nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kasus Audrey, Cinta Remaja Tidak Realistis yang Memicu Bully!

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Rabu 10 April 2019 02:17 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 04 10 196 2041333 kasus-audrey-cinta-remaja-tidak-realistis-yang-memicu-bully-pJ3ayo0uni.jpg Ilustrasi Bullying (Foto: Pixabay)

Kasus penganiayaan yang dialami Audrey menjadi tamparan keras bagi banyak pihak. Kasus tersebut juga menyadarkan kita akan pentingnya mendidik dan memberikan perhatian kepada anak-anak di masa remajanya.

Siswi SMP yang masih berusia 14 tahun itu kini tengah dirawat di rumah sakit usai dikeroyok 12 orang siswi SMA. Audrey menjadi korban penganiayaan yang diduga dipicu oleh masalah percintaan.

Baca juga :

Psikolog Meity Arianty, STP., M.Psi tidak memungkiri bahwa cinta memang bisa membuat seseorang menjadi tidak realistis, khususnya anak remaja. Namun, hal ini juga tergantung pada pribadi setiap individu.

“Biasanya anak remaja lebih tidak menggunakan logika dalam hal ini, sehingga lebih rentan untuk melakukan hal-hal di luar nalar dibandingkan dengan dewasa,” ujar Psikolog Mei saat dihubungi Okezone via pesan singkat, Selasa, 9 April 2019.

Mei mengatakan, sebetulnya cinta dapat menjadi motivasi dan hal-hal yang bermanfaat bagi para remaja. Sementara terkait kasus penganiayaan yang dialami Audrey, ia mengklaim bahwa sang pelaku bisa jadi kurang mendapatkan kasih sayang, perhatian, atau berasal dari keluarga yang ‘broken home’.

Bercermin dari kasus tersebut, itulah sebabnya remaja harus dibekali berbagai ilmu pengetahuan. Misalnya ilmu tentang kepercayaan diri.

“Dengan dia menghargai dirinya sendiri, maka dia akan menyayangi dirinya, menempatkan dirinya dengan baik sehingga hal-hal yang merugikan dirinya tentu tidak akan dilakukan, karena dia mencintai dirinya,” ungkap Mei.

Kasus ini juga tidak akan terjadi jika sang pelaku mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari keluarganya. Maka dari itu, peran orang tua di sini sangat penting, karena mereka lah yang menjadi ujung tombak bagi anak-anaknya terutama yang baru menginjak masa remaja.

Selain peran orangtua, tugas guru pun tidak kalah pentingnya. Guru yang menjadi orangtua ke dua bagi anak-anak, sudah seyogyanya mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai moral kepada anak didik mereka.

“Saya sendiri setiap kali mengajar mahasiswa, selalu menyelipkan nilai-nilai kemanusian dan bagaimana kita menjadi pribadi yang baik dan kuat. Karena tugas saya sebagai dosen bukan hanya mengajarkan mata kuliah, tapi bagaimana kita menjadi pribadi unggul,” pungkas Mei.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini