Pengantar Jenazah Banyak Tanda Semasa Hidupnya Baik? Apa Kata Ustadz

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 19 Maret 2019 21:41 WIB
https: img.okezone.com content 2019 03 19 196 2032246 pengantar-jenazah-banyak-tanda-semasa-hidupnya-baik-apa-kata-ustadz-1IZRJxxOFp.jpg Kuburan (Foto: Pixabay)

Kematian adalah sesuatu yang pasti dan akan dialami oleh semua manusia. Jika ajal sudah menjemput, tidak ada satu pun orang yang bisa menghindari takdir tersebut. Ketika Anda melihat keluarga, teman, atau seseorang meninggal dunia, maka sebagai umat Muslim yang baik, Anda tidak boleh membiarkannya begitu saja. Anda diwajibkan untuk mengurusnya, mulai dari memandikan hingga menguburkan jenazah.

Semua itu harus dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada mayit dan rasa cinta kepada Allah SWT dengan mengikuti aturan-Nya. Namun, dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat iring-iringan pengantar jenazah yang jumlahnya hingga ratusan, bahkan ribuan orang.

Melalui artikel ini, Okezone hendak membahas seperti apa etika mengantarkan jenazah yang sesuai dengan ajaran Islam. Berdasarkan penuturan Ketua Ikatan Sarjana Quran Hadis Indonesia Ustadz Fauzan Amin, sebetulnya ada beberapa etika yang harus diperhatikan saat hendak mengantarkan jenazah.

Baca juga :

Pertama, hukumnya sunnah mengantarkan jenazah dengan berjalan kaki dan makruh jika memakai kendaraan. Kedua, dimakruhkan bila mengantar jenazah beramai-ramai hingga menimbulkan suara bising, atau membicarakan masalah dunia jenazah.

Ketiga, mengantarkan jenazah harus dilakukan sampai proses penguburan betul-betul selesai. Keempat, sang pengantar jenazah diperkenankan untuk berjalan di depan dan di dekat mayit.

“Bagi para pengantar, makna dari kegiatan ini adalah untuk merenungi sebuah kematian (tafakkur),” tutur Ustadz Fauzan Amin, saat dihubungi Okezone via pesan singkat, Selasa (19/3/2019).

Lebih lanjut, Fauzan menjelaskan, Rasullullah SAW pernah bersabda:

مَنْ شَهِدَالْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّي عَلَيْهَا فَلَهُ قِيْرَاتٌ وَمَنْ شَهِدَهَا حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيْرَاطَانِ قِيْلَ "وَمَا الْقِيْرَاطَانِ؟"قاَلَ مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيْمَيْنِ (متفق عليه)

Artinya : "Barang siapa yang ikut menyaksikan jenazah terus menyalatinya, maka ia mendapatkan pahala satu qirath. Jika sampai menyaksikan penguburannya, maka mendapatkan dua qirath. Nabi ditanyakan: " Apa maksud satu qirath? Nabi menjawab, satu qirath seperti gunung yang besar,” (HR. Imam Bukhari & Muslim).

Lalu, apakah benar jika semakin banyak jumlah iring-iringan menandakan bahwa orang yang meninggal itu baik semasa hidupnya?

Fauzan menceritakan sebuah riwayat yang menjelaskan, ketika ada orang meninggal, masyarakat di sekitar diajak melakukan persaksian bahwa si mayat adalah orang sholeh. Ini biasanya di lakukan paska sholat janazah oleh imam.

“Namun, banyak tidaknya yang datang lawatan tidak bisa jadi ukuran baik buruknya si mayat. Bisa jadi karena orang terkenal maka yang datang banyak. Wallahu a'lam,” tutup Fauzan.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini