nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gaji Ratusan Juta Tapi Masih Korupsi, Apa Kata Psikolog?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 26 Maret 2019 09:46 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 03 26 612 2034992 gaji-ratusan-juta-tapi-masih-korupsi-apa-kata-psikolog-0B48k1NU0O.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PEMBERITAAN di media masa belakangan ini gencar menginformasikan kasus korupsi di kalangan petinggi negara atau juga pihak swasta. Berita semacam ini seperti tidak ada habis-habisnya.

Padahal, kalau dipikir-pikir, hidup kebanyakan para pelaku korupsi sudah bergelimang harta dan juga tentunya kekuasaan. Lalu, pertanyaan ini muncul, kenapa mereka masih tergiur untuk menerima suap? Apa masih kurang cukup duit segepok?

Kasus korupsi Direktur Teknologi dan produksi PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), Wisnu Kuncoro misalnya. Dalam beberapa pemberitaan, dijelaskan di sana kalau Wisnu ditangkap KPK dengan dugaan menerima suap dari pihak swasta untuk pengadaan barang dan jasa anggaran 2019.

Baca Juga: 5 Tampilan Seksi Isabela Dora The Explorer Moner, Rela deh Tersesat Bareng

Sebagai Direksi BUMN, Wisnu bergaji besar. Mengutip laporan tahunan emiten berkode KRAS untuk kinerja tahun 2017 yang disampaikan pada 2018 lalu, total gaji seluruh direksi dalam setahun adalah Rp 11,4 miliar.

Selain itu, direksi juga mendapatkan tunjangan Rp 2,4 miliar dan asuransi purna jabatan Rp 2,5 miliar. Total remunerasi untuk seluruh direksi BUMN produsen besi baja itu dalam setahun, mencapai Rp 16,3 miliar.

Adapun jumlah direksi di manajemen Krakatau Steel sebanyak 6 orang. Sehingga rata-rata penghasilan yang diterima setiap anggota direksi KRAS sebesar Rp 2,7 miliar per tahun atau Rp 226,4 juta per bulan. Dengan kata lain, pendapatan per bulan Wisnu sekitar Rp 226,4 juta!

Bukan angka yang kecil, bukan? Lalu, apa yang membuat seseorang seperti Wisnu dan pelaku korupsi lainnya masih saja tergoda bujuk rayu uang panas?

Baca Juga: Chelsea Islan dan Iriana Jokowi Naik Transjakarta Bareng, Netizen: Semoga Jadi Mantu Pak Jokowi

Pada Okezone, Psikolog Klinis Meity Arianty coba menjelaskan jawabannya. Memang, saat ini banyak yang kasus korupsi yang terungkap dan seakan tidak ada habisnya.

"Hal ini bisa terjadi karena tidak adanya ketegasan dari pemerintah dalam memberikan hukuman yang setimpal dengan perbuatan koruptor. Di beberapa negara, pelaku korupsi akan merasa sangat malu dengan mundur dari jabatan, belum lagi sanksi moral yang diterimanya. Tapi di negeri kita? Masih bisa mencalonkan diri sebagai wakil rakyat," ungkap psikolog yang biasa disapa Mei.

Contoh lain adalah korupsi di Kementrian Agama. Mungkin, sebagian dari kita menganggap mereka cukup memahami agama dalam konteks yang benar. Tapi, faktanya justru banyak yang tertangkap. "Jadi seperti lingkaran setan," tegas Psikolog Mei.

Lantas, apa sebetulnya yang mendasari seseorang dengan ekonomi sudah sangat cukup tapi tetap tergiur korupsi? Dia menyebut dua faktor utama mengapa seseorang korupsi, yakni rendahnya nilai moral dan agama. Tapi, lingkungan juga memegang peranan dalam menciptakan kultur seseorang melakukan korupsi.

"Jadi, dengan siapa dia berinteraksi dan bagaimana peran orang-orang yang berada di sekelilingnya menjadi penting, apakah seseorang itu dikelilingi orang-orang baik atau tidak," ujarnya.

Padahal, secara kognitif mereka mampu membedakan mana yang baik dan benar, namun faktanya perbuatan yang mereka lakukan dilakukan dengan sadar. Artinya, lanjut dia, bukan pendidikan yang menentukan tapi moral mereka, karena yang melakukan tindakan korupsi jelas sadar akan tindakannya.

"Harusnya dari dalam diri mereka ada rasa malu, karena mereka tahu kok itu salah dan merugikan orang lain. Bahkan mereka tahu kalau mereka makan dan memberi nafkah keluarganya dengan uang haram. Lantas masih tetap dilakukan? Apa lagi bahasa yang paling tepat untuk orang seperti ini?" tutur Psikolog Mei.

Menurutnya, orang-orang seperti ini patut dikasihani, karena mereka seolah tidak bisa mengendalikan nafsu yang ada di dalam dirinya, sehingga terkesan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. "Seperti remaja atau ABG yang memiliki kontrol diri rendah, sehingga tindakan yang dilakukan seolah tidak dipikirkan dengan matang," tegasnya.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini