nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Marak Kekerasan pada Anak, KPPPA: Orangtua Harus Ketahui Konsekuensi Pemberian Gadget

Tiara Putri, Jurnalis · Kamis 11 April 2019 17:31 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 04 11 196 2042071 marak-kekerasan-pada-anak-kpppa-orangtua-harus-ketahui-konsekuensi-pemberian-gadget-S8XalHMhBk.jpg Ilustrasi (Foto: Huffpost)

Belakangan ini banyak kasus yang viral di media sosial sehingga mencuri perhatian dari masyarakat. Sebut saja kasus yang baru-baru ini terjadi yaitu tindak penganiayaan terhadap anak berinisial AY oleh sekelompok remaja perempuan di Pontianak, Kalimantan Barat.

Kasus ini semakin ramai diperbincangkan setelah ramai tagar #JusticeForAudrey. Banyak pihak yang meminta pihak berwajib menuntaskan kasus ini melalui proses hukum.

Bila dilihat, peranan media sosial dalam kasus ini membawa dampak positif karena turut menyuarakan keadilan bagi korban perundungan. Tapi di sisi lain, media sosial juga bisa membawa dampak negatif. Bahkan tidak menutup kemungkinan perilaku perundungan khususnya pada anak terjadi karena adanya konten-konten berbau kekerasan di media sosial.

 Baca Juga: Ifan "Seventeen" Unggah Foto Audrey Tanpa Disensor, Kak Seto: Sangat Tidak Dibenarkan

Menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise, media sosial merupakan salah satu ancaman terhadap orangtua menyangkut pengasuhan anak. Di era sekarang ini perilaku anak turut dipengaruhi oleh media sosial. Belum lagi anak bisa mencari informasi sebanyak-banyaknya dari internet melalui gadget yang diberikan oleh orangtuanya. Padahal belum tentu informasi yang mereka dapatkan benar.

 

Oleh karenanya, para orangtua diharapkan mampu meningkatkan elastisitas anak dalam penggunaan gadget termasuk media sosial. Orangtua juga perlu mengetahui konsekuensi dari pemberian gadget kepada anak dan mengajarkan cara menggunakan teknologi tersebut dengan baik. Bahkan orangtua perlu memahami tentang media sosial.

Sementara itu, menurut Sekretaris KemenPPA, Dr. Pribudiarta Nur Sitepu, MM, elastisitas anak diperlukan agar mereka tahu hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketika berada di rumah, sekolah, maupun masyarakat. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah bertatap wajah dengan orangtua setiap hari paling tidak 60 menit. Dari tatap wajah itu, orangtua bisa berbincang kepada anak mengenai kejadian yang dialaminya dan mendiskusikan berbagai hal.

“Dengan begitu, orangtua menjadi pihak yang pertama tahu kalau anaknya sedang ada masalah, depresi, mengalami bully, itu menjadi penting. Orangtuanya perlu mengobrol secara langsung, jangan hanya melalui gadget atau media sosial saja karena tidak bisa mengungkapkan seluruh perasaan anak,” ujar Pribudiarta saat ditemui Okezone dalam konferensi pers di Gedung KemenPPA, Kamis (11/4/2019).

 Baca Juga: Lihat Transformasi Briptu Eka saat Hamil dan Sebelum Hamil, Cantik Mana?

Selain dari anak dan orangtua, pihak lain seperti sekolah dan masyarakat juga memiliki peranan penting guna mencegah tindak kekerasan atau perilaku menyimpang lainnya pada anak. Sebagai contoh, guru di sekolah harus mempunyai kemampuan mencegah terjadinya kekerasan.

Kemudian di masyarakat perlu dibangun kelompok-kelompok perlindungan anak bahkan hingga tingkat paling dasar. Langkah ini dimaksudkan agar masyarakat bisa mengasuh anak termasuk menegur ketika ada perilaku menyimpang.

“Semua pemangku kepentingan di tingkat yang paling kecil harus aware terhadap perlindungan anak,” pungkas Pribudiarta.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini