nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bukan Jadi Atlet eSport, Ini Ciri Orang Kecanduan Game

Dewi Kania, Jurnalis · Minggu 24 Maret 2019 11:02 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 03 23 612 2034099 bukan-jadi-atlet-esport-ini-ciri-orang-kecanduan-game-AvRoLy7SPM.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

BERMAIN video game jadi salah satu aktivitas favorit banyak orang untuk mengisi waktu senggang. Tak jarang membuat banyak orang kecanduan yang tak baik dampaknya.

Mulai dari kalangan anak-anak sampai dewasa sangat menyukai permainan video game. Bahkan seiring berjalannya waktu, banyak jenis game yang bisa dimainkan. Sebagian dimainkan lewat perangkat, Komputer atau ponsel game ternyata juga bisa dimainkan di media sosial.

Tapi hati-hati, jika terlalu asyik main video game, berpotensi menghabiskan banyak waktu. Karena para pemain berusaha berulang kali ingin menang. Alih-alih hal itu bisa menyebabkan kecanduan.

Sebagian peneliti menyebut bahwa bermain video game adalah kegiatan yang berbahaya atau membuat ketagihan. Apalagi orang rela menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermain video game, dengan mengorbankan tugas sekolah, latihan fisik, acara keluarga, atau kegiatan sosial.

Baca Juga: Diam-Diam Dokter Ini Menghamili 50 Wanita dan Punya 48 Anak, Kasusnya Baru Terungkap

Psychology Today menyatakan bahwa perbandingan antara main video game dan perjudian sama buruknya. Bahkan, kecanduan video game dapat dianggap sebagai jenis gangguan kontrol impuls.

Ketika bermain game dapat melepas dopamin, hormon yang dikeluarkan seseorang saat kecanduan. Walau fungsinya dapat meningkatkan suasana hati dan memberikan aliran energi, tapi bisa memicu adiktif.

Dampak negatifnya bisa mengubah sikap budaya, perkembangan psikologis, dan pilihan gaya hidup anak-anak dan orang dewasa. Emosi seseorang bahkan tidak terkontrol akibat kecanduan.

Ketika kecanduan, seseorang bisa melakukan perawatan untuk mengatasinya. Fokusnya pada terapi modifikasi perilaku, seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT), yang memandu klien menjauh dari pola pikir obsesif.

Terapi ini dapat memberikan motivasi dan dukungan moral yang berharga, terutama bagi individu yang kehilangan kontak dengan teman atau orang-orang di sekitarnya. Soal efektivitasnya, terapi ini lumayan membantu karena dampaknya bisa mengubah perilaku. Bukan Jadi Atlet eSport, Ini Ciri Orang Kecanduan Game

BERMAIN video game jadi salah satu aktivitas favorit banyak orang untuk mengisi waktu senggang. Tak jarang membuat banyak orang kecanduan yang tak baik dampaknya.

Mulai dari kalangan anak-anak sampai dewasa sangat menyukai permainan video game. Bahkan seiring berjalannya waktu, banyak jenis game yang bisa dimainkan. Sebagian dimainkan lewat perangkat, Komputer atau ponsel game ternyata juga bisa dimainkan di media sosial.

Baca Juga: Viral Penjual Bakmi Cantik di Pluit yang Bikin Gagal Fokus


Tapi hati-hati, jika terlalu asyik main video game, berpotensi menghabiskan banyak waktu. Karena para pemain berusaha berulang kali ingin menang. Alih-alih hal itu bisa menyebabkan kecanduan.

Sebagian peneliti menyebut bahwa bermain video game adalah kegiatan yang berbahaya atau membuat ketagihan. Apalagi orang rela menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermain video game, dengan mengorbankan tugas sekolah, latihan fisik, acara keluarga, atau kegiatan sosial.

Psychology Today menyatakan bahwa perbandingan antara main video game dan perjudian sama buruknya. Bahkan, kecanduan video game dapat dianggap sebagai jenis gangguan kontrol impuls.

Ketika bermain game dapat melepas dopamin, hormon yang dikeluarkan seseorang saat kecanduan. Walau fungsinya dapat meningkatkan suasana hati dan memberikan aliran energi, tapi bisa memicu adiktif.

Dampak negatifnya bisa mengubah sikap budaya, perkembangan psikologis, dan pilihan gaya hidup anak-anak dan orang dewasa. Emosi seseorang bahkan tidak terkontrol akibat kecanduan.

Ketika kecanduan, seseorang bisa melakukan perawatan untuk mengatasinya. Fokusnya pada terapi modifikasi perilaku, seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT), yang memandu klien menjauh dari pola pikir obsesif.

Terapi ini dapat memberikan motivasi dan dukungan moral yang berharga, terutama bagi individu yang kehilangan kontak dengan teman atau orang-orang di sekitarnya. Soal efektivitasnya, terapi ini lumayan membantu karena dampaknya bisa mengubah perilaku.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini