kelamin sama-sama percaya diri dengan interaksi seks lawan jenis. Pendidikan seks yang diberikan berbeda dari negara lain. Banyak anak-anak sekolah menengah yang sudah melakukan hubungan seksual. Bahkan banyak pasangan yang sudah hidup serumah sebelum terjadinya pernikahan yang resmi.

 Baca Juga: Kisah Anissa, TKI asal Lampung yang Temukan Kebahagiaan Sejatinya di Taiwan

Masih perawan selama belum menikah

Di bagian negara lainnya juga menganggap perempuan masih tetap perawan apabila dia belum menikah, sekalipun wanita tersebut adalah seorang pekerja seks. Karena menurut mereka hanya lewat pernikahanlah keperawanan tersebut hilang.

Tetap perawan setelah menikah

Ada pula negara di mana seorang wanita yang sudah menikah pun masih akan tetap dianggap seorang perawan apabila belum dikaruniai seorang anak. Karena prinsip di sana, keperawanan bukan hilang melalui hubungan seks tetapi dengan memiliki seorang anak.

Berikut ini adalah makna dan implikasi keperawanan dalam berbagai budaya di seluruh dunia:

 Baca Juga: Seperti Rossa, 5 Artis Ini Jatuh Sakit karena Diet

1. Keperawanan dalam budaya Oriental

Meskipun sangat berbeda dengan agama, etnis dan geografi, budaya di sebagian besar Asia Selatan dan Tenggara memiliki sikap yang sama terhadap keperawanan seorang gadis. Pengalaman seksual benar-benar dilarang sebelum menikah. Dalam beberapa masyarakat Asia, keperawanan penting sebagai bentuk kontrol seksual.

Untuk semua alasan ini wanita di negara-negara Asia menunggu untuk melakukan hubungan seks, yaitu setelah menikah yang pada zaman modern ditetapkan secara hukum setelah 18 tahun. Sebuah artikel di The Economic Times menunjukan orang-orang di negara Asia kehilangan keperawanan mereka pada usia yang jauh lebih tua daripada mereka yang di Barat. Warga Malaysia adalah yang tertua yang kehilangan keperawanan mereka pada usia 23 tahun, diikuti oleh India pada 22, Singapura pada 22, Cina pada 22, Thailand pada 20, Thailand pada 20, Hong Kong pada 20 dan Jepang pada 19 tahun yang sedikit lebih rendah. Itu menunjukan fakta bahwa keperawanan masih sangat dihargai dalam budaya Oriental.

2. Budaya Islam

Sekali lagi budaya Islam secara luas dibedakan berdasarkan bahasa, geografi, dan etnis. Tetapi karena hampir semua mengambil hukum sosial dan moral mereka dari kitab suci Al-Quran Islam. Maka pada masyarakat Islam, jika seorang gadis kehilangan keperawanannya sebelum menikah, keluarganya diizinkan oleh hukum negara untuk menghukumnya secara fisik dan bahkan membunuhnya. Ini karena gagasan tentang kehormatan dan rasa malu keluarga terkait dengan keperawanan seorang gadis. Hubungan seksual pranikah disebut sebagai Zina dalam Hukum Syariah yang ditafsirkan dari Al-Qur'an dan Hadits.

3. Budaya Afrika

Masyarakat tradisional Afrika juga sangat menekankan keperawanan wanita sebelum menikah. Dalam masyarakat Afrika, keperawanan adalah sesuatu yang bisa dibanggakan. Dampak dari hilangnya keperawanan sebelum menikah, anak perempuan harus menghadapi penolakan sosial, pengucilan dari keluarga jika bukan hukuman fisik. Dan menegakkan keperawanan sebelum menikah adalah salah satu cara untuk mencegah penyebaran AIDS dan kehamilan remaja.

 

4. Budaya Katolik

Budaya Amerika Selatan sebagian besar beragama Katolik tetapi negara-negara seperti Brasil jauh lebih menerima hubungan seksual pra-nikah; di sini tidak penting bagi anak perempuan untuk menjadi perawan sebelum menikah. Pemisahan yang sama antara jenis kelamin dan agama dapat dilihat dalam budaya Katolik lainnya seperti di Italia, Prancis, Belgia yang masih mendukung gadis menjadi perawan sampai menikah.

5. Budaya barat modern

Pemisahan agama dan seksualitas dalam budaya Barat modern, bahwa keperawanan tidak lagi diidolakan. Emansipasi wanita yang lebih besar telah menempatkan pilihan seksual di tangan wanita itu sendiri. Di negara-negara seperti AS, Kanada, Australia, Skandinavia dan kawasan Eropa Barat lainnya, perempuan memiliki kebebasan untuk melakukan hubungan seks kapan dan dengan siapa mereka inginkan. Memang dalam banyak masyarakat ini, seorang gadis atau pria yang masih perawan hingga menikah dianggap agak aneh.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini