nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Surabaya Terapkan Air Kran Langsung Minum, Bagaimana Menjamin Keamanannya?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 25 Maret 2019 09:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 03 25 481 2034475 surabaya-terapkan-air-kran-langsung-minum-bagaimana-menjamin-keamanannya-c6KoiYbMRo.jpg Minum Air Putih (Foto: Zeenews)

KITA sudah tak asing lagi dengan air langsung minum di luar negeri. Beberapa negara maju sudah menerapkan ini sebagai bentuk pemenuhan air minum rumah tangga bagi rakyatnya.

Kabar mengejutkan datang dari Surabaya, Jawa Timur. Di kawasan Ngagel Titro V, sekitar 500 rumah sudah teralirkan air siap minum. Proyek ini dikerjakan oleh PDAM yang mana juga sebagai bentuk pemenuhan ketersediaan air minum masyarakat. Tapi, apakah konsep air kran langsung minum ini benar bisa diterapkan bagi masyarakat Indonesia yang terbiasa dengan memasak air terlebih dulu?

Anda mesti paham dulu kalau yang namanya air kran langsung minum itu adalah air yang dipastikan tidak mengandung bakteri E.Coli. Bakteri ini menjadi salah satu tolak ukur dari keamanan air minum. Jika dalam air minum mengandung bakteri E.Coli, maka dipastikan air tersebut tidak layik untuk diminum.

Baca juga :

Bakteri ini mesti disingkirkan karena bisa menyebabkan beberapa masalah kesehatan, seperti diare, sakit perut, demam, hingga adanya masalah serius dalam saluran pencernaan. Dalam laman Web MD dijelaskan, bakteri E.Coli juga menghasilkan racun dalam tubuh yang biasa disebut dengan Shiga. Racun ini merusak lapisan usus Anda. Strain E.Coli yang membuat toksin kadang-kadang disebut STEC, yang merupakan kependekan dari "Shiga E.Coli penghasil racun."

Namun, dampak paparan bakteri ini tidak bisa langsung dirasakan. Biasanya bakteri ini akan beraksi di tubuh Anda 2 sampai 3 hari. Gejala yang biasanya dirasakan adalah kram perut, diare mendadak bahkan bisa diserta dengan pendarahan, mual, dan kelelahan tubuh yang berlangsung konstan. Tentu, kalau sudah mengalami ini, Anda wajib memeriksakan diri ke dokter.

Kembali ke pembahasan apakah air kran langsung minum dapat menjamin kualitas?

Jika melihat kasus di luar negeri sendiri, dari laman Women's Health Magz biaa diketahui pada 2017, lumpur kimia dari produsen sepatu ditemukan di air keran Plainfield Township, Michigan. Daerah ini terletak sekitar 120 mil dari Flint, di mana, pada 2015, kadar timbal berbahaya ditemukan dalam pasokan air minum kota. Para ahli segera mengaitkan air yang tercemar itu dengan wabah lokal penyakit Legionnaire (bentuk parah pneumonia). Lebih dari selusin orang meninggal, tingkat kesuburan anjlok, dan korban anak-anak yang mengancam kesehatan mereka tak terhitung jumlahnya.

Michigan bukan satu-satunya negara dengan kekhawatiran air. Dewan Pertahanan Sumber Daya Alam (NRDC), sebuah kelompok advokasi lingkungan nirlaba, menemukan pada 2015 (tahun terakhir yang tersedia), seperempat orang Amerika minum air dari sistem yang melanggar aturan yang ditetapkan oleh Safe Watering Water Act. (Dan itu tidak termasuk lebih dari 13 juta sistem sumur pribadi yang dikecualikan dari persyaratan keselamatan federal).

Setidaknya 6 juta pipa air kota di AS terbuat dari logam, yang sangat berbahaya sehingga tidak ada tingkat aman yang dapat diterima dan banyak pemerintah daerah di sana yang memiliki anggaran yang tipis untuk penggantian, kata Erik Olson, direktur kesehatan dan makanan di NRDC.

Bukan hanya pipa ledeng buruk yang menjadi masalahnya, air dari sumber seperti danau, sungai, dan air tanah tercemar oleh tingkat senyawa alami yang mengkhawatirkan seperti arsenik, bahan kimia buatan manusia, dan limpasan pertanian seperti limbah hewan, pupuk, dan pestisida. Pabrik pengolahan yang dirancang untuk menghilangkan kontaminan tidak selalu beroperasi secara normal (kebanyakan menggunakan teknologi yang sudah berusia seabad). Terkadang penghuni tidak segera diberi tahu kapan masalah ditemukan.

So, apakah Anda sudah berani beralih ke air kran langsung minum?

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini