nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ketika Para Santri Ikut Meriahkan Indonesia Fashion Week 2019

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Sabtu 30 Maret 2019 22:50 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 03 30 194 2037234 ketika-para-santri-ikut-meriahkan-indonesia-fashion-week-2019-xcFMJUtBC8.jpg

AJANG Indonesia Fashion Week (IFW) 2019 yang bersebelahan dengan arena Kongres Santri dan Rapat Kerja Forum Santri Nasional (FSN) I di Jakarta Convention Center (JCC) menjadi momentum tersendiri buat para santri dari berbagai daerah untuk menyaksikan perhelatan fesyen muslim yang ditampilkan dalam IFW 2019.

“Kita ikut menyaksikan saja. Kebetulan agenda Raker FSN juga sudah selesai. Ke depan, mudah-mudahan FSN juga bisa turut serta dalam IFW, karena banyak juga potensi di bidang desain busana, modelling maupun fotografinya,” ujar Katib Amm FSN, Gus Mashudi Abdurrahman, Sabtu (31/3/2019).

Menurut Gus Uday, ajang fashion show bernilai positif untuk mempromosikan busana tradisional dan potensi wisata di Indonesia. Santri, menurut Gus Uday punya tradisi busana yang bisa jadi trend model nasional bahkan internasional.

“Sarung dan peci kan sudah jadi salah satu dari identitas nasional. Bahkan Bung Karno dan para Founding Father Indonesia, dulu menjadikan Peci sebagai busana resmi saat melakukan kunjungan ke berbagai negara,” imbuhnya.

Menurut Gus Uday, selain menjadi identitas nasional, kopiah juga menjadi ciri budaya keagamaan seseorang. Warisan budaya leluhur ini terus dipakai sebagai identitas sekaligus estetika.

Baca Juga : Seksinya Angela Gilsha saat Main Air, Awas Ikutan Basah

Bagi laki-laki, peci kopiah bukan hanya menjadi pelengkap pakaiannya ketika busana beribadah, saja atau hanya sekadar dipakai untuk melindungi kepala dari terpaan langsung sinar matahari. Bagi bangsa yang beragama. Lebih dari itu, kopiah digunakan untuk menyatakan diri sebagai muslim sekaligus menandakan sebuah gaya hidup yang agamis.

Sementara Ketua Panitia Kongres Santri dan Wakil Rais Amm FSN, Gus Arif Rahmansyah Marbun mengungkapkan, Kongres pertama FSN menghasilkan sejumlah rekomendasi untuk memperkuat kapasitas santri dan kelembagaan pesantren.

“Penguatan kapasitas santri itu melalui pelatihan life skill dan pengembangan minat dan bakat santri, termasuk di bidang desain grafis, desain busana dan lain-lain. Kita perkuat SDM santri. Kita kobarkan cita-cita FSN sebagai poros baru kemasyarakatan dan kebangsaan,” imbuhnya.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini