nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Najelaa Shihab Sebut Kasus Audrey Puncak Gunung Es

Dewi Kania, Jurnalis · Rabu 10 April 2019 18:31 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 04 10 196 2041625 najelaa-shihab-tanggapi-sikap-pelaku-pengeroyokan-audrey-bikin-geram-di-medsos-Njs2BliMmc.jpg Ilustrasi (Foto: Verywell)

Tagar Justice For Audrey sejak semalam menggema di media sosial. Bahkan para pelaku pengeroyokan Audrey dikomentari habis-habisan oleh netizen, karena sikapnya seolah tidak menyesali perbuatannya.

Audrey mengalami kekerasan fisik pada 29 Maret 2019. Pengeroyokan tersebut dilakukan oleh 12 siswi SMA di Kota Pontianak.

Perbuatan keji ini membuat Netizen geram, apalagi melihat sikap pelaku yang tak menyesal. Sampai di kantor polisi pun, pelaku membuat foto menggunakan feature boomerang sampai menantang Netizen dengan mengutarakan kata-kata "sok suci" di Instastory pribadinya.

Menanggapi hal tersebut, Pemerhati Pendidikan Najeela Shihab menilai bahwa dalam kasus kekerasan, anak sebagai pelaku sering kali adalah korban. Mereka butuh intervensi dan terapi untuk memahami nilai-nilai yang baik, agar bisa lebih peduli dan punya empati.

 

"Kalau pendekatannya hanya hukuman saja, maka justru akan memperbesar kemungkinan mereka tidak bisa keluar dari lingkar kekerasan dalam jangka panjang," ucap Najelaa Shihab saat dihubungi Okezone, Rabu (10/4/2019).

 Baca Juga: Terduga Pelaku Penganiayaan Audrey Posting "Boomerang" di Kantor Polisi, Psikolog Analisis Kejiwaan Mereka!

Dalam penanganan kasus hukuman atas perbuatan kekerasan fisik yang dialami Audrey, menurut Elaa, perlu keterlibatan pihak sekolah dan keluarga. Sebab, biasanya anak-anak yang jadi pelaku dan korban kekerasan, dipengaruhi oleh apa yang dicontohkan oleh lingkungan dan orang dewasa di sekitarnya, termasuk di media sosial.

Maka semuanya memerlukan refleksi, sebetulnya penyebab kasus Audrey ini kompleks dan multidimensi. Perlu ada reformasi menyeluruh dan jangan tunggu lebih banyak korban lagi. Baik korban murid maupun guru atau orangtua.

 Baca Juga: Mencari Keadilan untuk Audrey, Pelaku Kekerasan Seksual Masih Remaja Bisa Dihukum Pidana?

"Di satu sisi, kasus yang dialami Audrey ini sebagai puncak gunung es saja. Karenanya, ekosistem pendidikan Indonesia tingkat kekerasannya tinggi sekali," ucap Elaa.

Data tentang kekerasan dalam pendidikan di Indonesia begitu tinggi, sekira 26-27% anak mengaku menjadi korban di rumah dan sekolah. Kemudian 78% pernah jadi saksi atau terlibat. Kekerasan dalam pendidikan di Indonesia, hanya menjadi pembicaraan saat sudah ada korban fisik bahkan nyawa.

"Setiap hari di ruang kelas, guru dan murid berada dalam kekerasan psikologis, termasuk secara emosional dan seksual. Tapi gawat darurat di dunia pendidikan, tidak dirasakan," simpulnya.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini