nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Stunting Bisa Dicegah, Begini Caranya

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Rabu 20 Maret 2019 19:30 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 03 20 481 2032740 stunting-bisa-dicegah-begini-caranya-Ik6UTle71m.jpg Cara menyegah stunting (Foto:Validnews)

ISTILAH stunting mungkin sudah tidak asing didengar masyarakat. Kasus stunting  pernah menjadi masalah besar yang dihadapi oleh Indonesia beberapa tahun lalu. Alhasil pemerintah pun akhirnya turun tangan untuk memberantas penyakit yang lebih dikenal dengan kekerdilan tersebut.

Sebagaimana diketahui, stunting merupakan penyakit dimana seseorang mengalami stag atau keterlambatan dalam pertumbuhannya. Hal ini disebabkan karena kurangnya kebutuhan nutrisi yang diperlukan oleh seorang anak.

Alhasil mereka pertumbuhan mereka akan terhambat dan kalah bersaing dengan anak di usia sebayanya. Dokter Gizi Klinis, dr. Nurul Ratna Mutu Manikam, M. Gizi, SpGK menegaskan bahwa stunting sudah bisa terjadi pada anak dengan usia di atas dua tahun.

Ia menambahkan bahwa gejala awal stunting adalah pertumbuhannya yang melambat atau bahkan stag. Tentunya, hal ini akan mengganggu kehidupan sang anak di masa depan. Oleh sebab itu ada baiknya para orangtua untuk memberikan asupan gizi yang tepat bagi para anaknya sejak 1000 hari kelahiran.

Baca Juga:

Mujarabnya si Daun Sirih, Manfaat Nomor 7 Bikin Miss V Keset

Gaya Nia Ramadhani yang Kelewat Seksi saat Ambil Rapot, Netizen Auto-Julid

“Stunting bisa terjadi sejak usia di atas dua tahun. Bisa juga pertumbuhan seseorang stag karena penyakit tertentu. Semuanya disebabkan oleh nutrisi yang diperlukan. Ada baiknya orangtua memberikan nutrisi seimbang sejak dini sebagai modal mencegah stunting,” terang dr. Nurul, saat diwawancara Okezone dalam acara Aksi Nutrisi Generasi Maju SGM, Rabu (20/3/2019).

Lebih lanjut, dr. Nurul mengatakan bahwa stunting bisa dideteksi sejak awal, dengan catatan sang anak rutin melakukan pemeriksaan. Pusat pelayanan kesehatan biasanya menggunakan tabel grafik dari WHO untuk memeriksa anak-anak di bawah usia lima tahun.

Mereka menggunakan tabel grafik perkembangan pertumbuhan yang sampelnya diperoleh dari anak-anak yang tersebar di lima benua di dunia. Alhasil, jika pertumbuhan seorang anak bermasalah, maka dapat terlihat dengan jelas menggunakan tabel grafik yang telah disediakan.

 

“Gagal tumbuh bisa dideteksi sejak awal asakan anak tersebut rutin periksa dan dikontrol. Jika dia stag maka kami sudah aware, biasanya dicek dulu apakah ada penyakit yang menghambat pertumbuhannya atau tidak,” lanjut dr. Nurul.

Selain itu, dr. Nurul juga menjelaskan bahwa seorang anak yang mengalami gagal pertumbuhan pada usia kurang dari lima tahun, masih bisa mengejar ketertinggalan hingga usia 18 tahun. Hal tersebut disebabkan adanya growth hormon yang terus berproduksi hingga usia tersebut.

“Masa pertumbuhan ada di angka 18 tahun. Jadi pertumbuhan masih bisa dikejar karena masih ada gworth hormon. Tapi ketika sudah mendekati 18 tahun ke atas maka hormon tersebut sudah tidak ada lagi. Yang ditakuti adalah perkembangan otak sang anak. Jika sudah tertinggal, maka sulit untuk mengejarnya kembali,” tutupnya.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini