nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menilik Penyebab 12 Siswi Bisa Lakukan Kekerasan dari Kacamata Psikolog

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 11 April 2019 02:31 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 04 10 196 2041790 menilik-penyebab-12-siswi-bisa-lakukan-kekerasan-dari-kacamata-psikolog-2iiY3Rv8LE.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Kasus kekerasan fisik yang dialami Audrey masih menyisakan sejumlah teka-teki. Tak sedikit yang penasaran, apa yang membuat 12 orang siswi SMA nekat melakukan pengeroyokan kepada siswi SMP di Pontianak itu.

Menurut Psikolog Oriza Sativa, seiring berkembangnya zaman, kasus kekerasan fisik juga mengalami pergeseran. Terutama dalam 12 tahun belakangan ini.

“Tren memang bergeser. Setelah saya pelajari 12 tahun ke belakang, kekerasan remaja dan anak sangat marak. Contohnya penyiraman air keras, anak SD yang ditusuk dengan pensil,” tutur Oriza Sativa saat dihubungi Okezone via sambungan telepon, Rabu, 10 April 2019.

Lebih lanjut, Oriza menerangkan, kasus-kasus seperti itu tidak bisa lagi disebut sebagai kenakalan remaja. Hal ini karena perilaku sang pelaku sudah menyimpang dan bisa dikategorikan sebagai kriminalitas remaja.

 Baca Juga: Kenali Tindakan Bullying agar Kasus Audrey Tidak Lagi Terulang

Masyarakat pun diimbau untuk tidak menganggap remeh kasus-kasus seperti ini. Nah, pertanyaannya, faktor apa saja yang memicu terjadinya penyimpangan pada perilaku anak?

“Pertama pola asuh. Anak kurang diberi nilai-nilai hidup yang positif, contohnya dari cara mereka menghargai orang lain. Kalau dari paparan eksternal bisa dari banyak faktor seperti video games, lingkungan yang buruk, teman yang buruk,” ungkap Oriza.

 Baca Juga: Terduga Pelaku Penganiayaan Audrey Posting "Boomerang" di Kantor Polisi, Psikolog Analisis Kejiwaan Mereka!

(Oriza Sativa)

Dalam arti lain, orangtua tidak bisa begitu saja meremehkan keseharian anak-anak mereka. Aktivitas anak harus diperhatikan seperti dengan siapa dia bermain? Bagaimana karakter teman-temannya? Kalau teman-temannya punya sikap yang jahat, jangan-jangan anak Anda bisa berpengaruh.

“Istilahnya ‘you are what your friends are’. Kalau sudah dewasa kan ‘you are what you eat’,” kata Oriza.

Nalar seperti ini akan berkembang sempurna saat anak memasuki usia 18 tahun. Jadi ketika anak kurang dari 18 tahun, ia memiliki potensi besar terpengaruh teman-temannya.

“Makanya di rumah sakit saya, banyak orangtua yang bawa anaknya karena ngeluh anaknya enggak punya teman. Anak sekarang kalau saya amati resilin mentalnya sangat lemah,” tutup Oriza.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini