nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ribuan Orang Hadiri Ritual Labuhan Merapi

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 08 April 2019 11:26 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 04 08 406 2040443 ribuan-orang-hadiri-ritual-labuhan-merapi-V57hU65kSJ.jpg

RIBUAN orang dari berbagai daerah antusias mengikuti ritual Labuhan Merapi dalam rangka Tingalan Jumenengan Ndalem Raja Keraton Yogyakarta.

Seusai salat subuh, Minggu 7 April, warga sudah berbondong-bondong menuju tempat awal prosesi ritual labuhan di petilasan kediaman juru kunci Merapi (alm) Mbah Maridjan, Kinaherjo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, DIY. Bahkan, beberapa rombongan dari luar daerah sudah bermalam di tempat ini. Menjelang prosesi ritual dimulai, warga yang akan mengikuti kegiatan tersebut terus berdatangan.

“Saya sengaja datang bersama rombongan sejak tadi malam. Kami menginap di sini, sekaligus mengikuti beberapa acara rangkaian labuhan,” ujar warga Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng), Deri, 25, yang mengikuti Labuhan Merapi tersebut.

Deri mengaku baru pertama kali mengikuti ritual itu. Selain ingin mengetahui cara prosesi Labuhan Merapi, dia juga berharap selalu mendapatkan keselamatan dan ketenteraman jiwa. Yang jelas, tepat pukul 07.00 WIB, juru kunci Gunung Merapi Mas Kliwon Surakso Harga alias Mas Asih me mim - pin labuhan di Gunung Merapi.

Prosesi tersebut diawali dengan memanjatkan doa yang dipimpin langsung Asih. Setelah itu perarakan labuhan yang dipimpin Asih diikuti oleh abdi dalem dan ribuan warga mulai berjalan dari petilasan kediaman Mbah Maridjan menuju tempat labuhan di Sri Manganti, kaki Gunung Merapi.

Baca Juga : Kisah Suami yang Jatuh Cinta dengan Kekasih Istrinya, Ketiganya Hidup Bersama!

Setelah berjalan sekitar 1,5 jam, rombongan sampai di Sri Manganti. Uba rampe labuhan dari Keraton Yogyakarta yang akan dilabuh kemudian dikeluarkan dari kotak kayu tempat membawa barang labuhan.

Uba rampe yang terdiri atas Sinjang Cangkring, Sinjang Kawung Kemplang, Semekan Gadhung, Semekan Gadhung Mlathi, Semekan Bangun Tulak, Kampuh Poleng Ciut, Dhestar Dara Muluk, dan Paningset Udaraga masing-masing berjumlah satu lembar.

Sela (kemenyan), ratus (taburan menyan), dan liyah konyoh (minyak wangi), yatra tindhih (uang tindih) satu amplop, serta ses wangen (rokok harum) satu contong, dan kambil wathangan lalu digelar di atas altar labuhan.

Prosesi labuhan dilanjutkan dengan membakar sela ratus atau kemenyan. Ritual ini sebagai awal menghaturkan barang labuhan kepada Tuhan melalui penjaga Gunung Merapi, yaitu Empu Rama, Empu Ramadi, Gusti Panembahan Prabu Jagad (Sapujagad), Krincing Wesi, Branjang Kawat, Sapu Angin, Mbok Ageng Lambang Sari, Mbok Nyai Gadhung Mlati, dan Kyai Megantoto. 

Setelah itu dilakukan pembacaan doa yang dipimpin oleh pemuka agama. Mereka memanjatkan doa keselamatan, keamanan, kesejahteraan, dan ketenteraman wilayah DIY. Prosesi labuhan diakhiri dengan pembagian nasi berkat, lauk, dan jajanan pasar kepada abdi dalem dan masyarakat yang mengikuti prosesi.“Alhamdulillah, labuhan ini dapat berjalan dengan lancar,” ungkap Mas Asih seusai ritual Labuhan Merapi.

Baca Juga : Potret Messya Iskandar dalam Balutan Super Minim, Awas Gak Kuat Iman!

Selain di Gunung Merapi, labuhan dalam rangka hajat Ndalem Raja Keraton Yogyakarta ini juga digelar di Gunung Lawu, Karanganyar dan Tirtomoyo, Wonogiri, Jawa Tengah, serta Pantai Parangkusumo, Bantul. Untuk labuhan di Gunung Lawu dan Tirtomoyo, Wonogiri, waktunya bersamaan dengan di Gunung Merapi. Adapun di pantai Parangkusumo dilakukan sehari sebelumnya atau Sabtu (6/4).

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini