nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mencicipi Segarnya Dawet Nganten Waduk Cengklik Boyolali, Beda dari Biasa!

Agregasi KR Jogja, Jurnalis · Jum'at 05 April 2019 14:34 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 04 05 298 2039407 mencicipi-segarnya-dawet-nganten-waduk-cengklik-boyolali-beda-dari-biasa-NeMhJU0RAM.jpg Dawet. (Foto: Solopos)

Alfina, 19, dan Fajar, 21, turun dari sepeda motor di depan sebuah warung bercat hijau di pinggir jalan Desa Ngesrep-Desa Ngargorejo, Kecamatan Ngemplak, Boyolali.

Tepat di sisi selatan Waduk Cengklik sebuah warung bertuliskan Dawet Nganten menarik perhatian mereka berdua. Tak lama setelah memarkir motor di tepi jalan keduanya memasuki warung. Warung itu terbuka dan hanya beratapkan seng.

Sejumlah meja lesehan dan bangku sebagai tempat duduk tertata berjajar. Sebuah papan yang juga ditempeli tulisan Dawet Nganten sebagai brand produk menjadi pembatas warung dengan jalan.

Baca Juga: Gaya Imut Dokter Nadia Alaydrus, Bisa-Bisa Gak Mau Sembuh Nih

Setelah memesan dua mangkuk dawet, Alfina dan Fajar memilih duduk lesehan. Mereka bercakap-cakap sembari menunggu pesanan datang. “Penasaran karena namanya yang unik, belum pernah melihat juga,” tutur Alfina.

Meski kerap wira-wiri di jalan Desa Ngesrep, warung ini baru disadari keduanya sepekan belakangan. “Karena hari ini pas lewat kebetulan buka ya sekalian mampir,” imbuh dia.

Sekitar sepuluh menit kemudian, dua mangkuk dawet terhidang di meja. Tak seperti dawet kebanyakan yang berwarna hijau, Dawet Nganten justru berwarna bening. Sang pemilik warung, Eko Saputro, memang sengaja membuat dawet yang berbeda.

Baca Juga: Seksinya Tasya Rosmala, Biduan Pantura yang Hobi Berpakaian Ketat

“Kalau biasanya hijau, ini tidak dikasih pewarna tapi bahan dasar tetap sama sehingga warnanya putih,” tutur warga Desa Sobokerto, Kecamatan Ngemplak.

Semangkuk Dawet Nganten dijual Eko dengan harga Rp3.000. Ukuran mangkoknya relatif kecil layaknya mangkok di wedang ronde. Selain menikmati dawet, di warung ini juga menyediakan jajanan tambahan seperti tape ketan dan rambak. “Wah rasanya enak, manisnya pas,” tutur Fajar, saat dimintai komentar.

Eko membuka usaha warung Dawet sejak pertengahan Desember 2018 lalu. Dia tidak memiliki alasan khusus terkait pemilihan jenis usaha ini. “Hanya memikirkan makanan yang merakyat dan cocok di lidah banyak orang, apalagi di sini dekat dengan tempat wisata,” kata dia.

Toko Kelontong

Berdagang memang sudah menjadi pekerjaan Eko, selain warung dawet dia lebih dahulu membuka sebuah toko kelontong di kawasan yang sama.

Perihal pemilihan nama, Eko pun mencetuskannya secara spontan. Dia hanya berusaha mencari nama yang unik dan mudah diingat banyak orang sehingga warungnya gampang melekat di hati banyak pelanggan. “Tercetuslah nama Dawet Nganten ini, sekaligus bisa jadi doa,” imbuh dia.

Sebagai strategi promosi, Eko sempat menempelkan beberapa poster berbahan MMT bertuliskan Dawet Nganten di sepanjang jalan Ngesrep-Ngargorejo.

Hasilnya kini dalam sehari Eko berhasil menjual hingga 100 porsi Dawet. Warung Dawet Nganten buka sejak pagi sekitar pukul 09.30 WIB dan tutup saat semua porsi dawet ludes.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini