nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Alami Pergeseran, Tren Kuliner 2019 Lebih Mengedepankan Produk Kolaborasi

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Rabu 20 Maret 2019 22:02 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 03 20 298 2032810 alami-pergeseran-tren-kuliner-2019-lebih-mengedepankan-produk-kolaborasi-FhB1UZim03.jpeg Ilustrasi kuliner Indonesia (Foto: Utami Riyani/Okezone)

Berbicara soal tren kuliner memang tidak akan ada habisnya. Terlebih memasuki era yang serba digital seperti saat ini, inovasi menjadi satu-satunya cara terampuh untuk bertahan di tengah derasnya perkembangan teknologi yang semakin canggih.

Jadi, tak heran jika belakangan mulai bermunculan tren-tren kuliner baru yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Ya, dalam hal ini tidak akan jauh-jauh membahas tampilan makanan yang instagramable meski rasanya mungkin dianggap biasa saja.

Namun, hidangan seperti inilah yang paling laku di pasaran. Semakin cantik penampilan suatu makanan, maka akan semakin banyak pula orang yang tertarik untuk membelinya.

 Baca Juga: Bae Doona Jadi Aktris Korea Selatan Pertama yang Hiasi Cover Vogue Amerika

Berdasarkan penuturan Chef Hans Christian, salah satu chef muda yang tengah naik daun, saat ini tren kuliner yang sedang booming-boomingnya adalah kolaborasi dari pegiat kuliner itu sendiri. Sebagai contoh antara chef dengan chef, atau chef dengan para petani.

 

“Saat ini kita dituntut lebih berinovasi dalam masalah produk dengan spesialis masing-masing. Jadi ada yang lebih fokus ke fine dining, camilan, atau jenis hidangan lainnya. Tapi konsep dasarnya adalah kolaborasi,” tegas Chef Hans Christian, saat ditemui Okezone di bilangan Jakarta Pusat, Rabu (20/3/2019).

Lebih lanjut, Hans mengatakan, produk kolaborasi ini bisa beranekaragam, sesuai dengan yang sempat ia singgung sebelumnya. Hans sendiri sempat berkolaborasi dengan petani lokal untuk menyediakan hidangan dengan bahan dasar sayur-sayuran (plant based).

 Baca Juga: Feses Tiba-Tiba Berwarna Hijau, Ini 5 Penyebabnya

“Waktu itu kita benar-benar tidak memakai produk hewani, jadi murni sayur-sayuran segar. Pengalaman bersantapnya pun dibuat semenarik mungkin. Paginya kita panen sayuran dulu di kebun, dan yang dipanen jenis sayuran yang siap untuk diolah. Jadi menu makanan yang akan diolah dari hasil panen tersebut,” bebernya.

 

Hans tidak memungkiri bahwa saat ini ada banyak tren-tren makanan baru yang terkadang jauh dari bayangan para konsumen. Sebut saja burrito nasi padang yang sempat viral beberapa waktu lalu.

Menurutnya, selama sang juru masak menghormati nilai-nilai sejarah dan kultur dari kuliner itu sendiri, maka jenis masakan apapun yang hendak mereka kreasikan sebetulnya tidak akan menimbulkan masalah atau pro dan kontra.

“Buritto Nasi Padang itu lebih ke fusion cuisine. Inovasi ini sah-sah saja, tapi harus enak. Kedua, mereka juga harus respect dengan history dan culture dari tempat makanan itu berasal. Jangan sampai diubah-ubah bahan dasarnya. Contoh, kuah gulai yang harusnya pakai santan malah menggunakan susu krim. Ada beberapa poin yang harus kita hormati,” tutupnya.

(tam)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini