nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gaya Hidup Rendah Karbohidrat Bisa Jadi Pilihan Aman

Utami Evi Riyani, Jurnalis · Senin 08 April 2019 23:28 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 04 08 481 2040793 gaya-hidup-rendah-karbohidrat-bisa-jadi-pilihan-aman-KgkBvgacGW.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Selama ini masyarakat kerap mengindahkan gaya hidup rendah karbohidrat karena dianggap tidak berpengaruh bagi kesehatan. Padahal, gaya hidup tersebut dapat membantu meningkatkan kesehatan tubuh.

Untuk menyampaikan kepada masyarakat bahwa gaya hidup rendah karbohidrat adalah pilihan yang aman, Low Carb Indonesia (LCI) mengadakan Indonesia International Low Carb Conference (IILCC) 2019 yang diadakan di Indonesia International Institute for Life-Science (i3L), Pulomas Barat pada 6-7 April lalu. Bekerjasama dengan Low Carb USA, konferensi ini dibuka untuk umum dengan spirit satu langkah menuju kesadaran global.

“Adapun tujuan utama dari diadakannya IILCC 2019 ini adalah untuk mengokohkan kesadaran gaya hidup rendah karbohidrat kepada masyarakat secara ilmiah dan bisa menjadi salah satu pilihan gaya hidup yang aman," ujar Tyo Prasetyo, selaku penggagas LCI.

 

Dalam acara tersebut, LCI mengundang tujuh pembicara dari tiga negara, yakni Indonesia, Amerika Serikat, dan Australia. Dokter Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K) berbicara mengenai gaya hidup rendah karbohidrat dan ketosis. Ia juga menjelaskan bagaimana ketosis berbahaya dan bagaimana ketosis yang justru bermanfaat bagi tubuh.

"Ketosis menjadi alternatif yang menjanjikan bagi perbaikan kesehatan masyarakat yang didera dengan semakin meningkatnya penyakit-penyakit tidak menular yang membebani perekonomian individual dan negara," ujar Konsultan Jantung Anak di RS Cipto Mangunkusumo ini.

 Baca Juga: Tato Ini Bisa Kembalikan 'Hidup' Penyintas Kanker Payudara, Ini Kisahnya

Selain dr. Piprim, dr. Kobal Sangaji, SP.KFR dari RS Awal Bros Pekanbaru menyampaikan mengenai pembatasan kalori dan penuaan (aging) sel tubuh. Ia menjelaskan bahwa semua pola diet intinya adalah pembatasan kalori atau mengurangi makan sedemikian rupa sehingga terjadi defisit kalori dalam tubuh untuk mengejar manfaat-manfaat perbaikan sel tubuh.

 

"Namun dalam prakteknya, mengurangi makan tidak semudah yang dibayangkan. Makan terlalu sedikit saja sudah mengalami gejala macam-macam seperti keliyengan dan lemas," ujarnya.

Ia juga menjelaskan apa saja gejala sarcopenia, yaitu suatu fenomena hilangnya massa dan kekuatan otot seiring dengan pertambahan usia, dan ini merupakan bagian dari proses penuaan.

"Tidak ada yang bisa menghindar dari proses alami tersebut, namun ada yang bisa menunda lebih lama datangnya proses penuaan itu," lanjutnya.

Sementara itu, dr. Georgia Ede, MD yang pernah menjadi psikiatri di Harvard University Health Service, Amerika Serikat menjelaskan mengenai nutrisi dalam gaya hidup makan rendah karbohidrat dan ketagihan makan (craving for food). Ia menjelaskan bahwa menjalankan gaya hidup rendah karbohidrat berarti merendahkan prosentase nutrisi karbohidrat dalam makanan sehari-hari sedangkan tubuh membutuhkan semua nutrisi secara lengkap.

Namun ia juga menjelaskan bagaimana karbohidrat yang rendah itu cukup untuk membuat tubuh dapat berfungsi dengan optimal disertai oleh fakta-fakta yang menunjang secara ilmu pengetahuan.

 Baca Juga: 7 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Memutihkan Gigi

Selain ketiga dokter itu, ada dr. Asriningrum, Sp. S yang berbicara mengenai sumber atau root cause disease dari banyak penyakit yaitu adalah usus (gut) dan resistansi insulin. Dokter Eka Musridharta, Sp. S. KIC, MARS berbicara mengenai kesehatan saraf dan otak serta penuaan dini khusus pada saraf dan otak.

Dokter Eric C. Westman, MD, MHS berbicara mengenai obesitas dan diabetes yang dapat menghambat penanganan penyakit seperti pengeroposan tulang, persendia, hingga saraf terjepit. Sedangkan dr. Gary Fettke, MBBS, F.R.A.C.S .(Ortho), F.A.Orth.A. membahas tentang inflamasi dalam tubuh dan kanker.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini