nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Heboh Isu Kiamat di Ponorogo, Ini Kata Psikolog

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 15 Maret 2019 13:45 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 03 15 612 2030350 heboh-isu-kiamat-di-ponorogo-ini-kata-psikolog-B5K04Y3NcM.jpg Isu kiamat di Ponorogo warga hijrah (Foto:Ilustrasi/Ist)

PULUHAN warga Desa Watu Bonang, Kecamatan Badegan, Ponorogo, berbondong-bondong pindah ke Malang, apa sebabnya? Ternyata hal itu karena adanya isu kiamat yang beredar di kalangan masyarakat.

Ya, isu yang belum jelas kebenarannya itu sudah bisa menimbulkan kegemparan yang sedemikian rupa. Efek yang ditimbulkan pun cukup luar biasa. Banyak dari mereka yang menjual tanah dan kekayaan lainnya untuk bekal bertahan hidup. Bahkan, sebagian kekayaan itu diberikan kepada penyebar informasi.

Isu ini dikembangkan oleh pemuka agama di desa tersebut. Sang kyai menyatakan; "Kalau kalian ikut bersamaku, kalian akan terhindar dari kiamat". Karena kepercayaan yang besar pada pemuka agama, alhasil ratusan warga "hijrah" dari Ponorogo ke Malang.

Dari isu yang belum jelas kebenarannya itu, tidak heran media sosial seperti Facebook dan WhatsApp kemudian mengampanyekan teliti memilah berita palsu.

Memang, selain merugikan dari segi waktu dan terkadang materi, berita palsu alias hoax juga memberikan dampak negatif pada psikologis seseorang.

Psikolog Klinis Meity Arianty menyebut, hoax dapat menimbulkan trauma psikologis baik itu langsung mau pun tidak langsung.

"Misal berita hoax tentang kekerasan, kecelakaan, perampokan seperti begal, semua itu sangat mungkin membuat masyarakt resah, takut dan cemas. Bagi sebagian orang bisa jadi ini akan memberikan trauma psikologis," jelas psikolog yang biasa disapa Mei, kala dihubungi Okezone beberapa waktu lalu.

Mei menganalogikan berita hoax sebagai cara untuk eksploitasi sisi psikologis manusia. Masalahnya, hoax baik disengaja atau pun tidak, akan 'menjual' psikologis manusia dan sangat merugikan manusia itu sendiri.

"Karena yang diserang adalah sisi psikologisnya, ini bermain dengan emosi manusia memicu reaksi tertentu," katanya.

Masih ingat kasus hoax Ratna Sarumpaet kan? Mungkin kasus tersebut terlihat sederhana, namun hal itu sebenarnya berakibat buruk ke masyarakat. Paling minim, Meity menambahkan, hal itu dapat memicu pertikaian, kemarahan dan kebencian.

Baca Juga:

Kisah Anissa, TKI asal Lampung yang Temukan Kebahagiaan Sejatinya di Taiwan

Intip Keharmonisan Rumah Tangga Syahrini-Reino Barack Jadi Orangtua 3 Anak

"Bisa juga menimbulkan perpecahan karena dianggap menganiaya wanita lemah dan masyarakat menganggap pelakunya biadap karena tega menganiaya," lanjut Mei.

Menurutnya, penyebar hoax bisa memiliki motif beragam, bisa untuk uang, tujuan politik, bersenang-senang atau pun hanya mencari perhatian, yang jelas penyebar hoax sudah bisa dikategorikan sebagai penipu.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah hoax menyebar?

Hal paling sederhana yang bisa dilakukan adalah tidak mudah mempercayai sebuah berita apalagi jika sumbernya tidak jelas.

Mei menambahkan, pola yang beredar biasanya adalah lewat group-group di media sosial, baik Facebook, WhatsApp mau pun Twitter dan Instagram. Karenanya, apabila ada kabar atau berita yang dikirim ke kita dirasa meragukan, ada baiknya kita melakukan cross check.

"Cukuplah berhenti di kita saja jangan diteruskan ke orang lain walau itu orang terdekat, saudara, atau teman dekat," tukas dia.

Mei menambahkan, "Berhenti di Kamu" juga mencegah adanya penyebaran dampak buruk semakin masal. Dengan melakukan filterisasi informasi, setidaknya Anda sudah melakukan upaya pencegahan penyebaran hoax di masyarakat. So, stop penyebaran hoax!

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini