nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pernah Jadi Korban Bullying Bertahun-tahun, Wanda Ponika Berbagi Tips

Dewi Kania, Jurnalis · Kamis 11 April 2019 22:12 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 04 11 196 2042253 pernah-jadi-korban-bullying-putra-sahabat-veronica-tan-berbagi-tips-Zy8IviBoD9.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

KASUS bullying yang dihadapi AU (14) membuat banyak orang bersimpati dengannya. Salah satunya putra dari sahabat Veronica Tan, Wanda Ponika yang pernah menjadi korban bullying selama bertahun-tahun, Brandon Tanu.

Brandon Tanu tentu prihatin atas apa yang dihadapi gadis asal Pontianak itu. Brandon bahkan merasakan apa yang dialami AU. Siswa British School Jakarta tersebut mengungkap bahwa AU telah mengalami trauma berat. Hal itu tentu bakal sulit dilupakan dalam waktu cepat.

"Kasus ini bukan hal yang bisa kita lupakan sehari. Caranya mesti pelan-pelan untuk bisa melawan dan melewati," ujar Brandon lewat keterangannya, Kamis (11/4/2019).

Baca Juga: Ifan "Seventeen" Unggah Foto Audrey Tanpa Disensor, Kak Seto: Sangat Tidak Dibenarkan

Dia menjelaskan, kasus bullying yang dihadapi AU pasti sering terjadi di sebuah sekolah. Bullying sejak dulu sulit dibasmi, meski dampaknya akan sangat menyakitkan.

Bak kita mengumpulkan satu butir pasir dalam mangkuk, lama-lama jika ditimbun bisa jadi tumpah. Seperti itulah konsep bullying yang dihadapi Brandon, karena sering diamati saat ini. "Bully itu tidak bagus, apalagi perpeloncoan. Ini yang sedang terjadi pada saya dan bisa jadi penyakit di sebuah lingkungan," tambahnya.

Menurutnya, korban penganiayaan tiga tersangka itu harus bisa melawan rasa trauma yang dihadapi sekarang dengan adanya support system. Salah satu yang wajib melindungi dan mengubah perilaku Audrey adalah keluarga."Seperti saya, saat di-bully dulu beruntung ada support system dari ibu dan ayah saya, semua keluarga. AU juga harus dapatkan itu," katanya.

Agar kasus serupa tidak terjadi, Brandon berharap agar sekolah ikut terlibat memberantas bullying. Guru harus bisa dekat dengan murid, bukan malah dianggap menakutkan.

Fasilitas school counselor harus tersedia di masing-masing sekolah. Tempat inilah yang bisa membantu siswa-siswi untuk curahan hati untuk mencegah bullying.

Baca Juga: Pesona Bripda Marselina, Polwan Cantik yang Bikin Pria Rela Diborgol Hatinya

"Mungkin orangtua enggak ada di rumah, begitu juga dengan teman-temannya. Setidaknya guru banyak dilatih dan tahu dampak bullying. Guru dan murid itu harusnya seperti sahabat, bisa saling membantu dan jadi orangtua kedua yang bisa melindungi," ucapnya.

Dia juga berpesan kepada publik agar tidak membuat masalah ini jadi berlarut-larut. Misalnya dengan membully para pelaku di media sosial atau malah ikut menyebarkan berita hoax.

"Masyarakat harus menyadari jangan malah membully pelaku. Kita harus jaga itu, karena jangan sampai masa depan perempuan dirusak. Untuk pelakunya, serahkan saja hukumannya berdasarkan sistem di Indonesia, masyarakat jangan ikut-ikutan menghakimi," tutupnya.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini