Tausiyah Ramadan: 6 Amalan Perusak Pahala Puasa

Kamis 11 April 2019 19:50 WIB
https: img.okezone.com content 2019 04 11 196 2042232 tausiyah-ramadan-6-amalan-perusak-pahala-puasa-LhdwBCiGC1.jpg

BERPUASA di bulan Ramadan secara fikih diartikan menahan dari makanan, minuman, dan hubungan suami istri dari sejak fajar hingga matahari tenggelam. Namun, jika seseorang hanya menahan diri secara fisik saja, maka puasanya sebatas puasa fisik.

Sabda Nabi Muhammad SAW, “Berapa banyak orang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga.” (HR Ibnu Majah dan Ahmad)

Untuk menjaga kesempurnaan puasa yang secara dasar memiliki fondasi menahan diri dari makan dan minum serta berhubungan suami istri di siang hari, maka perlu diikuti hal-hal lain yang melengkapinya. Beberapa hal yang dapat merusak pahala puasa adalah:

1. Ghibah

Tak ada gunanya jika seseorang menahan diri dari memakan makanan yang halal sementara ia memakan bangkai saudaranya. Membicarakan aib saudara diibaratkan dalam Alquran dengan memakan bangkai saudaranya. (QS. Al-Hujurat 49:12)

2. Mencaci/Mencela

Hal ini bertentangan dengan semangat menjaga persatuan, karena cacian atau celaan adalah bentuk dehumanisasi. Puasa, selain memperbaiki hubungan vertikal dengan Allah SWT, juga merupakan upaya perbaikan hubungan horizontal antar-sesama manusia. Maka Allah tak memerlukan puasa seseorang yang menahan lapar dan haus tapi ia tak menahan diri dari mencela dan mencaci saudaranya, termasuk mereka yang menyakiti hati orang lain dengan mengungkit dan menghina orang yang diberi sedekah. Padahal Allah telah menghimbau untuk tidak melakukannya dan memberi balasan yang berlipat bagi yang bersedakah dengan baik.

3. Berdusta

Puasa adalah bentuk latihan serius untuk jujur pada diri sendiri. Dalam hadis qudsinya Allah menegaskan bahwa ibadah puasa hanya untuk Allah, “Aku-lah yang membalasnya”. Jika ia berdusta atau berbohong maka tak ada gunanya ia berpura-pura jujur dengan Allah. Abu Hurairah meriwayatkan sebuah hadis, “Siapa yang tak meninggalkan berkata dusta maka Allah tak memerlukan perbuatannya meninggalkan makanan dan minuman.” (HR Bukhori)

4. Berbuat Zalim

Secara umum berbuat zalim dilarang. Bahkan Allah telah mengharamkan diri-Nya dari berbuat menzalimi makhluk-Nya. Maka, berbuat zalim baik dengan lisan, tangan, kaki dan berbagai anggota tubuh lainnya kepada orang lain, bertentangan dengan spirit kasih sayang, ampunan, dan pembebasan dari murka Allah.

5. Berlebih-lebihan/Tabdzir

Orang yang mubadzir dalam segala hal, baik dalam mengonsumsi makanan atau minuman atau yang lainnya berakibat seseorang mendekatkan persaudaraan dengan setan (QS Al-Isra 7:27). Hal yang bertentangan dengan misi ibadah puasa; mendekatkan diri pada Allah dengan menjadi orang-orang bertakwa. Maka dimensi horizontal bertakwa di antaranya adalah dengan memupuk kepedulian dan kepekaan sosial, melalui semangat berbagi dan saling menolong.

6. Bermaksiat

Bermaksiat pada Allah, seperti tidak menjaga pandangan, pendengaran, mulut, kaki, dan tangan dari yang dimurkai dan dibenci oleh Allah.

Jika kita telah berusaha secara fisik kemudian diikuti menahan diri dari hal-hal di atas, serta diperindah dengan hiasan amal baik lainnya, seperti tilawah, sedekah, salat malam, zikir, dan berdoa, maka janji pengampunan dan pahala berlipat dari Allah menjadi sangat nyata.

Dan jika dilakukan secara masif dan serentak, maka kebaikan akan bergulir dengan cepat dan ringan. Terealisasilah doa ibadurrahman, “Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Furqan 25:74)

Bulan Ramadan akan melahirkan individu-individu bertakwa melalui usaha kesalihan kolektif dan berpotensi besar memunculkan pemimpin yang terbaik di antara orang yang bertakwa. (Oleh: Dr. Saiful Bahri, M.A - Dai PKPU, Wakil Ketua Komisi Seni Budaya Majelis Ulama Indonesia)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini