Mengintip Keseruan Siswa SD Jerman Belajar Membatik

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Jum'at 22 Maret 2019 11:44 WIB
https: img.okezone.com content 2019 03 22 612 2033494 mengintip-keseruan-siswa-sd-jerman-belajar-membatik-6uK3sTubCT.jpg

WASTRA atau kain tradisional merupakan salah satu produk budaya Indonesia yang memiliki nilai tinggi. Selain digunakan sebagai pakaian sehari-hari, wastra Nusantara juga dapat dijadikan alat diplomasi yang ampuh untuk mempererat hubungan bilateral.

Potensi ini sebetulnya sudah dipahami dengan baik oleh pemerintah. Buktinya, produk wastra Nusantara seperti Batik kerap digunakan dalam berbagai acara bertaraf internasional. Seperti yang baru saja dilakukan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin, Jerman.

KBRI Jerman mengajak siswa kelas empat SD Bornholmer Grundschule Pankow, untuk merasakan langsung seperti apa sensasi membatik di atas sebuah sapu tangan. Ya, keseruan membatik sebetulnya tidak hanya dirasakan oleh orang-orang dewasa, anak-anak juga bisa menggunakan kegiatan ini untuk mengembangkan kreativitas mereka.

Nah, untuk kegiatan membatik kali ini, KBRI Berlin menghadirkan dua instruktur batik profesional yang diundang langsung dari Indonesia, yaitu Muhamad Nauval dari Sanggar Batik Komar dan Epi Gunawan dari Barli Art Studio.

Dua jenis teknik membatik dipraktikan pada kegiatan tersebut, yaitu batik jumputan dan batik dengan menggunakan canting. Para siswa yang berusia sekitar 9 – 11 tahun tampak sangat antusias. Bagi mereka kegiatan ini dianggap lebih seru dari sekadar menggambar dan mewarnai yang selama ini mereka lakukan.

Hasil karya mereka terlihat lebih nyata yakni berupa selembar sapu tangan. Karya tersebut akan mereka simpan dan banggakan kepada orang tua mereka.

“Nanti kalian bisa tunjukkan dan ceritakan sama orang tua kalian. Ini sapu tangan hasil karya saya. Namanya batik, asalnya dari Indonesia. Kalau masih penasaran, kalian bisa ajak orang tua kalian untuk ke Indonesia untuk melihat lebih banyak lagi karya-karya batik yang unik dan menarik“, demikian ungkap Sartika Oegroseno, istri Dubes RI untuk Jerman, kepada para siswa, seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Okezone, Jumat (22/3/2019).

Baca Juga : 6 Jenis Air yang Harus Kamu Ketahui, Hati-Hati Sebelum Minum

Wanita yang akrab disapa Ibu Titi itu juga mengingatkan para siswa untuk terus mengembangkan imajinasi dan kreatifitas mereka. Mengenali berbagai budaya, terutama yang berbeda dari budaya yang mereka ketahui, menjadi inspirasi untuk memperkaya imajinasi mereka.

“Siswa seusia mereka ini memiliki memori yang sangat kuat. Untuk itu kita berharap melalui kegiatan ini, kata Batik dan Indonesia akan terus tertanam dalam ingatan mereka,“ tambah Ibu Titi. 

Ungkapan kegembiraan mempraktikan batik ini antara lain disampaikan salah seorang siswa bernama Chloe. “Batik jumputan sangat “cool“. Ternyata dengan teknik melipat kain, mengikat dengan karet gelang yang berbeda serta memadukan aneka warna, hasilnya jadi lucu-lucu dan bagus“, cerita Chloe kepada Ibu Titi.

Wali kelas para siswa, Marianne Kudernatsch, mengaku sangat puas dengan kegiatan belajar membatik ini. Ia berharap kegiatan serupa akan bisa berlanjut dengan program seni budaya lainnya.

Keunikan lain dari SD Bornholmer Grundschule ini adalah ternyata di sana ada salah satu guru tamu yang berasal dari Bali, Ni Ketut Warsini. Ia telah mengajar mata pelajaran seni di sekolah tersebut sejak tahun 2016.

Baca Juga : 5 Selebriti Cantik ini Dikenal Punya Kaki Jenjang, Awas Bikin Iri!

Dubes RI untuk Jerman, Arif Havas Oegroseno menambahkan, dalam mempromosikan Indonesia di Jerman dengan konsep branding dan selling, kita ingin mengoptimalkan semua elemen yang ada. Para siswa dan guru di sekolah-sekolah di Jerman merupakan elemen yang potensial.

“Mereka akan menceritakan pengalaman dan pengetahuan yang mereka dapatkan kepada masyarakat lainnya. Dengan begitu Indonesia akan lebih dikenal. Apalagi para siswa sekolah tersebut suatu saat akan menjadi pemimpin dan tokoh yang akan melanjutkan kedekatan hubungan bilateral Indonesia – Jerman,” ungkapnya.

Kegiatan praktik membatik bagi para siswa SD Bornholmer ini merupakan bagian dari program memperkenalkan batik kepada publik Jerman. Sebelumnya KBRI Berlin bersama Muhammad Nauval dan Epi Gunawan juga melakukan kegiatan praktek membatik untuk perhimpunan Willkommin in Berlin dan Tour Operator di Jerman.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini