nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

6 Hal Terjadi pada Tubuh jika Berhenti Berhubungan Seks

Dito Bagus Wibowo, Jurnalis · Kamis 11 April 2019 22:45 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 04 11 485 2042222 6-hal-terjadi-pada-tubuh-jika-berhenti-berhubungan-seks-LOHl3vnlS7.jpg Dampak pada tubuh saat berhenti berhubungan seks (Foto:Ist)

ADA kalanya seseorang tidak melakukan aktivitas seksual. Penyebabnya banyak, mulai dari sibuk, hidup seorang diri, atau memang memutuskan untuk rehat sejenak dari seks.

Rehat sejenak dari hubungan seks memberikan beberapa dampak untuk tubuh dan mental. Mulai dari rasa cemas akibat koneksi dengan pasangan yang melentur hingga meningkatnya risiko kanker prostat jika tak rajin masturbasi.

Baca Juga:

Lihat Transformasi Briptu Eka saat Hamil dan Sebelum Hamil, Cantik Mana?

Pesona Bripda Marselina, Polwan Cantik yang Bikin Pria Rela Diborgol Hatinya

Sebagaimana, Okezone melansir dari rd.com mengenai berhenti berhubungan seks akan membawa kerugian pada tubuh dan jiwa secara umum. Dan yang paling merasakan dampaknya adalah kaum hawa, Kamis (11/4/2019).

 

Kehilangan Libido

 

Seks merupakan nafsu birahi yang kuat, dimana kekuatan ini untuk meningkatkan suasana hati dan bahkan bisa mengecilkan pinggang pada diri Anda, bahkan seringnya berhubungan dapat meningkatkan umur panjang.

Sari Cooper, seorang terapis seks berpengalaman, mengatakan beberapa orang menahan diri dari seks mulai merasa lebih lamban, sedikit demi sedikit mulai tak tertarik dengan seks.

Cooper mengungkapkan kepada Reader's Digest bahwa beberapa kliennya menggambarkan turunnya libido tidak penting bagi mereka. Namun, itu tidak sama untuk semua orang. Selama periode di mana tak punya pasangan bercinta, orang seperti itu justru merasa butuh seks.

Merasa Kecewa

Kurangnya kontak fisik dengan pasangan membuat beberapa orang merasa dirinya tak berguna dan berujung dengan mudahnya kecewa.

"Ketika orang berhubungan seks, dipastikan akan memiliki kontak kulit. Kontak dengan tubuh adalah hal dasar manusia untuk merasa nyaman, seperti ibu dan bayi," kata Cooper.

 

"Berhubungan seks membuat banyak kontak tubuh pasangan, dan ini membantu menaikkan mood pasangan, karena biasanya mengeluarkan hormon oxytocin," ujarnya. Namun, studi menemukan kurangnya aktivitas seksual tidak menyebabkan depresi.

Meskipun penelitian telah menunjukkan bahwa depresi dan kurangnya hubungan seks saling terkait, ini mencerminkan suatu hubungan bukan sebab dan akibat.

"Jika Anda adalah orang yang sehat dan Anda berhenti berhubungan seks, Anda tidak akan menjadi depresi karenanya," kata Dr. Streicher.

 

Dinding vagina melemah

Dinding vagina melemah adalah tanda utama bagi wanita menjelang menopause. Jika secara radikal mengurangi seks saat bertambahnya usia, dinding vagina akan menipis dan bisa menyebabkan hubungan seks yang menyakitkan saat memutuskan untuk bercinta lagi.

Menurut masyarakat Menopause Amerika Utara mengatakan, pasangan yang tetap melakukan penetrasi untuk membantu kesehatan vagina selama masa menopause.

“Wanita yang lebih tua yanhg tidak melakukan hubungan intim lebih cenderung mengalami penipisan dan pengeringan jaringan,” kata Dr. Streicher. Sebagian besar dari ini ialah untuk meningkatkan aktifitas dalam aliran darah.

Kehilangan Lubrikasi

Bila sudah lama tak bercinta, vagina harus berjuang melumasi dirinya sendiri saat mulai berhubungan seks. Seperti penipisan pada dinding vagina, hal ini akan terjadi seiring bertambahnya usia wanita karena kurangnya hormon misalkan estrogen.

Jika Anda mengambil seorang wanita muda yang berusia 20 atau 30 tahun, ia akan memiliki banyak estrogen di sekitarnya untuk memastikan jaringan-jaringan itu tetap sehat, elastis dan dilumasi ketika ia tidak berhubungan seks,” kata Dr. Streicher.

Jika Anda seseorang berusia 60 dan tidak memiliki estrogen, Anda tak lagi memiliki minyak pelumas alami itu. Cooper mengatakan, “Pelumasan vagina berkurang seiring bertambahnya usia dan jika Anda sedang tidak diaktifkan melalui kesenangan diri, buku erotis dan beberapa video.”

 

Mudah stres

 

 

Sebagian orang menganggap bercinta bisa mengurangi stres. Maka, orang seperti itu akan mudah stres jika frekuensi bercinta berkurang.

“Orang yang kurang stres cenderung melakukan lebih banyak seks, tetapi sekali lagi ini adalah hubungan, bukan sebab dan akibat,” kata Dr. Streicher.

Satu penelitian kecil dari Skotlandia bahkan menunjukkan bahwa realitanya tekanan darah terhadap stress lebih rendah di antara orang-orang yang melakukan hubungan seksual dibandingkan dengan mereka yang abstain.

 

Dr. Streicher mengatakan, “Untuk beberapa wanita seks mengungkapkan bahwa mungkin akan menyakitkan dan bisa menjadi satu hal dalam daftar apa yang harus dilakukan.”

Mengalami kram menstruasi yang lebih buruk

Seks dapat membantu mengurangi kram, meskipun belum di teliti dengan baik. Dr. Streicher mengemukakan, "Rahim adalah otot dan banyak wanita benar-benar akan mengalami kontraksi rahim ketika mereka orgasme, yang akan menyebabkan darah dikeluarkan lebih cepat, yang pada gilirannya akan mengurangi kram menstruasi.”

Selain itu, mungkin ada peningkatan endorphin, yang juga akan membantu untuk mengatasi kram dalam menstruasi. Ini adalah manfaat tak terduga yang hilang jika Anda tidak berhubungan seks. Untungnya tidak memerlukan lawan jenis untuk menyembuhkannya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini