nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Haru Aprilia Nur Azizah, Gadis Satu Mata yang Cari Kerja lewat Twitter (1)

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 19 Maret 2019 04:37 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 03 18 612 2031744 kisah-haru-aprilia-nur-azizah-gadis-satu-mata-yang-cari-kerja-lewat-twitter-1-veAfpzHY6x.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

GADIS manis itu tersenyum senang. Setelah 20 tahun menanti, akhirnya apa yang diimpikannya terwujud. Memang, mimpi gadis berkerudung itu tidak neko-neko seperti orang kebanyakan.

Dia tidak meminta ingin pergi ke luar negeri, ataupun memiliki gadget keluaran terbaru. Satu hal yang dia inginkan adalah semua bagian tubuhnya lengkap. Aprilia Nur Azizah, itulah nama yang diberikan oleh orangtuanya kepada gadis bermata satu ini. Terlahir hanya dengan satu mata, Aya tidak pernah menyerah berusaha.

Memang usahanya patut diacungi jempol. Tidak patah semangat, dia mencoba mencari kerja meskipun tubuhnya tidak sempuran. Bahkan, dia nekat memposting niatnya itu di Twitter, tempat netizen kerap menghujat satu sama lain.

Baca Juga: Kisah Anissa, TKI asal Lampung yang Temukan Kebahagiaan Sejatinya di Taiwan


Nama saya Aprilia Nur Azizah, 20tahun, dari Pangandaran, Jawa Barat.

Saya membutuhkan pekerjaan, apapun. Saya cacat fisik dari lahir, ekonomi keluarga kekurangan. Bekerja untuk diri sendiri, ingin mata palsu, dan membantu melunasi hutang orang tua.

Dalam postingan itu, Aya melanjutkan kalau dirinya lulusan SMK Negeri 1 Pangandaran jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ) 2016. Aya pun sudah pernah bekerja sebelumnya. Beberapa pekerjaan yang pernah dia tekuni adalah operator buruh pabrik, kasir barbershop, home industry, ART, dan banyak lainnya.

Memang, kisah Aya ini menyentuh banyak netizen. Banyak dari pengguna media sosial membantu memberikan link pekerjaan ke Aya. Tidak hanya satu orang, tapi ada ribuan komentar yang memberikan dukungan untuk Aya. Bahkan, postingan Aya di Twitter yang kini sudah di-retweet sebanyak 45ribu kali dan disukai 23,9 ribu netizen, bukti bahwa banyak orang memang mendukungnya.

Terlahir sebagai anak yang "berbeda" tak membuat Aprilia Nur Azizah malu atau kesal dengan kehidupannya. Dia malah bangkit dan percaya, apa yang sudah diciptakan Tuhan untuknya adalah yang terbaik baginya.

Perempuan kelahiran Ciamis, 11 April 1998 ini membuktikan dengan semangat yang tinggi dan usaha tak kenal lelah, akan membawa siapa pun ke mimpinya. Kini, Aya, sapaan akrabnya, sudah punya mata baru dan itu semua berkat Tuhan.

Tapi, masa kecil yang kelam pun pernah dirasakan Aya. Dirinya sering dianggap berbeda oleh anak-anak lain. Dianggap tidak mampu. Tapi, Aya bersyukur, di antara teman-temannya yang jahat, lebih banyak teman-teman yang baik kepadanya.

Aya pun menyibukkan diri dengan aktivitas di sekolah untuk melupakan segala komentar negatif tersebut. OSIS pun menjadi pilihannya untuk memperluas pertemanan. Dari situ juga dia menemukan rasa kepercayaan diri yang besar.

"Aku sering dipanggil sama Masjid buat jadi host. Ya, itu juga aku jadiin latihan bair aku nggak malu berada di depan banyak orang. Sampai sekarang, aku sudah cukup percaya diri meski berbeda dan kekurangan aku ini tidak sama sekali aku anggap sebagai hal yang perlu disesali. Aku bersyukur dengan hidup aku sekarang," ungkap Aya penuh bangga.

Sikap mandiri Aya sudah muncul sejak dia duduk di bangku sekolah menengah pertama. Di saat itu, Aya sudah coba cari pekerjaan. Apapun dia lakukan. Sampai akhirnya setelah lulus sekolah kejuruan, Aya nekad pergi ke Sukabumi untuk mencari pekerjaan. Semua bermodal nekad, karena di kota tersebut, tidak ada saudara sama sekali.

Baca Juga: Hati-Hati, Air Kemasan Dibuka Lebih dari Sejam Bisa Berbahaya!


Tidak lama Aya bekerja di Sukabumi, dia pindah ke Jakarta untuk bekerja di salah satu perusahaan swasta. Tidak lama bekerja, Aya kemudian memutuskan untuk kembali ke kampungnya di Pangandaran, Jawa Barat. Di sinilah Aya menemukan kesulitan pekerjaan lagi.

"Banyak sekali yang melihat aku dari fisik, tapi, ya, aku ikhlas menerima kondisi. Tapi, aku terus berusaha buat cari kerja. Aku mau bantu perekonomian keluarga aku. Makanya, aku bikin postingan di Twitter itu dan Alhamdulillah sekarang aku dapat kerjaan baru di dunia online," ucap Aya.

"Aku senang banget. Ini pekerjaan pertama aku yang gajinya paling besar. Aku bersyukur benar-benar bersyukur dipertemukan banyak orang baik," katanya.

Harapan orangtua

"Begitu lahir, ngeliat kondisi Aya pas masih bayi, ya, saya awalnya bingung kenapa bisa begitu. Tapi, saya kemudian sadar kalau ini adalah titipan Allah SWT, makanya saya dan suami mau merawatnya dengan sungguh-sungguh," ungkap ibunda Aya, Marlingah dengan sedikit bergetar menahan haru.

Sedikit terisak, Marlingah mengisahkan hidup Aya dari kecil sampai sekarang. Dia tidak bisa menampik kalau masa kecil Aya cukup menyedihkan. Diejek, dianggap berbeda, bahkan dijauhkan teman-temannya sudah jadi "rutinitas neraka" sehari-hari.

Memang, salah satu mata tertutup tetapi Allah membuka hati Aya dengan sangat lebar. Karenanya, dia pun tidak pernah marah ketika diejek. Aya tumbuh menjadi anak yang kesabaran luar biasa dan peka terhadap masalah orang lain.

"Dia dari kecil sudah sering ngebantuin orang. Dia juga sekali pun sama temen-temen suka diejek, Aya tetap rajin ke sekolah. Dia anak yang solehah dan berprestasi," kata Marlingah bangga.

Melanjutkan ceritanya, Marlingah tidak bisa menahan air mata. Wajahnya yang sudah mulai keriput karena usia mulai basah. Terisak, dia mengungkapkan rasa bahagianya dan bersyukur karena Aya tumbuh menjadi anak perempuan yang sholehah.

"Ada satu keinginan Aya yang sampai sekarang suka bikin saya sedih. Dia mau banget lanjutin sekolah, kuliah. Tapi, saya sama suami nggak punya uang buat sekolahin dia. Sedih saya," tutur Marlingah.

Namun, suatu waktu mereka sempat heran karena Aya tiba-tiba hilang dari rumah. Marlingah pun panik, dan berpikir macam-macam, sampai akhirnya Aya pulang. Yang didengar Marlingah pun membuat tidak bisa berkata-kata, karena ternyata Aya pergi untuk mencari beasiswa-bidikmisi.

Sambil menahan air mata di depan Aya, Marlingah pun kembali berkat. "Kalau ada duit, pasti ibu mau banget sekolahin Aya. Tapi, ini nggak ada sama sekali. Kita orang susah, saya aja enggak punya rumah,".

Terlepas dari itu semua, Marlingah bahagia bisa melihat anaknya sekarang. Meski dalam keterbatasan dan kesederhanaan, hati Aya, menurut ibunya, sangat baik dan dia jujur.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini