nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cegah PTM, Pangkas Obesitas Morbid dengan Bedah Bariatrik

Agregasi Koran Sindo, Jurnalis · Selasa 19 Maret 2019 17:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 03 19 481 2032115 cegah-ptm-pangkas-obesitas-morbid-dengan-bedah-bariatrik-XWgoBFN4Iw.jpg Ilustrasi (Foto: CBHS)

Riskesdas 2018 menunjukkan penduduk dewasa di Indonesia di atas 18 tahun mengalami kegemukan atau obesitas sebesar 21,8%. Jumlah ini meningkat dari tahun 2013 yang hanya 14,8%.

Riset yang sama menunjukkan prevalensi penyakit tidak menular (PTM) terus meningkat, bahkan kini penderitanya semakin banyak yang berusia muda. Sejumlah penelitian mengungkapkan hubungan antara obesitas dan risiko beragam PTM, seperti tingginya kadar kolesterol, diabetes melitus, hipertensi, dan gangguan vaskular lainnya.

Obesitas dibedakan berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) masing-masing orang dan terdiri atas empat kategori, yaitu berat badan berlebih dengan IMT antara 23- 24,9, obesitas tingkat I dengan IMT 25-29,9, obesitas tingkat II dengan IMT 30-37,4, dan obesitas morbid dengan IMT 37,5 atau lebih. Berat badan berlebih yang tidak segera ditangani dapat berkembang menjadi obesitas morbid dengan risiko gangguan kesehatan yang semakin tinggi.

CEO RS Pondok Indah Group dr Yanwar Hadiyanto MARS mengatakan, angka pasien PTM akibat obesitas di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun sehingga diperlukan penanganan menyeluruh dengan tetap menyesuaikan kebutuhan setiap pasien. “Melihat hal ini, kami berusaha menyediakan salah satu solusinya, yaitu melalui tindakan bariatrik. Dengan hadirnya teknologi medis terkini untuk menegakkan diagnosis dan didukung tenaga medis ahli yang meliputi dokter spesialis dan konsultan bedah dari berbagai subspesialisasi, tindakan bariatrik ini kami harapkan dapat menjadi layanan kesehatan berkualitas,” paparnya.

operasi

Dr dr Peter Ian Limas SpBKBD, Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Digestif RS Pondok Indah, Pondok Indah, menjelaskan, tindakan ini dapat dilakukan apabila pasien sudah dikategorikan obesitas morbid dan memiliki IMT yang tinggi. Selain diperuntukkan bagi para pasien obesitas morbid, bedah bariatrik juga dapat dimanfaatkan untuk membantu pasien yang memiliki IMT sedang, tetapi mempunyai risiko tinggi terhadap penyakit diabetes dan hipertensi. Namun yang harus diingat, meski mampu menurunkan bobot tubuh dengan cepat, bedah bariatrik bukanlah peluru emas. Tindakan ini hanya sebagai pendukung.

“Faktor utama keberhasilan bariatrik adalah komitmen dan konsistensi yang kuat dari pasien untuk mengubah gaya hidup mereka seumur hidup,” ujarnya.

Bagi pasien obesitas morbid yang membutuhkan penurunan berat badan secara ekstrem, bedah bariatrik memiliki berbagai kelebihan, salah satunya dapat menurunkan berat badan dengan lebih cepat dan relatif menetap. Dengan minimal invasive laparoscopy, pasien pun akan merasakan nyeri yang lebih minimal, juga risiko komplikasi tindakan yang lebih rendah, sehingga masa rawat inap di rumah sakit akan lebih singkat. Tindakan ini juga dapat menjadi solusi bagi pasien yang memiliki riwayat diabetes.

Dengan teknik gastric bypass , dapat dicapai remisi (hilangnya gejala sehingga tidak memerlukan pengobatan lagi) pada lebih dari 80% penderita diabetes tertentu. Remisi ini dapat terjadi dalam beberapa hari sesudah operasi dan tidak harus menunggu berat badan pasien menurun.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini