nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Berburu Bintang dan Gugusan Bima Sakti di Tanjung Lesung

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Senin 01 April 2019 19:45 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 04 01 406 2037844 berburu-bintang-dan-gugusan-bima-sakti-di-tanjung-lesung-CH3X5QRUSm.jpg Berburu bintang di Tanjung Lesung (Foto:Dodi/Oeday)

KEHENINGAN malam mendadak pecah saat suara dua orang pria terdengar saling bersahutan dari depan teras. Pukul setengah satu dini hari tadi, Senin (1/4/2019), langit memang sedang indah-indahnya. Hamparan bintang dan semburat sinar bulan yang memantul di atas permukaan laut terlihat begitu memesona.

Momen inilah yang tengah diperbincangkan Dody Wiraseto dan Fachruddin Abdullah (Oeday), dua orang fotografer handal yang ku juluki sang pemburu bintang. Sejak menginjakkan kaki di Tanjung Lesung, mereka sudah berencana mengabdikan gugusan bimasakti jikalau cuaca bersahabat.

Lokasi yang mereka pilih kali ini bukan sembarang tempat, melainkan sebuah pantai yang berada di kawasan Tanjung Lesung Resort, tempat di mana para personel group band Seventeen dan pengunjung lainnya terhantam ombak tsunami, pada 22 Desember 2018.

Berbekal dua kamera digital, tripod, lensa lebar, senter kecil, dan beberapa puntung rokok, malam itu, mereka putuskan untuk berburu bintang.

“Mas, ikut enggak?,” ajak Dodi ketika memergoki ku sedang mengintip dari balik jendela.

 

(Dodi)

Tanpa pikir panjang, aku langsung bergegas menyambangi mereka.

“Kapan lagi bisa merasakan suasana pantai yang tenang sembari mendengarkan suara deburan ombak dan memandangi bintang-bintang di langit. Syukur-syukur ada bintang jatuh, biar bisa sekalian membuat harapan,” gumamku.

Kami berjalan secara perlahan melewati deretan rumah di kanan-kiri yang dihiasi lampu jalan kuning temaram. Setelah kurang lebih tujuh menit, langkah kaki Oeday tiba-tiba terhenti saat tiba di lokasi terparah yang terdampak bencana tsunami.

Bukan tanpa sebab, jalan setapak yang dulunya digunakan sebagai jogging track di tempat ini, hancur luluh lantah hingga menampakkan akar-akar pohon yang mencuat dari permukaan tanah. Alhasil, kami harus memutar arah agar bisa sampai di tempat tujuan.

Di dekat situ, sebetulnya juga terdapat sebuah rumah kosong yang belum selesai direnovasi.

“Dulu disini banyak rumah (cottage) mas, tapi kayaknya ikut hancur saat bencana. Nah, di depan sana karangnya juga besar-besar. Sekarang sudah tidak ada,” kenang Dodi.

 

(Dodi)

Lampu senter terpaksa dinyalakan mengingat posisi kami sudah cukup jauh dari resort. Pihak pengelola memang belum memasang kembali lampu jalan yang rusak.

Sekitar 200 meter dari halaman belakang resort, kami mendapatkan spot terbaik untuk mengabadikan hamparan bintang yang terlihat begitu terang dan menenangkan.

Oeday dan Dodi pun langsung bergegas menyiapkan peralatan ‘perang’ mereka. Dua pasang tripod tertancap kokoh di sela-sela batu karang. Raut wajah mereka terlihat serius saat membidik angle untuk mendapatkan hasil foto yang spektaktuer, meski sesekali disisipi obrolan ringan untuk memecah suasana hening.

Menurut penuturan Oeday, belum banyak yang menyadari bahwa Tanjung Lesung merupakan salah satu spot terbaik untuk berburu foto bintang atau lebih dikenal dengan istilah milky way. Selain karena udara di sekitar tempat ini jauh dari polusi, suasana tempatnya yang tenang menjadi salah satu nilai tambah.

“Cuman ada 2 tempat yang cocok untuk berburu bintang. Pantai dan gunung. Di kedua tempat ini udaranya lebih bersih (clear) jadi hasilnya juga memuaskan. Nah, kalau untuk pantai, Tanjung Lesung ini oke banget. Jarak pandangnya luas karena kita bisa ambil dari pinggir laut, saat air surut,” jelasnya.

Hal senada juga disampaikan Dodi. Kelebihan Tanjung Lesung dari destinasi wisata lainnya terletak pada garis milky way yang lebih panjang, banyak ruang terbuka, dan polusi cahayanya sangat minim.

 

(Oeday)

“Kita sebagai fotografer jadi lebih mudah eksplorasi karena ruang terbukanya yang lebih luas. Yang perlu diperhatikan paling air pasang menjelang shubuh“, ujar fotografer dari Lion Magz itu yang baru saja menjuarai kompetisi Anugerah Pewarta Wisata Indonesia 2018 besutan Kementerian Pariwisata.

Okezone pun penasaran dengan hasil foto mereka. Hasilnya ternyata benar-benar cantik dan mengagumkan. Taburan bintang-bintang yang menghiasi langit pantai berpadu syahdu dengan gugusan bimasakti nan cantik.

Namun sayang, perburuan terpaksa kami akhiri, karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah tiga dini hari. Kami harus kembali ke resort untuk beristirahat, karena selepas shalat Shubuh, Oeday dan Dodi akan kembali ke tempat yang sama untuk berburu sunrise.

Pemandangan Tanjung Lesung saat sunsrise memang sangat menakjubkan. Matahari yang perlahan mulai naik di iringi latar laut biru dan pepohonan kelapa rindang, memaparkan pemandangan yang sulit diutarakan dengan kata-kata.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini