nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kenalan dengan Teman Baru Bantu Perempuan Muda Kelola Tekanan Sosial

Utami Evi Riyani, Jurnalis · Rabu 20 Maret 2019 22:44 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 03 20 196 2032839 kenalan-dengan-teman-baru-bantu-perempuan-muda-kelola-tekanan-sosial-f3ZkoSVBkc.jpg Ilustrasi (Foto: 22words)

Tekanan sosial yang dirasakan anak-anak muda saat ini cukup membuat seseorang mengalami stres, terutama perempuan muda. Menurut survei terbaru dari aplikasi Tantan, 55% perempuan muda Indonesia menyatakan tekanan sosial menghalangi mereka dalam menemukan jati diri. Tekanan terbesar berasal dari keluarga.

Pada survei selanjutnya, 82% setuju berkenalan dengan teman baru membantu mereka menemukan berbagai kecocokan hidup, mulai dari hobi, kesukaan, pengalaman yang menyenangkan, hingga pasangan hidup.

Tujuan dari survei ini adalah untuk menemukan dampak tekanan sosial terhadap proses eksplorasi dan penemuan jati diri pada perempuan muda di Indonesia. Tantan bekerja sama dengan institusi penelitian independen dan menyurvei lebih dari 1.000 perempuan berusia 18-35 tahun di 32 provinsi di Indonesia secara online.

 Baca Juga: 10 Tempat Paling Romantis di Dunia untuk Lamar Kekasih, Bali Nomor 6

Dari survei tersebut, hasil menunjukkan bahwa keluarga menempati peringkat teratas sebagai sumber tekanan sosial terbesar, diikuti oleh rekan (di sekolah/universitas dan kantor) dan teman ketika responden diminta menyebutkan sumber tekanan sosial dari terbesar hingga terkecil.

 

Dari beragam sumber tekanan sosial, suatu kesamaan yang dirasakan oleh responden adalah ekspektasi yang dibebankan kepada mereka. Responden menyatakan bahwa ideal yang diharapkan oleh suatu kelompok menjadi beban terbesar. Ekspektasi lainnya yang menjadi tekanan terbesar kedua yaitu dorongan untuk memiliki kesamaan norma serta pola pikir dengan anggota lainnya di dalam kelompok.

Beban dari ekspektasi tersebut mendorong lebih dari 63% perempuan untuk berusaha menjadi ideal, seperti yang diharapkan kelompok, walaupun tidak sesuai nilai yang mereka junjung. Bahkan, 55% perempuan menyatakan tekanan sosial menghalangi mereka dalam proses eksplorasi untuk menemukan jati diri.

Tiga hal yang paling ditakuti oleh responden ketika tidak menyesuaikan diri dengan ekspektasi dari kelompok adalah berhadapan dengan rasa kegagalan, ketidakmampuan, dan penolakan.

 Baca Juga: Dulu Dibully, Sekarang Pria Asal Cimahi Mirip Artis Korea Berkat Air Cucian Beras

"Ekspektasi ideal dari kelompok sosial memberikan tekanan lebih kepada perempuan muda, dan menumbuhkan keraguan dalam mengeksplorasi untuk menemukan jati diri," ujar Jack Wu, Marketing Director di Tantan dalam siaran pers yang diterima Okezone, Rabu (20/3/2019).

Ia melanjutkan, sebagai platform aplikasi dating yang fokus memberikan pengalaman terbaik bagi perempuan, Tantan berkomitmen membantu anggota dalam perjalanan menemukan jati diri dan mengaktualkannya. Para anggota bisa saling berkenalan dan terhubung ke berbagai kecocokan, mulai dari hobi, kesukaan, pengalaman yang menyenangkan, hingga pasangan hidup.

Menemukan kecocokan hidup seraya mengelola tekanan sosial

Sebanyak 82% perempuan menyatakan bahwa berkenalan dengan teman baru membantu mereka dalam perjalanan menemukan jati diri.

“Di platform kami, perempuan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengemukakan suara terpendamnya dan mengeksplorasi jati diri dengan cara yang menyenangkan. Terdapat lebih dari 213 juta anggota dari 87 negara yang siap terhubung, dan saling menemukan kecocokan dalam hidup, hingga pada akhirnya menemukan pasangan, seperti yang terjadi oleh beberapa pasangan di Indonesia,” kata Jack.

 

Terlepas dari pengalaman menyenangkan di platform, perempuan juga mengharapkan pengalaman yang aman. Survei mengungkap bahwa risiko yang bisa berujung pada tindak kriminal dan juga profil palsu adalah dua ketakutan terbesar dalam menggunakan aplikasi dating.

“Keamanan bagi seluruh anggota kami, terutama perempuan, adalah prioritas utama. Kami menawarkan sistem keamanan terintegrasi yang mampu menyaring profil palsu, dan memoderasi interaksi di platform guna menjauhkan anggota dari interaksi yang tidak pantas dan berpotensi bahaya,” pungkas Jack.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini