nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Prostitusi Online Mulai Menyasar Anak, KPAI: Pemerintah Harus Sosialisasikan Literasi Digital

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Jum'at 29 Maret 2019 17:46 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 03 29 196 2036758 prostitusi-online-mulai-menyasar-anak-kpai-pemerintah-harus-sosialisasikan-literasi-digital-g7MlSfe8lg.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) baru saja merilis data mengejutkan di triwulan pertama 2019. Selama periode ini, KPAI telah mengawasi dan memantau 8 kasus prostitusi anak yang kini sudah ditangani kepolisian.

Namun jika menilik data anak korban trafficking dan eksploitasi pasa tahun 2018, kasus prostitusi pada anak paling dominan mencapai 93 kasus dibandingkan dengan kasus lainnya, seperti anak korban perdagangan.

Disebutkan oleh Ai Maryati Solihah, selaku Komisioner Bidang Trafficking dan Eksploitasi Anak, kasus-kasus tersebut tersebar hampir merata di berbagai penjuru Indonesia dengan persentase jumlah korban pada setiap kasus rata-rata di atas 3 orang.

Pada Januari 2019 saja 5 anak dilibatkan dalam prostitusi etalase seks di Bali, kemudian prostitusi juga menyasar pelajar di Lampung Timur.

Baca Juga: Syahrini Kalap Makan Oyster Lagi, Biar Greng di Ranjang?

“Paling terbaru, adalah prostitusi online 8 anak di Ambon. Kemudian ada juga anak dalam gurita protitusi secara live streaming di Jakarta Barat, dan kasus-kasus terbaru lainnya di Bengkulu, Blitar, Jakarta Utara, dan Tanjung Pinang,” tegas Ai Maryati Solihah, dalam konferensi pers Hasil Pengawasan KPAI Triwulan pertama 2019, Jakarta Pusat, Jumat (29/3/2019).

Lebih lanjut, Ai menjelaskan, data tersebut menunjukkan adanya fenomena gunung es pada kasus prostitusi anak yang terus mengeras dan sulit untuk diurai. Mengingat saat ini tren rekruitmen perdagangan anak sudah mulai merambah di dunia digital atau online, KPAI merekomendasikan sejumlah solusi kepada pemerintah Indonesia dan lembaga-lembaga terkait.

Solusi pertama adalah memberikan pendidikan kesehatan reproduksi dan literasi digital untuk anak dan orangtua. Hal ini dinilai penting mengingat masih banyak orang yang belum mendapatkan informasi secara komprehensif, sehingga memicu timbulnya pemahaman yang keliru.

Baca Juga: Sederet Makanan yang Boleh dan Tidak Dikonsumsi Bayi Meghan Markle Kelak

“Untuk 2019 awal ini, selain pendidikan reproduksi yang harus digenjot adalah literasi digital. Kominfo harus punya terobosan baru baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat. Kita jangan berpikir hal-hal yang sifatnya hiburan dulu. Tapi edukasi dulu,” ungkapnya.

Ai mengatakan, salah satu hal penting yang harus diperhatikan pemerintah adalah merancang sebuah manajemen yang memumpuni untuk menghadapi arus teknologi yang semakin deras.

“Jadi, kalau pun tidak bisa dicegah, bisa langsung dilakukan penanganan. Contoh kecilnya, sebelum anak-anak diberi tugas, kasih tahu dulu apa itu literasi digital. Memang sudah ada metode yang umum. Tapi orangtua maupun guru harus bisa mengelola, menyeleksi, dan mengevaluasi fungsi-fungsi digital,” tukasnya.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini