Penyebab Bibir Sumbing Masih Misterius, Ribuan Kasus Bermunculan Tiap Tahun

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Selasa 02 April 2019 19:26 WIB
https: img.okezone.com content 2019 04 02 481 2038382 penyebab-bibir-sumbing-masih-misterius-ribuan-kasus-bermunculan-tiap-tahun-6UIFyVpAex.jpg Ilustrasi Bibir Sumbing (Foto : Dickaplit)

SETIAP orangtua pasti ingin anaknya terlahir sempurna dan bisa berkembang layaknya manusia normal pada umumnya. Sayangnya, beberapa anak kurang beruntung sejak ia terlahir ke dunia.

Ya, salah satu kondisi lahir yang bisa dialami oleh anak sejak lahir adalah kondisi lahir bibir sumbing dan sumbing langit-langit. Berdasarkan penelitian, 1 dari 700 kelahiran di Asia terdapat bayi yang terlahir dalam kondisi bibir sumbing atau sumbing langit langit, dengan laju pertumbuhan kelahiran di Indonesia terdapat bayi lahir dengan kondisi tersebut 8.000 – 9.000 kasus per tahun.

Tentunya cukup banyak sekali anak-anak yang mengalami kondisi terlahir dengan bibir sumbing dan sumbing langit-langit saat ini. Hal ini dibenarkan oleh Program Director sekaligus Country Manager Indonesia, SmileTrain, Deasy Larasati. Menurutnya, bibir sumbing bukanlah kecacatan permanen melainkan kelainan kondisi lahir yang menyebabkan pertumbuhan bagian tubuh seorang anak menjadi kurang sempurna.

Ia menegaskan hingga saat ini belum diketahui penyebab pasti bagaimana bisa terjadi kasus bibir sumbing pada anak. Namun, beberapa faktor seperti ibu hamil yang kekurangan nutrisi berpotensi membuat bayi lahir dengan kondisi bibir sumbing atau sumbing langit langit.

"Penyebab pastinya belum dapat dipastikan, tapi bibir sumbing bisa terjadi karena beberapa faktor. Ketidaktahuan seorang wanita bahwa dirinya sedang hamil kemudian minum obat penghilang rasa sakit tanpa resep dokter," tutur Deasy, kepada Okezone dalam acara Baksos Bibir Sumbing Mitra Keluarga Depok.

Deasy juga menegaskan bahwa operasi bibir sumbing dan langit-langit membutuhkan biaya cukup besar, satu kali tindakan operasi bisa menghabiskan biaya puluhan juta rupiah. Dia mencontohkan, pasien yang ditangani RS Mitra Keluarga biaya operasinya sekira Rp30 juta untuk bibir sumbing dan sumbing langit-langit biayanya lebih mahal. Tapi di kesempatan Bakti Sosial ini semua pasien dibantu gratis dengan penanganan yang sama dengan pasien berbayar mulai dari dokternya, obat obatan dan fasilitas lainnya.

Deasy menambahkan, penderita bibir sumbing dan langit-langit juga kerap mengalami masalah psikologis. Tak hanya dari luar keluarga, bahkan tak sedikit dari orang terdekat mereka pun kerap menelantarkannya.

"Begitu lahir tak sedikit anak ditolak oleh ibunya sendiri. Jangankan memberi ASI, sekadar memegang anak pun mereka tidak mau. Alhasil banyak anak yang ditinggalkan oleh orangtua dan dititipkan di panti asuhan atau diasuh oleh kakek neneknya. Ada pula yang menerima tapi tidak melakukan apa-apa untuk mencari tahu bantuan operasi anak tersebut," lanjutnya.

Lebih lanjut penderita bibir sumbing dan langit-langit juga tidak bisa sembarangan dalam melakukan operasi. Mereka harus melewati berbagai persyaratan agar bisa dioperasi. Beberapa di antaranya adalah usia serta berat badan yang cukup, serta harus melewati tes kesehatan dan mendapat izin dari dokter yang bersangkutan.

"Usia yang tepat untuk melakukan operasi pertama kalinya adalah tiga bulan dengan berat minimal lima kilogram, sementara operasi kedua pada usia satu tahun dengan berat minimal 10 kilogram. Apabila diperlukan operasi ketiga untuk pembentukkan gigi, bisa dilakukan pada usia delapan tahun ," tutupnya.

Direktur Mitra Keluarga Depok, drg. Elisabeth Setyodewi, MM, menjelaskan tahun ini timnya memilih program operasi bibir sumbing dan langit-langit gratis karena melihat banyaknya penderita yang tidak bisa berobat akibat keterbatasan ekonomi. Selain itu pihaknya juga memiliki dokter bedah plastik yang tertarik untuk melakukan operasi bibir sumbing dan langit-langit.

"Dokter bedah plastik tertarik untuk melakukan operasi bibir sumbing dan langit-langit, ia pun ahli dalam melakukan hal ini dan hasilnya pun baik. Pesertanya banyaknya menengah ke bawah, jadi oprasi bibir sumbing dan langit-langit ini kami putuskan menjadi baksos tahun ini," terang drg. Elisabeth.

Sekira 28 peserta bibir sumbing dan langit-langit ikut mendaftar dalam aksi baksos kali ini. Namun, setelah melewati seleksi ada sekira 20 orang yang dinyatakan bisa melakukan operasi, tapi satu peserta dinyatakan mundur dan hanya tersisa 19 orang.

"Ada 19 orang yang melakukan operasi bibir sumbing dan langit-langit secara gratis. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia. Ada yang datang dari Bangka Belitung, dan kami juga memberikan penginapan gratis bagi mereka," tuturnya.

Salah satu pasien yang mengikuti program operasi bibir sumbing dan langit-langit secara gratis adalah Arfadhitya Jailani. Ia mengikuti operasi bibir sumbing tahap pertama di usianya yang menginjak tiga bulan 27 hari. Sang ayah dengan sabar menunggu buah hatinya hingga keluar dari ruang operasi.

"Anak saya telah menderita bibir sumbing dan langit-langit sejak lahir. Untungnya kami tidak mengalami kesulitan selama tiga bulan sejak kelahirannya. Pasalnya dokter telah memberikan selang yang langsung menuju perut untuk mensuplai susu formula dan ASI yang menjadi makanannya," ucap orang tua Arfadhitya.

Orangtua Arfadhitya yang tinggal di daerah Fatmawati, Jakarta Selatan mengaku sangat terbantu dengan adanya operasi ini.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini