nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bedah Bariatrik, Solusi Penurunan Berat Badan Lebih Cepat bagi Orang Obesitas

Agregasi Koran Sindo, Jurnalis · Selasa 19 Maret 2019 15:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 19 481 2032111 bedah-bariatrik-solusi-penurunan-berat-badan-lebih-cepat-bagi-orang-obesitas-qQJ2xMZbco.jpg Ilustrasi (Foto: Dr Oz)

Pasien obesitas morbid membutuhkan penurunan berat badan ekstrem. Bedah bariatrik bisa menjadi solusi penurunan berat lebih cepat dan relatif menetap.

Dalam kesehariannya, Mohammad Naufal Abdillah merasa mudah lelah. Dia juga mengalami nyeri sendi dan sulit melakukan gerakan salat. Maklum, pria ini berbobot 238 kg yang membuat aktivitasnya terbatas. “Dari kecil setiap bulan, saya naik 1 kg, badan terasa semakin lemah. Waktu di pesantren, malam hari saya bisa makan nasi goreng sampai tiga porsi,” tuturnya di hadapan awak media dalam konferensi pers “Bariatrik, Komitmen untuk Hidup Sehat Sepanjang Usia”.

Sampai akhirnya Naufal merasa semakin banyak keluhan kesehatannya dan harus menurunkan berat badannya. Dia lalu memutuskan menjalani tindakan bariatrik guna mengatasi permasalahan obesitas yang telah dialami sejak remaja.

“Yang mengejutkan, hasil lab kolesterol dan gula darahnya normal, tapi ini hanya bersifat sementara, belum tahu ke depannya. Setelah operasi, selama tiga hari pertama harus minum air putih. Dua minggu pertama makanan cair, dua minggu selanjutnya baru makanan lunak, jadi bertahap,” papar Dr dr Peter Ian Limas SpB-KBD, Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Digestif RS Pondok Indah, Pondok Indah.

Operasi

Pasien tidak merasa lapar lantaran pusat lapar dihilangkan atau dibuat tidak aktif. “Pusat lapar ada di bagian lambung yang dibuang. Dengan begitu, tidak perlu khawatir bahwa pasien lapar tapi tidak bisa makan sehingga jadi tersiksa,” kata dr Peter.

Meski tidak lapar, bukan berarti pasien tidak lapar mata. Inilah yang harus dikontrol. Naufal menjalani sleeve gastrectomy yang merupakan tindakan pemotongan lambung sekitar 85% sehingga didapatkan ukuran lambung yang lebih kecil. Selain sleeve gastrectomy , prosedur bariatrik lainnya adalah bypass dan ikat lambung.

Bypass lambung merupakan tindakan penggabungan bagian atas lambung dengan usus kecil sehingga makanan tidak lagi melewati lambung dan tidak banyak kalori makanan yang diserap. Sedangkan, ikat lambung merupakan tindakan pemasangan karet pengikat pada lambung yang bersifat adjustable sehingga pasien dapat menentukan berapa banyak porsi makanan yang ingin dikonsumsi.

Sebelum melakukan tindakan, pemeriksaan awal akan dilakukan dengan teknologi skrining melalui pemeriksaan laboratorium, jantung, dan USG dengan teropong (endoskopi) untuk melihat kondisi lambung. Pemeriksaan tersebut akan menentukan layak-tidaknya seseorang menjalani prosedur bariatrik dan menjadi faktor penentu tindakan bedah bariatrik apa yang sesuai untuk dilakukan.

Pasien pun dihimbau menjalani diet rendah kalori selama 10 hari sebelum tindakan untuk mengecilkan organ hati yang letaknya terkadang menutupi area pandang daerah bedah. Pasien juga diwajibkan berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik serta dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrin metabolik dan diabetes sebelum dan sesudah tindakan bariatrik.

Naufal yang menjalani tindakan pada November 2018 sampai saat ini telah turun 36 kg dengan penurunan IMT menjadi 80,9 yang sebelumnya 95,3. Dr David Fadjar Putra SS SpGK yang memantau perkembangan Naufal mengatakan, sesudah operasi, pasien harus tetap berpegang pada prinsip makan secukupnya dengan komposisi sehat dan melaksanakan olahraga rutin dan terukur.

“Pada dasarnya asupan yang dianjurkan protein rendah kalori dan tidak konsumsi gula. Untuk olahraga, bisa melakukan jalan cepat atau sepeda statis,” beber dr David. Dr Peter menekankan bahwa prosedur bariatrik tidak bisa sekali saja dilakukan, butuh tindakan lanjut yang kedua.

“Tapi kita lihat juga kondisinya, mungkin dengan sleeve gastrectomy ini sudah cukup. Yang jelas butuh komitmen kuat pasien dan kerja sama dengan dokter. Olahraga dan menjaga pola makan mutlak dilakukan. Idealnya berat badan ideal Naufal 70-80 kg,” katanya.

Ilmu bedah memang memerlukan kerja sama dari pasien maupun berbagai bidang lain, seperti ahli gizi, ilmu endokrin, ilmu kedokteran olahraga, dan ilmu psikoatri/psikologi.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini