nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Marak Tagar Justice for Audrey, Psikolog: Miris Bullying Malah Sering di Sekolah

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 09 April 2019 23:25 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 04 09 196 2041310 marak-tagar-justice-for-audrey-psikolog-miris-bullying-malah-sering-di-sekolah-37KLhpu3Xm.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

KASUS perundungan atau bullying yang dialami seorang siswi SMP di Pontianak menarik perhatian publik tanah air, bahkan dunia. Sebagaimana diketahui, siswi malang bernama Audrey di Pontianak menjadi korban perundungan yang dilakukan oleh 12 siswa SMA pada 29 Maret 2019. 

Cerita bermula saat Audrey dijemput oleh salah seorang siswi SMA dari rumah kakeknya. Tak lama berselang, korban dianiaya secara berjamaah. Rambut dijambak, disiram air, hingga kepala dibenturkan ke aspal. Ironisnya, alat vital korban juga menjadi sasaran kekerasan.

Komunitas Sudah Dong, Ajak Masyarakat Hentikan Aksi Bullying

Menurut Psikolog Meity Arianty, STP., M.Psi. kasus penganiayaan dan bullying yang kembali melanda ini adalah bentuk kurangnya psikoedukasi tentang bullying kepada guru-guru dan siswa-siswinya.

“Hal ini menjadi sangat penting karena kasus bullying justru banyak terjadi di sekolah yang seharusnya menjadi tempat anak-anak belajar dan mendapatkan nilai-nilai moral,” tutur Mei saat dihubungi Okezone via pesan singkat.

Mei pun mengutip data yang dikeluarkan oleh KPAI bahwa jumlah kasus di sektor pendidikan per 30 mei 2018 mencakup, tawuran 14,3%, kekerasan atau bullying 25,5%, dan putus sekolah 18,7%. Selain itu, ada beberapa alasan yang harus diketahui bersama, mengapa sebagian orang cenderung nekat melakukan bullying.

“Biasanya karena mereka kurang peka, mencari perhatian, modeling perilaku keluarga, mendapatkan reward karena membully, tidak ada kontrol emosi, pernah menjadi korban bully, cemburu, hingga frustasi,” tegas Mei.

Komunitas Sudah Dong, Ajak Masyarakat Hentikan Aksi Bullying

Tingginya kasus bullying di Indonesia secara tidak langsung juga mempengaruhi kualitas belajar para siswa. Fakta menyebutkan, lebih dari 160.000 anak membolos setiap harinya untuk menghindari bullying.

Lalu, hampir 10% siswa memutuskan untuk keluar sekolah atau pindah sekolah dengan alasan serupa. Selain kualitas belajar yang menurun, bullying juga menimbulkan dampak psikologis.

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa, siswa kelas VI yang menjadi korban bullying lebih mungkin mengalami krisis kepercayaan diri 6 tahun kemudian. Sementara anak-anak kelas VI yang mem-bully bisa menjadi sangat agresif dalam kurun waktu yang sama.

“Kebanyakan kasus yang datang ke saya 1 tahun belakangan ini remaja dan mahasiswa yang mengalami trauma karena kasus bullying. Bahkan, ada yang masih berjalan sesi terapinya sampai saat ini, dan harus saya pantau karena mereka mengalami krisis kepercayaan diri. Dari paparan di atas jelas permasalahan bulliying harus menjadi perhatian kita bersama,” tutupnya. (mrt)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini