nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Guru BK Ini Beberkan 8 Penyebab Seseorang Lakukan Bullying

Pradita Ananda, Jurnalis · Rabu 10 April 2019 19:16 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 04 10 196 2041683 guru-bk-ini-beberkan-8-penyebab-seseorang-lakukan-bullying-NlPSm7SIEo.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

SEJATINYA sesama manusia kita harus saling mengasihi dan menyayangi satu sama lain. Namun sayangnya, pemahaman ini tidak berlaku bagi semua orang. Masih banyak orang-orang yang nyatanya suka menindas orang lain, orang yang ia anggap jauh lebih lemah dan tidak berdaya.

Sadar atau tidak, contoh nyata kasus tindak penindasan atau tindak bullying sudah begitu familier terjadi di sekitar kita. Salah satu contoh terbaru adalah kasus tindak penganiayaan yang dialami oleh siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) AY (14) yang mana diketahui para terduga pelaku adalah 12 orang Sekolah Menengah Atas (SMA) di Pontianak, Kalimantan Barat.

Ditelisik lebih dalam, sebetulnya apa sih yang menjadi alasan yang dapat memicu seseorang untuk melakukan tindak penindasan terhadap orang lain. Berikut delapan penyebab seseorang bisa menjadi pelaku tindakan bullying, sebagaimana dikutip dari ulasan yang diunggah oleh Dita Juwita, seorang guru bimbingan konseling (BK) dari Lower Secondary Madania School, Bogor, Jawa Barat, dalam akun laman Twitter pribadinya (@sangjuwita), Rabu (10/4/2019).

1. Faktor internal

Untuk faktor internal ini maksud jelasnya adalah seperti rasa empati yang rendah, toleransi yang rendah, temperamen yang cenderung emosional, anger management (pengelolaan emosi marah yang rendah), hingga rendahnya pengendalian diri. Kepribadian ini membentuk seseorang menjadi pelaku bully (penindasan).

 

2. Faktor eksternal

Nah, untuk faktor dari luar alias eksternal, Dita menyebutkan ada banyak faktor. Mulai dari keluarga, teman sebaya, iklim sekolah, iklim lingkungan, media, dan sejarah pernah ditindas orang lain.

 Baca Juga:

Mencari Keadilan untuk Audrey, Pelaku Kekerasan Seksual Masih Remaja Bisa Dihukum Pidana?

3. Keluarga

Dita menuliskan dari kacamatanya sebagai seorang guru BK, biasanya para pelaku bully banyak yang berasal dari keluarga yang bermasalah. Misal, orangtua yang melakukan tindak KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), adanya kebiasaan menghukum anak secara berlebihan, atau mempunyai sanak-keluarga saudara yang agresif. Dari sini anak secara tidak langsung meniru dan melampiaskan ke orang lain yang lebih lemah.

4. Teman sebaya

Faktor yang disebutkan Dita begitu memberikan pengaruh, saking kuatnya ia menyebutkan bahkan seorang anak dari keluarga baik-baik saja bisa sekali terpengaruh dengan teman-temannya yang pelaku bully. Biasanya dilatarbelakangi oleh harapan agar bisa diterima oleh lingkungan teman-teman, atau sekedar agar dianggap keren.

 Baca Juga: Terduga Pelaku Penganiayaan Audrey Posting "Boomerang" di Kantor Polisi, Psikolog Analisis Kejiwaan Mereka!

5. Iklim sekolah

Suka atau tidak, faktor iklim sekolah juga ikut memengaruhi. Contohnya, di mana biasanya sekolah yang terlalu banyak murid, guru-gurunya kurang bisa mengurus murid-muridnya karena tidak fokus. Akhirnya, saat ada kasus bully akan sulit untuk atau diselesaikan dengan tidak tuntas. Akhirnya murid lain pun mencontoh dan menganggap jika hal tersebut adalah sesuatu yang wajar.

 

6. Iklim lingkungan

Tindak bully bisa terjadi di mana saja. Misal selain sekolah, kantor, kampus, komunitas, atau bahkan rumah sendiri. Iklim lingkungan yang ada itu berpengaruh banget, apalagi biasanya dari tahun ke tahun ada yang dinamakan “tradisi” bully. Contoh: OSPEK, atau MOS (masa orientasi sekolah).

7. Media

Tayangan sinetron sekarang misalnya, Dita menilai begitu banyak yang mengajarkan menindas orang lain. Dengan template, sosok yang tampan atau cantik, tajir, biasanya akan menindas yang bully yang kurang secara visual ataupun yang miskin. Akhirnya menimbulkan perseps, “Saya cakep, jadi boleh menindas orang lain,”

8. Histori pernah ditindas

Yup, sejarah yang berulang. Dita menyebutkan, tidak jarang dari pelaku bullying yang dulunya pernah ada di posisi sebagai korban bully. Entah di sekolah sebelumnya, atau bahkan di rumahnya sendiri. Sampai akhirnya, menyimpan dendam dan melampiaskan ke orang lain yang lebih lemah.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini