nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tausiyah Ramadan, Keistimewaan Malam Bulan Ramadan

Kamis 11 April 2019 18:48 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 04 11 612 2042192 tausiyah-ramadan-keistimewaan-malam-bulan-ramadan-nJQ7i8wmIM.jpg

Allah SWT menyebutkan banyak waktu di dalam Alquran; fajar, subuh, pagi, dhuha, siang, sore, petang, dan malam. Waktu malam adalah waktu yang paling banyak disebut di dalam Alquran. Selain dipakai untuk bersumpah, waktu malam juga dijelaskan sebagai waktu yang dipilih oleh Allah untuk menurunkan Alquran (lihat: QS. Ad-Dukhan [44]:3, QS. Al-Qadar [97]:1).

Allah juga memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk bangun malam, “Bangunlah (untuk salat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya)” (QS. al-Muzammil [73]:2). Karena bangun di waktu malam, mendirikan salat dengan bacaan Alquran di tengah malam, sangat berkesan dan lebih mengena untuk diresapi dan ditadabburi.

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. al-Muzammil [73]: 6). Maka barang siapa mencari ketenangan hidup dan kebahagiaan serta kemuliaan dari sumbernya, Dzat yang Maha Mulia, maka sebaiknya ia hidupkan malamnya dengan salat dan membaca Alquran.

Allah SWT berfirman, “Dan pada sebahagian malam hari bersalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’ [17]: 79).

Jika kondisi di atas adalah gambaran malam-malam secara umum, maka Allah SWT lebih mengistimewakan waktu malam di Bulan Ramadan. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa mendirikan (salat malam) di bulan Ramadan maka dosa yang telah dilaluinya akan diampuni” (HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah).

Dalam riwayat Imam An-Nasa’i ditambahkan, “dan dosa yang belum dilakukan”. Meskipun redaksi hadis di atas sebenarnya umum yaitu “qâma” yang berarti mendirikan perbuatan taat dan kebaikan secara umum. Namun, kata qiyam sering diidentikkan dengan salat malam. Dan salat malam di bulan Ramadan dan tidak dilakukan secara berjamaah dengan jumlah rakaat yang cukup banyak, dikenal dengan nama Salat Tarawih.

Hadits senada juga bisa dijumpai dengan redaksi yang sedikit berbeda, “Barangsiapa mendirikan (salat malam) pada malam lailatul qadar maka dosa yang telah dilaluinya akan diampuni” (HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah).

Salat pada malam hari setelah Salat Isya’ pada bulan Ramadan disebut Salat Tarawih, karena dikerjakan dengan beberapa waktu jeda. Sebagian besar ulama dan pakar hukum memilih jeda dengan salam setiap melakukan salat sunnah dua rekaat. Sebagian ada yang mengerjakannya sebanyak delapan rekaat dengan empat kali salam, ada juga yang melakukannya sebanyak dua puluh rekaat dengan sepuluh kali salam, dan ada yang menambahkannya lebih dari itu; kemudian ditutup dengan salat witir.

Rasulullah SAW pernah mengerjakan Salat Tarawih berjamaah selama tiga hari. Namun, setelah itu beliau mengerjakannya sendiri di kamar beliau tanpa berjamaah. Dikhawatirkan nantinya Salat Tarawih dianggap wajib hukumnya dan akan memberatkan orang setelahnya. Sejak saat itu kaum muslimin mengerjakan Salat Tarawih sesuai kesepakatan sebagian dengan berjamaah, sebagian besar mengerjakannya sendiri-sendiri.

Hingga pada masa khalifah Umar bin Khattab, terjadilah ijma’ sahabat bahwa Salat Tarawih dikerjakan secara berjamaah. Semenjak saat itu, kaum muslimin selalu mengerjakan Salat Tarawih secara berjamaah bagi mereka yang menyempatkan diri dan ada kelonggaran.

Salat Tarawih ini menjadi salah satu syiar penting untuk menghidupkan malam bulan Ramadan selain dengan tadarus dan tilawah Alquran. Dengan segala perbedaan fikih, maka perlu disimpulkan bahwa yang paling utama adalah menghidupkan malam Ramadan dengan ketaatan, terutama Salat Tarawih.

Jika digabungkan dengan bacaan Alquran yang tartil maka akan sangat baik, dan bila diselingi tadabbur dan penyampaian pesan serta tausiyah maka menjadi pelengkap kebaikan yang Allah karuniakan sejak pagi; makan sahur, Salat Subuh berjamaah, berpuasa, berzikir dan sedekah, berbuka dan kemudian shalat malam, serta tilawah dan diakhiri dengan mengingat pesan-pesan Allah.

Wahai pemburu kebaikan terimalah, wahai pelaku keburukan berhentilah. [Oleh: Dr. Saiful Bahri, M.A - Dai PKPU dan Wakil Ketua Komisi Budaya MUI]

(ful)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini