Ma'ruf Amin Bersumpah Perangi Hoax saat Debat Cawapres, Apa Kata Psikolog?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 18 Maret 2019 09:10 WIB
https: img.okezone.com content 2019 03 18 612 2031415 ma-ruf-amin-bersumpah-perangi-hoax-saat-debat-cawapres-apa-kata-psikolog-X4ASXG6lRT.jpeg Debat Cawapres (Foto: Arif/Julianto)

DEBAT CAWAPRES 2019 yang berlangsung Minggu (17/3/2019) di Hotel Sultan Jakarta berjalan kondusif. Kedua pihak mampu menjabarkan visi dan misi dengan cukup baik.

Tapi, ada satu momen yang cukup menarik untuk diperhatikan. Adalah saat Ma'ruf Amin memberikan pernyataan penutupnya dalam debat semalam. Dalam keterangannya, Ma'ruf Amin bersumpah akan memerangi informasi palsu atau hoax yang sekarang banyak tersebar di masyarakat.

Baca juga :

"Kita mengajak semua untuk melawan dan perangi hoax karena hoax merusak tatanan bangsa Indonesia. Saya bersumpah, demi Allah, selama hidup saya, akan saya lawan upaya-upaya yang akan melakukan itu semua. Allah sudah mengatakan, in jaakum fasiqun binabain fatabayyanu, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, hendaklah kamu tabayun, kamu cek, jangan terima saja," ungkapnya dengan tegas dan tenang.

Pernyataan Ma'ruf Amin ini tentunya perlu disambut dengan baik. Sebab, dengan memerangi hoax, maka Anda bisa menjauhkan masyarakat dari perpecahan dan menghilangkan fitnah yang membawa dosa. Semua orang wajib memberantas hoax seperti ikrar Ma'ruf Amin ini. Bukan hanya mereka yang ada di pemerintahan, tapi emak-emak pun anak muda juga wajib menutup pintu rapat-rapat pada informasi yang salah.

Mereka yang berpendidikan pun sepatutnya bisa dengan sehat dan sadar menghilangkan hoax. Tapi, kenyataannya tidak demikian. Menurut Psikolog Klinis Meity Arianty kala dihubungi Okezone menyebut pendikan sama sekali tidak menjamin orang tersebut terbebas dari hoax.

Menurut dia, salah satu yang membuat orang percaya kepada hoax adalah karena mereka meyakini sesuatu yang sama dengan pikiran dan keinginannya. Akibatnya, fakta dan kebenaran menjadi tidak penting lagi buat mereka.

Analogi lainnya adalah ketika air putih disebut air bening, maka tidak akan ada orang yang percaya dan menganggap orang tersebut salah. Nah, salah satu faktor psikologis itulah yang mereka yakini dan percayai sehingga apa yang telah mereka percaya, menjadi sebuah kebenaran yang ada di pikirannya.

"Itu sebabnya yang menyebar hoax, bahkan yang mempercayai hoax, justru orang-orang yang berpendidikan karena hoax bukan masalah intelektual di ranah kognitif lagi, tapi lebih ke keyakinan dan kesamaan persepsi serta kepercayaan terhadap sesuatu," jelas Mei.

Lantas kenapa sih orang mudah percaya hoax?

Salah satu penyebabnya adalah kesamaan persepsi dan keyakinan. Contoh saja, kenapa kita begitu mendukung orang Asia yang bertanding di sebuah ajang internasional, ketimbang orang-orang benua lain, yang memang terbukti sudah juara.

Nah, Mei menyebut salah satu keyakinan dan kesamaan tersebut adalah politik dan fanatisme terhadap salah satu tokoh politik. Mereka yang mengambil sikap seperti ini akan lebih mudah menerima hoax yang berkaitan dengan lawan calonnya, karena mereka sepemikiran dan lebih mudah diterima oleh akal pikiran mereka. "Buat mereka sudah tidak penting lagi kebenarannya," tukas dia.

So, mulai sekarang Kita mesti berjanji untuk tidak pernah lagi menyebarkan informasi hoax sama seperti janji Ma'ruf Amin!

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini